Benarkah Masturbasi Tidak Sehat ???

May 19th, 2005 by fahla

Hei, hei, bagi Anda yang suka melakukan seks swalayan alias masturbasi (atau onani) seringkali menyelinap pertanyaan seperti ini: Benarkah aktivitas itu tidak sehat?

Sebagian bahkan sampai was-was, jangan-jangan dengan masturbasi akan menyebabkan impotensi, masalah ereksi saat harus melakukan penetrasi ke organ wanita atau pengurangan testosteron. Nah, puyeng kan?
Sejatinya, tidak ada yang tidak sehat pada aktivitas masturbasi, dan tak punya dampak negatif pada kesuburan. Nah, masturbasi dapat menimbulkan masalah ereksi jika Anda melakukan aktivitas ini lima menit sebelum penetrasi. Terang aja dong, si’ adik’ kan sudah lemas duluan!

Hal yang sedikit mengganggu dalam masturbadi adalah dimesti psikologisnya. Namun ketimbang Anda jajan, lebih baik swalayan. Bebas dari penyakit menular seksual pula. Namun jika masturbasi sudah mempengaruhi keulaitas hidup, ini baru gangguan. Tapi sejauh ini tampaknya aman-aman saja melakukan swalayan, sepanjang Anda tak menggunakan alat bantu seks yang berbahaya.

Sesungguhnya, sebuah studi yang dipublikasikan di The Journal of the American Medical Association pada April lalu menegaskan bahwa masturbasi dapat menurunkan risiko pria mengidap kanker prostat. Cihuy! Data yang dikumpulkan dari 30.000 pria usia 46-81 menunjukkan bahwa mereka yang lebih sering ejakulasi memiliki risiko lebih rendah 33% terkena kanker prostat selama hidupnya. Nah lho!

Bugatti Veyron Tembus Kecepatan 400 Km per Jam

May 19th, 2005 by fahla

Bugatti_veyron_1
AKHIR bulan lalu, Bugatti Veyron melampaui kecepatan maksimum 400 kilometer per jam. Hasil itu dicapai saat Bugatti Veyron diuji coba di lintasan kecepatan tinggi di tempat uji lintasan Volkswagen di Ehra-Lessien. Uji coba itu dilakukan di bawah pengawasan TUV Suddeutschland (Otoritas Pengukuran Jerman), dan secara resmi ditera dengan alat pengukuran mereka yang presisi.
Bugatti Veyron menembus kecepatan 400 km per jam itu beberapa kali, dan dalam dua arah (searah jarum jam dan sebaliknya), sesuai dengan prosedur pengukuran resmi yang berlaku.
Volkswagen AG yang membeli perusahaan Bugatti beberapa tahun lalu kini bisa menepuk dada karena mereka berhasil mewujudkan obsesinya untuk menjadikan Bugatti sebagai mobil sport terkuat yang pernah dibuat. Tanpa pengecualian.
Bugatti_veyron_engine
Pada tahun 2004, Volkswagen AG menjanjikan bahwa mereka akan menjadikan Bugatti Veyron sebagai mobil super yang spektakuler. Untuk itu, Volkswagen AG melengkapi Bugatti Veyron dengan mesin berkapasitas 8.0 Liter (8.000 cc), 16 silinder, serta akan menghasilkan tenaga maksimum 1.001 PK dan torsi maksimum 1.250 Nm.
Dengan tenaga sedahsyat itu, Bugatti Veyron dijanjikan akan dapat berakselerasi dari 0-100 km per jam dalam waktu 3,4 detik, 0-160 km per jam dalam waktu 6,3 detik, dan kecepatan maksimumnya sekitar 354 km per jam.
Namun, dalam uji coba akhir bulan lalu, ternyata kecepatan maksimum yang dapat dicapai Bugatti Veyron jauh di atas target 354 km per jam yang dijanjikan. Buggati Veyron bahkan melampaui kecepatan 400 km per jam. Sayang data kemampuan akselerasinya tidak dicantumkan.
Aerodinamis bodi Bugatti Veyron yang didesain secara khusus untuk menghasilkan gaya tekan (downforce) yang besar sehingga mobil itu menapak secara baik di permukaan jalan. Mobil itu juga dilengkapi dengna spoiler khusus di belakang yang muncul saat mobil dipacu dengan kecepatan tinggi.
Bugatti Veyron memiliki panjang 4,47 meter, lebar 2,0 meter, dan tinggi 1,22 meter. Dengan kata lain, Bugatti Veyron sangat lebar apabila dibandingkan dengan tingginya.
PERTANYAAN yang segera muncul ke permukaan adalah berapa liter bensin yang dikonsumsi mesin yang memiliki tenaga dan torsi sedahsyat itu? Secara teoretis sebuah mesin yang menghasilkan tenaga maksimum sekitar 1.000 PK saat bekerja secara penuh akan melahap bahan bakar sebanyak 5 liter per menit, atau sekitar 300 liter per jam.
Dengan demikian, jika Bugatti Veyron dipacu dengan kecepatan 400 km per jam, maka setelah satu jam mobil itu menempuh perjalanan sejauh 400 km. Dan, itu setara dengan 300 liter bahan bakar. Dengan kata lain, Bugatti Veyron menghabiskan 1 liter bahan bakar untuk menempuh perjalanan sejauh 1,3 km.
Akan tetapi kenapa harus takut? Kalau bisa membeli mobil yang harganya diperkirakan 1 juta dollar AS (sekitar Rp 9,4 miliar), mengapa harus takut untuk membeli bensin.
Berdasarkan hitung-hitungan di atas kertas, diperlukan mesin berkapasitas 16 Liter (16.000 cc) untuk menghasilkan tenaga maksimum sekitar 1.000 PK, tetapi gagasan itu ditepis oleh petinggi Volkswagen AG karena dianggap terlalu besar. Mereka menilai 8.0 Liter adalah kapasitas mesin yang dianggap ideal. Terpaksalah para teknisi memutar otak untuk menggandakan tenaga maksimum yang dihasilkan mesin yang memiliki kapasitas 8 Liter. Hasilnya adalah memasang turbocharger. Dan, tidak tanggung-tanggung, untuk menyamakan tenaga yang dihasilkan oleh mesin dengan kapasitas 16 Liter, mesin yang berkapasitas 8 Liter itu memerlukan empat unit turbocharger.
Itu belum semua. Untuk menjaga agar batas putaran maksimum mesin tetap tinggi (batas garis merah) dan menjamin penyaluran tenaga berlangsung mulus (tanpa jeda) saat pedal gas (akselerator) diinjak penuh, maka para teknisi membuat mesin dengan 16 silinder. Dan, untuk membuat pembakaran mesin berlangsung efisien, mesin 16 silinder itu dilengkapi dengan 64 katup, atau 4 katup per silinder.
Semula ada pemikiran untuk menyusun 16 silinder itu dalam konfigurasi V (8 silinder-8 silinder), tetapi kemudian dianggap mesin itu akan terlalu panjang. Akhirnya, 16 silinder itu disusun dalam konfigurasi W (6 silinder-4 silinder-6 silinder) sehingga lebih kompak. Mesin Bugatti Veyron panjangnya 71 sentimeter (cm), lebar 88,9 cm, dan tinggi 73 cm.
Penyusunan silinder dalam konfigurasi W bukanlah hal yang baru bagi para teknisi Volkswagen, beberapa mobil keluaran Volkswagen AG telah menggunakannya, yakni Passat W8 dan Phaeton W12.
Bahkan, Bentley, perusahaan pembuat mobil papan atas Inggris, yang bergabung dalam keluarga besar Volkswagen, menggunakan mesin W12 pada Bentley GT Continental.
UNTUK menjamin agar penyaluran tenaga dan torsi mesin itu berlangsung mulus sampai ke keempat roda (penggerak empat roda), maka Bugatti Veyron dilengkapi dengan persneling otomatik dengan 7 tingkat kecepatan, yang sepenuhnya dikendalikan oleh komputer. Persneling otomatik Bugatti Veyron juga dilengkapi dengan tiptronic atau sequential shifting, yang memungkinkan pengendara menaikkan dan menurunkan gigi persneling secara manual tanpa kehadiran pedal kopling.
Besarnya torsi yang dihasilkan oleh Bugatti Veyron membuat tidak mungkin torsi itu disalurkan ke kedua roda tanpa menimbulkan spin yang berkepanjangan. Yang dimaksudkan dengan spin adalah roda penggerak berputar lebih cepat dari roda-roda lain. Dengan menyalurkan tenaga dan torsi secara permanen ke keempat roda, dan dengan sistem kendali traksi (traction control) yang sepenuhnya dikendalikan oleh komputer, maka mobil dapat melaju secara halus dan mulus. Bahkan, saat mobil sedang berakselerasi dengan kekuatan penuh.
Bugatti_veyron_wheel
Bugatti Veyron pun menggunakan ban yang didesain secara khusus oleh Michelin, yang tahan untuk dipacu dalam kecepatan lebih dari 400 km per jam.
Bukan itu saja, Bugatti Veyron juga menggunakan run flat tyre sehingga mobil tetap dapat dijalankan sejauh 200 kilometer pada kecepatan 80 km per jam dalam keadaan bas gembos (kempis), atau tanpa tekanan udara sama sekali. Saat ban kehilangan tekanan, indikator tekanan ban akan menginformasikan pengendara sehingga langsung menurunkan kecepatan menjadi 80 km per jam.
Bugatti_veyron_interior
Interior Bugatti Veyron yang didominasi kulit dan pelapis aluminium sangat mewah. Tidak kalah dengan interior Rolls-Royce. Itu tidak mengherankan, mengingat pada akhir tahun 1920-an dan awal tahun 1930-an Bugatti Royale dijual dengan harga 40.000 dollar AS, sedangkan sebuah Rolls-Royce pada masa itu harganya kurang dari 10.000 dollar AS
Bugatti_veyron_buntutnya

Kisah Para Penantang yang Terpental - di PDIP

April 6th, 2005 by fahla

Karikatur3
Masihkah kita menerima kepanjangan PDIP sebagai Partai DEmokrasi Indonesia Perjuangan ????
ataukah kita telah berani mengubah PDIP sebagai Partai Dengan Ibu (Mega) Preman ????
Maksudnya adalah ….. Partai ini mengedapankan sosok ibu yang lain dari yang lain. Dialah sosok topeng ketenangan yang di dalamnya berkobar nafsu seorang preman. Hal ini sebagai sifat dasar ia sebagai sosok panutan partai preman. Partai beringas yang tanpa otak.

Politikus PDI Perjuangan Eros Djarot punya istilah menarik untuk menggambarkan Megawati dalam komunitas partainya. “Dalam PDIP, Megawati itu manusia setengah dewi, superwoman, apabila didekati dalam jarak tertentu, bisa nyetrum,” katanya. Eros membuat gambaran itu saat bersiap mencalonkan diri menjadi ketua dalam Kongres I PDI Perjuangan pada tahun 2000 di Semarang, Jawa Tengah. Meski menyatakan siap menantang sang bos, sutradara film ini sadar risiko. Berbagai ganjalan sudah menghadang sebelum Eros berangkat ke medan pertempuran.

Keberanian Eros mengundang decak kagum sebagian warga partai. Namun, tak sedikit yang mencemoohnya karena dia dianggap kelewat lancang. Bahkan tudingan tak tahu diri sempat dialamatkan kepada dirinya. Berbagai tanggapan ini bisa dilihat dari kiprah Eros di PDI Perjuangan. Selama Pemilu 1999, Eros memang tak terlihat aktif berkampanye. Dia lebih banyak berada di balik layar kepemimpinan Mega. Bahkan Eros boleh dianggap sebagai salah satu pemikir kiprah Megawati memimpin partai.

Kesiapan Eros menantang putri Bung Karno itu ternyata tak berjalan mulus. Mereka yang menentang langkahnya mencoba menghalanginya dengan berbagai cara. Salah satunya menggagalkan rencana keberangkatannya ke arena kongres. Pada mulanya Eros lolos sebagai utusan karena dirinya terpilih dalam konferensi cabang khusus di Jakarta Selatan. Namun, status keanggotaan dan alamatnya dipertanyakan. Halangan tak hanya sebagai peserta. Untuk menghadiri pembukaan kongres pun ia dilarang oleh satuan tugas (satgas) PDI Perjuangan.

Larangan datang ke arena kongres sudah ia terima sejak di luar arena. Beberapa simpatisan dan satgas partai menyanyikan lagu dengan lirik dan nada kurang nyaman: “… siapa yang bukan Mega harus mati….” Lagu bernada ancaman ini tentu saja membuat Eros berpikir seratus kali untuk memaksakan diri masuk arena kongres. “Saya sudah menyamar seperti anggota yang lain, tapi tetap ditolak,” kata sutradara film kelahiran Rangkasbitung, 22 Juli 1950, ini.

Rencana Eros maju ke kongres sebenarnya dilandasi keinginan agar tidak terjadi sakralisasi terhadap Megawati. Bahkan jangan sampai ketua umum partai dikeramatkan dan tidak bisa disentuh. Namun, keberaniannya mencalonkan diri dianggap dosa tak terampunkan oleh warga partai. Dosa seperti ini pula yang mesti ditanggung Dimyati Hartono, politikus lain yang juga maju ke bursa ketua umum.

Profesor hukum Universitas Diponegoro Semarang ini sebenarnya lebih dikenal warga PDI Perjuangan di lapisan bawah. Kiprahnya selama masa kampanye membuat bintangnya cukup benderang. Dia salah seorang Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan yang paling sering tampil di media membela Megawati. Bahkan, saat Mega keliru memahami konsep negara federal, Dimyati tampil habis-habisan sebagai pembela. “Kalau jadi negara federal, kan, repot. Mau ke Jawa Timur saja harus pakai paspor,” kata Megawati dalam pidato politiknya di Stadion 10 Nopember Surabaya.

Pembelaan Dimyati seperti hilang begitu saja saat dirinya maju ke bursa ketua umum dalam Kongres I PDI Perjuangan di Semarang. Ahli hukum kelautan ini dianggap tak tahu diri dan kelewat lancang menantang Mega. “Saya hanya ingin agar Bu Mega berkonsentrasi sebagai wakil presiden,” katanya. Alasan yang cukup masuk akal itu tak bisa diterima sebagian besar warga Banteng. Keberanian Dimyati harus dibayar mahal. Seusai kongres, dia terpental dari kepengurusan. Pada akhirnya dua penantang Megawati ini harus angkat kaki dari kandang Banteng.

Roy BB Janis: Penetapan Megawati, Pelanggaran Agenda
Kamis, 31 Maret 2005 | 15:53 WIB
TEMPO Interaktif, Sanur: Ketua DPP PDIP demisioner, Roy BB Janis menganggap terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum untuk yang ketiga kalinya, cacat prosedur. Menurut Ketua Panitia Nasional Kongres II PDIP ini, pimpinan sidang tak seharusnya main ketok palu. “Belum waktunya pemilihan kok sudah diputuskan. Itu pelanggaran agenda namanya,” kata Roy, Kamis (31/3).

Megawati terpilih secara aklamasi karena dia mengantongi dukungan 97 persen. Di dalam tata cara pemilihan, seorang calon akan langsung ditetapkan menjadi ketua umum terpilih apabila mencapai 75 persen. Seharusnya, sidang yang dipimpin Frans Leburaya, beragenda membahas hasil sidang-sidang komisi. Hal itu tidak dapat diubah begitu saja.

Namun sesaat setelah juru bicara komisi organisasi
turun dari podium, peserta Kongres berteriak-teriak
agar pimpinan sidang segera menetapkan Megawati
sebagai ketua umum. Alasannya, mayoritas cabang atau
97 persen telah bersepakat. Selain itu di dalam Kongres juga tidak ada calon lain.

Desakan tersebut ternyata direspon Frans dengan menawarkan untuk menetapkan Megawati secara aklamasi
meski sejumlah daerah seperti Papua, Jawa Barat dan
Sumatera Selatan tidak setuju dan memilih menunggu
hingga akhir. Namun protes daerah-daerah itu tidak
dihiraukan Frans.

Bienveue, Aryani juga Sekian Rindu

April 6th, 2005 by fahla

Katie_holmes_sexy_bo
AKU masih ingat betul malam itu, pukul sepuluh lewat lima belas menit, malam yang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Sebagaimana biasanya, aku akan menghabiskan malam seperti itu sendiri, libur dari kerjaku di Pub De L’etoile. Aku akan datang ke pub atau bar yang lain untuk menikmati musik, terutama musik-musik hitam –begitu orang-orang di sini menyebutnya. Aku sangat suka dengan satu saksofonis di Boulevard Rochereau, tidak jauh dari Sacred Cœur Monmartre yang terkenal itu. Richard, nama sang saksofonis, begitu mampu menyentuh bagian-bagian paling peka dari Muddy Waters, John Lee Hooker, BB King, atau karya-karyanya sendiri. Ingin benar sesungguhnya tampil berdua dengannya. Tapi aku sadar, jenis suara kami sangat tidak cocok untuk dipertemukan.
Malam itu, aku memang mendengar beberapa karya dari Billie Holliday atau Nat King Cole dimainkan secara tidak buruk oleh seorang pianis. Kukira keturunan Maluku atau Irian, karena ketika ia mengatakan akan menyanyikan I wonder who’s kissing her now-nya Ray Charles, tak berhasil ia menekuk langgam Afrika di lidahnya, sebagaimana memang ia maksudkan. Tapi bukan karena lagu itu kemudian aku menjadi romantis. Namun, hampir di ujung lagu tersebut, datang seorang pria ke mejaku. Dapat dibayangkan: ia membawa sebuah bunga.
Aku tak tahu arti bunga itu. Lelaki dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun itu, menyerahkan bunga sambil menawarkan diri jika aku perlu seorang teman. Aku tak punya alasan untuk keberatan, karena memang tengah malam sudah jauh terlewat, dan ada pula nafsu memenuhi rasa ingin tahuku. Betapapun, peristiwa ini cukup mengejutkan, hanya dua hari setelah aku tiba di kepulauan cantik ini. Ia memperkenalkan diri sebagai Wayan, seorang pemandu wisata. Yang mengejutkanku, lebih dari soal bunga itu, Wayan mampu berbahasa Inggris, Prancis, dan Spanyol, bahkan Jepang, dengan begitu licin, tanpa sekalipun ia mendapat pendidikan formal untuk itu. “Mau tak mau, itu sudah menjadi kebutuhan profesional,” katanya pendek. Dengan tangannya yang lincah ia menceritakan bagaimana ia pelajari itu semua dari rekan, turis, atau kliennya yang datang dari seluruh penjuru dunia.
“Lalu inilah salah satu caramu untuk menarik klien?” kataku sambil melirik bunga dan wajahnya yang setengah gelap ditimpa cahaya.
Wayan tergelak. “Jujur saja, bunga itu aku peroleh dari seorang teman, pemilik toko bunga. Aku tak tahu harus kualamatkan pada siapa. Dan kebetulan kulihat Anda. Sangat jarang, wanita pribumi yang cantik dan anggun seperti Anda, berani sendiri hingga lewat tengah malam di kota ini.”
Aku tersenyum seperti menduga kejujurannya. “Caramu yang kedua ini, tentu sangat ampuh menarik klien.”
Wayan kembali tergelak. “Aku tak pernah memuji. Bahkan karya-karya bersejarah di Bali yang begitu dikagumi ini.”
“Tapi di tempat ini juga kau sering mendapat klien baru?”
“Tidak juga. Kebetulan, anak pemilik kafe ini kenalan baikku.”
“Oh.”
Kami lewatkan malam itu tak hingga fajar. Wayan terkejut saat kuberitahukan bahwa malam itu hari ulang tahunku. Ia mengatakan dengan yakin, “Kita dipertemukan oleh nasib.” Satu keyakinan yang hingga detik ini masih terasa asing untukku. Ia tentu akan lebih terkejut jika kukatakan aku datang ke negeri ini menggunakan paspor Prancis, yang sudah lebih dua puluh tahun kupegang. Tapi tak ada pikiranku untuk mengatakan hal itu.
Yang jelas, sejak saat itu, Wayan memang menjadi pemandu perjalananku. Aku tidak pernah memintanya datang ke tempat-tempat bersejarah, yang sudah sangat kuhafal lewat buku-buku atau dapat kudatangi sendiri. Dalam kesempatan pendek ini, aku mengharapkannya dapat mengajakku masuk ke daerah-daerah di mana dapat kukenal orang Bali yang sesungguhnya. Wayang tertawa mendengar permintaanku. Ia mengatakan, di seluruh sudut Bali ini aku dapat menemukan orang Bali yang sebenarnya.
Aku bersikeras, bagiku Kuta, Nusa Dua, Denpasar, dan yang lainnya bukan Bali yang kubayangkan dan kupahami. Wayan mengatakan, secara fisik mungkin Bali berubah, tapi orangnya, tidak sama sekali.
“Kau bilang ingin mengenali orang Bali sebenarnya, kan?” tanyanya.
“Tentu saja”.
“Apa aku tak tampak sebagai orang Bali sesungguhnya?”
“Tentu saja, kau orang Bali.”
Wayan tergelak lagi. Aku senang caranya menarik tawa itu. Dari cara itu aku memang melihatnya lebih ‘bebas’ dari orang Bali lainnya. Tapi, di beberapa desa, begitu pula cara mereka tergelak. Selebihnya, Wayan adalah Bali. Hingga di lain saat aku mengetahui, Bali turun dari darah ayahnya, sementara ibunya orang Minangkabau. Sepengetahuanku, ini kombinasi yang menarik. Tapi aku tak pernah menanyakan hal itu pada Wayan.
Betapapun, Wayan tetap mengajakku masuk ke beberapa sudut desa. Termasuk Desa Trunyan di seberang Danau Batur, yang sepanjang kutahu berdiam penduduk awal atau orang asli Bali. “Mereka bukan orang Bali asal,” tukas Wayan pendek. “Mereka orang Sala.”
Aku tak bertanya lebih lanjut, bukan karena tak tertarik. Justru sebaliknya, kata terakhir itu begitu berarti untukku, karena kota itu menjadi salah satu tujuan utamaku, karena di sana pula ayahku dulu lahir. Konon sebagai kerabat atau anggota keluarga istana. Entah dari keraton yang mana. Terlalu banyak hal menarik yang kujumpai, tak memberiku kesempatan untuk bertanya lebih lanjut tentang Sala.
***
Di Tabanan, tempat kelahiran pengarang Putu Wijaya, yang terjemahan bukunya kubeli dua tahun lalu di Paris, aku sempat menghadiri sebuah rapat desa yang begitu ribut. Beberapa warga tampak menuding seseorang yang terduduk menunduk. Seorang wanita dengan dua perempuan kecil, kukira keluarganya, memperhatikan lelaki tertunduk itu dengan wajah yang bercampur sesal dan harap. Kasusnya: pencurian air. Lelaki tertunduk itu dianggap telah merusak subak.
Lelaki tertunduk itu tidak membantah. Ia mengaku terpaksa melakukan itu untuk mengairi sawahnya yang baru. Semua warga tahu kalau lelaki itu belum dua bulan datang ke desa itu. Dahulu memang ia warga di situ, tapi sudah sejak lima belas tahun yang lalu ia pindah ke Surabaya, untuk kerja di sebuah pabrik elektronik. Dan terbongkar di situ, tanah yang ia garap sesungguhnya bukan miliknya sendiri, tapi milik majikannya di Surabaya, yang konon kini kabur entah ke mana setelah memecat 4.000 pegawainya.
Pertemuan yang berlangsung hingga lewat tengah malam itu, disudahi dengan wejangan seorang pedanda. Pendeta tua itu sempat menyinggung beberapa orang untuk tidak tergesa menghunus keris, karena keadaan keseluruhan memang tengah kritis. Wayan tidak sepenuhnya menerjemahkan penutup dan keputusan rapat tersebut. Ia pun tampak khusyuk mendengarkan uraian dari pedanda. Saat pulang ia hanya berkata pendek di balik senyumnya, “Ini semata karena krisis.”
Penjelasan pendek itu pula yang ia berikan padaku, saat kulihat beberapa lelaki dan hansip menahan seorang ibu yang berteriak-teriak sambil mengucurkan air mata pada seseorang di dalam sebuah pick-up yang membawa motor di atasnya. Motor itu tidak lain milik sang wanita yang berteriak, dan harus disita karena sudah tidak mampu membayar cicilan kreditnya selama tujuh bulan terakhir. Semula ibu itu memohon-mohon karena motor itu satu-satunya sumber penghasilan sang suami yang mengojekkannya. Tapi petugas sita tak memedulikan, “Sudah lebih tiga kali kami memperingatkan. Dan ini sudah perjanjian,” begitu kata petugas sita. Dan ia langsung kabur dengan kecepatan tinggi, saat sang ibu mulai memaki-maki dengan keras bahkan melemparinya dengan batu. Beberapa tetangga berusaha menahan sang ibu. Dan sang suami? Duduk di pojokan dekat pohon bambu, memangku anak lelakinya empat tahunan. Matanya kosong.
Aku pun menggunakan penjelasan pendek itu lagi, berkaitan dengan seorang gadis cantik, bernama Sadrini Manik. Di depan kamar hotel sederhana (sebuah guest house, mereka menyebutnya) di Ubud, tempatku menginap, aku melihatnya memunguti bunga kemboja yang kemudian ia jalin di rambut atau sebagai kalung di lehernya. Ia tahu aku memperhatikannya, dan tiba-tiba ia mendatangiku dan menyelipkan dua tangkai kemboja di kedua sela telingaku. Aku tersenyum dan berterima kasih.
Sadrini sungguh anak yang menarik. Belum lepas sekolah dasar ia sudah bisa menyatakan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris. Ia bercerita bahwa ia harus keluar dari sekolah karena ayahnya tak lagi dapat membiayainya hingga ke sekolah menengah. Bahkan ia takk bisa ikut ujian akhir yang harusnya dilakukan bulan lalu. Sambil bercerita, Sadrini tak keberatan memakan roti sarapanku. Bahkan dengan senang ia menerima sekadar uang jajan yang kuselipkan di kantong roknya. Aku mempercayai kecerdasan, kecantikan dan ceritanya mengenai keluarganya. Aku pun mempercayai kemampuannya untuk lenyap dalam waktu cepat hanya ketika aku pergi ke toilet. Ia hilang tidak sendiri: tapi dengan dompetku.
Wayan tidak memercayai kejadian itu. Ia tak mengenal Sadrini. Sedang anak-anak yang ia kenal, menurutnya, tidak seperti itu. Entah jika sekarang berubah, tanyanya seperti pada diri sendiri. Sampai akhirnya, menjelang sore, seorang pemilik toko mengantarkan dompetku, yang ia temukan di tempat sampah depan tokonya. Berbagai kartu dan surat penting masih ada, tentu saja kecuali uang. Malah bertambah satu surat kecil bertuliskan, “Maafkan saya” dan setangkai kamboja yang telah mencokelat. Aku meyakini Wayan bahwa kepercayaanku pada kecerdasan Sadrini tidaklah salah.
Wayan beberapa kali menyatakan penyesalan. Aku mencegahnya, karena memang uang yang hilang tidaklah terlalu banyak. Wayan mengajukan biaya panduannya beberapa hari tak perlu dibayar untuk kerugian itu. Aku menyampaikan kekagumanku pada kehormatan dirinya, dengan memberikannya sebuah T-shirt menarik bertuliskan, “Believe it or not, it was happened”. Wayan tak mampu menolak, karena aku pun mengancam akan menolaknya jadi pemandu.
Sejujurnya, sebagai pribadi, Wayan telah mendapat respekku. Ia memberi banyak pengalaman, yang juga personal, selama satu minggu aku di Bali. Tapi aku tak dapat meluluskan permintaannya untuk mengantarku hingga Pasuruan tanpa biaya. Bukan karena aku tak senang dan tak terbiasa dengan segala hal yang gratis, tapi aku memang sudah mempersiapkan diri memasuki Jawa tanpa panduan, kecuali emosi dan daya khayal yang telah kubangun puluhan tahun. Aku mencium pipi Wayan sebelum menaiki feri, sambil berjanji –juga pada diriku sendiri– untuk kembali di minggu terakhir liburanku.
***
Aku memilih Pasuruan, tak lebih karena kota itu menjadi tempat pertemuan kedua orang tuaku, dan di situ pula ayahku mendapat gemblengan agama yang keras dari seorang kiai yang ternama. Aku merencanakan tidak menetap lama di kota itu, satu atau dua hari. Karena aku masih harus ke Sala, mungkin juga ke Yogya dan Magelang, sebelum akhirnya ke Jakarta, kota di mana aku dilahirkan tiga puluh tujuh tahun yang lalu. Tapi rencana itu meleset sangat jauh, dan aku harus tinggal di kota itu selama tiga belas hari, hanya karena aku harus berkenalan dengan dua nama: Tejo dan Sumiani.
Tejo, seorang bertampang pelajar yang menarik, fanatik, dan… simpatik. Di usia ke-32 ia belum hendak menikah karena menekuni sejarah Jawa dan merasa belum menemukan “apa atau siapa orang Jawa yang sebenarnya”. Pertanyaan itu cukup sudah membuatku tertarik. Tapi yang lebih menarik saat ia kutemukan pertama kali di sebuah gua. Gua Rama, namanya, sekitar 60 atau 80 kilometer dari Pasuruan. Gua itu tempat ziarah yang lebih banyak dipenuhi oleh orang India. Hal itu yang membuatku tertarik mendatanginya: ada apa antara gua itu dengan India?
Jawabannya kutemukan pada Tejo, yang saat itu tengah membicarakan sejarah gua tersebut dan menjelaskan hubungannya dengan sejarah Jawa, Majapahit, serta kaum Brahman yang datang ke Indonesia sejak abad pertama masehi. Beberapa pertanyaan kuajukan karena rasa tertarikku. Hingga aku tak sadar telah mendominasi pembicaraan, dan kami terlalu asyik, tak menyadari hampir seluruh pengunjung telah pulang. Saat menyadari hal tersebut, kami tersenyum bersama. Ia menawarkan untuk ikut bersama mobilnya ke Pasuruan. Dengan senang hati aku tidak menolak.
Dari Tejo, aku mengetahui bagaimana Indonesia, tidak hanya Jawa, ditaklukkan pertama kali bukan oleh bangsa Eropa, tapi oleh bangsa Arya dalam bentuk penampilan India-nya. Tentu saja dengan bentuk dan model penaklukan yang berbeda dengan model penaklukan Islam, Mongol, Romawi, Turki, atau Eropa Barat. Aku menangkap kesangsiannya tentang apa yang disebut “Jawa” hingga saat ini, sebagai Jawa yang bukan sebenarnya. Bagi Tejo, ada sejarah lain dari orang Jawa yang tertutup oleh hikayat India (alias Arya) dan sejarah linear gaya oksidental.
Di dalam mobil, juga di restoran dan sekali di depan penginapanku, aku tak hanya memerhatikan kata-kata yang muncul dari bibirnya. Tapi juga bibir itu sendiri. Daging yang cukup tebal, basah, dan seperti beruap karena hangatnya kata-kata (atau mungkin semangatnya). Hidungnya yang agak melengkung, mata agak bulat dan berkantung, rambut hitam, berminyak dan berombak… seperti ayahku. “Garis wajah bangsawan Jawa,” kata Pak Karto, sahabat terdekat ayahku, suatu kali. Aku sendiri menaruh curiga, melihat persamaan kontur itu pada orang India Utara, Persia, atau Afghan: tidakkah itu garis wajah Arya? Aku menyebut kata terakhir itu sambil mengulang nama ayahku: Aryo. Lalu menyempatkan melihat wajahku sendiri di cermin: garis meliuk tak hanya membentuk wajah, hidung, dan mataku, tapi juga bibir yang membuat almarhum suamiku mengucapkan rayuan yang paling kugemari: “Bibirmu adalah laut yang aku ingin terus berlayar di atasnya.”
“Kau juga keturunan bangsawan Tejo?” tanyaku serampangan, lebih tepat penasaran dengan spekulasiku, apalagi kutahu ia mengajar di Universitas 11 Maret, Sala.
Tejo tertawa. “Kata itu tidak punya makna banyak untukku, Aryani.”
“Dari keraton mana?” tanyaku menegaskan.
Tejo menghentikan tawanya dan mengembuskan nafas.
Aku pun tak ingin mendesaknya. Aku membiarkan dia memberi alasan kenapa ia ada di Pasuruan. Ia ingin tahu mengapa warga Pasuruan jadi begitu beringas dan agresif, menyerang umat agama lain, misalnya. Sementara ia memiliki dugaan kuat, kerusuhan agama, rasial, atau apa pun bukanlah berasal dari tabiat asli orang Pasuruan.
“Lalu karena apa?” aku mulai tertarik, tapi mataku melirik lengannya yang terbuka dengan bulu agak tebal. Dadanya tegap, tentu saja berisi, karena paru-parunya tidak digerogoti nikotin.
“Itulah yang ingin kucari,” jawabnya pendek.
“Tak ada dugaan atau asumsi lain?”
“Aku belum mau mengatakannya.”
Karena penelitiannya itulah ia bersedia membantuku sukarela mencari seseorang yang mungkin pernah menjadi kenalan ayahku, saat ia menjadi santri di kota yang keras ini. Apalagi pencarian itu memang sesuai dengan arah penelitiannya. Dan malam itu, hari ketiga aku di Pasuruan, kami habiskan dengan ngobrol bersama penduduk di sebuah warung kopi.
***
Dari kerja tekun Tejo, akhirnya kami berhasil menemukan rumah haji Siddiq yang katanya mengenal ayahku, bahkan menjadi salah satu teman terdekat ayahku selama menjadi santri. Kami menjumpai rumah itu, bangunan tua yang tampak kurang terurus. Pemiliknya bukan haji Siddiq. Rumah itu telah dijual dan keluarga haji Siddiq pindah ke pinggir kota arah Probolinggo. Tejo mengajakku langsung pergi, karena ia tahu waktuku tidak banyak.
Rumah keluarga haji Siddiq akhirnya dapat ditemukan, dan tidak lain merupakan gubuk yang hanya menyediakan satu kamar tidur dan ruang tamu kecil. Penghuninya: janda Siddiq dan anaknya: Sumiani. Yang membuat hatiku jatuh bukan karena haji Siddiq telah meninggal beberapa tahun lalu, tapi justru anaknya: Sumiani, orang yang kuharap dapat menyambung silaturahmi. Rasanya tidak mungkin menciptakan komunikasi sempurna dengannya, tapi lebih tepat meratapinya.
Aku menjumpai Sumiani tergolek di tempat tidur. Tubuhnya sangat dan sangat kurus. Sudah dua bulan ia tergolek di situ tanpa dapat bahkan menggerakkan ibu jarinya. Ia terserang penyakit gula dengan stadium yang mematikan, hingga ke nilai: 600. Penyakit gula itu sesungguhnya sudah sejak lama ia idap. Tepatnya sejak ia bekerja di Arab Saudi, sebagai tenaga kerja musiman. Empat tahun ia habiskan waktu di ‘negeri padang pasir’ itu. Empat kali ia harus pindah majikan dengan kasus yang sama: sang majikan hendak menggagahinya. Bahkan di majikan kedua, tubuhnya dihujam oleh air dan seterika panas. Aku segera teringat peristiwa di Marseille tahun lalu, ketika Prancis dikejutkan oleh berita perbudakan baru, karena ada seseorang –berkewarganegaraan Indonesia– berusaha melarikan diri dari majikannya dengan cara melompat dari jendela. Tragisnya: ia melompat dari apartemen yang terletak di lantai lima.
Selama dua tahun pertama, Sumiani bekerja tanpa mendapat gaji karena dianggap melarikan diri. Ia tak berani dan tak bisa pulang tanpa uang. Anak tunggalnya, Danang, sudah harus masuk sekolah menengah di Pasuruan. Akhirnya Sumiani mendapat majikan baru yang lebih baik, di kota lebih kecil dengan gaji lebih kecil. Dua tahun bekerja tambahan, Sumiani tak tahan ingin segera bertemu anaknya. Dengan uang hasil merantau itu, Sumiani membenahi rumah, memasukkan Danang ke sekolah menengah, membuka kios jahitan, dan memperbaiki makam ayahnya.
Tapi tak sampai setahun kemudian datang petaka baru, petaka lebih mengerikan bagi Sumiani, nenek dan anaknya. “Krismon!” kata Danang menyeru nama petaka itu. Aku mengerti nama itu dari penjelasan Tejo. Yang jelas monster “krismon” itu telah memakan kios jahitan Sumiani yang segera kehilangan pelanggan. Hidup irit tetap tak cukup dipenuhi oleh hasil penjualan baju bekas atau berbagai harta peninggalan lainnya. Lapar sesungguhnya dapat ditahan, namun lantaran terlampau sering hanya memakan ubi dan singkong, gula di tubuh Sumiani meningkat drastis.
Sumiani, satu-satunya harapan keluarga itu, akhirnya tumbang. Dua bulan ia di rumah sakit, untuk itu rumah mereka pun harus dijual dan mereka pindah ke pinggir kota. Tapi penyakit tidak jua sembuh, sama sekali tidak. Rumah sakit sudah sangat kekurangan obat. Seminggu terakhir di rumah sakit, Sumiani sama sekali tidak diurus (”Itu pun tak kami tagih biaya kamarnya,” alasan seorang petugas rumah sakit saat kutanya kemudian). Hasilnya: bibir Sumiani mulai hancur dan kakinya membusuk. Keadaan itu malah membuat ia harus keluar rumah sakit, karena pihak rumah sakit tidak mau Sumiani akhirnya mati di rumah sakit, dan satu jalan untuk “menyelamatkan nyawanya”: kaki Sumiani harus dipotong. Tapi dua kesukaran telah menghadang: biaya operasi itu sangat mahal, dan yang lebih utama, Sumiani tak mengizinkannya. “Bagaimana saya kerja untuk Danang nanti?” begitu ibu haji menirukan anaknya, sambil melukiskan betapa kaki Sumiani begitu lincah pada saat menjahit.
Sumiani harus keluar dari rumah sakit. Dan telah satu bulan lebih ia tergolek di kamarnya yang hampir tak pernah disinggahi matahari. Perban dan kain hampir menutupi tubuhnya. Apa yang dapat dilakukan nenek, anak dan cucu itu tinggal berdoa. Aku berteriak dalam hati saat memberanikan diri membuka perban di tubuh Sumiani. Aku tak bisa menemukan kata untuk menggambarkannya: penyakit gula itu seperti belatung yang menghabisi sedikit demi sedikit tubuh perempuan itu.
Aku langsung menyeret Tejo keluar dan memintanya membawa aku ke rumah sakit. Kepada kepala rumah sakit aku mempertahankan nilai kemanusiaan untuk memohon pertolongan secepatnya. Tapi dengan tenang, direktur rumah sakit itu menjelaskan, mereka tak ada uang, tak ada obat-obatan (yang harus dibeli di Surabaya) dan tambahan lagi: sekian puluh bahkan sekian ratus kasus semacam menunggu di luar pintu kantornya.
***
Aku hampir menangis putus asa. Uangku tak cukup untuk membiaya operasi yang memang tiba-tiba menjadi sangat mahal. Aku sungguh menangis saat mengingat mata Sumiani yang rusak menatapku, seperti mengatakan: “Apa kabar, bagaimana ayahmu?” Aku mengenangnya dalam keadaan yang hampir sama: aku yatim piatu, dia dicerai suaminya, dan kami memiliki anak yang hampir sebaya. Tejo meraih kepalaku dan kujatuhkan air mataku (yang lima tahun ini tak pernah kulakukan) ke dadanya yang tegap.
Esok hari dan hari-hari selanjutnya, aku dan Tejo mondar-mandir ke kantor bupati, camat, dinas kesehatan, bahkan sempat ke Surabaya meminta bantuan ke kantor palang merah setempat. Kami berhasil mendapat surat bupati yang membebaskan biaya operasi serta mendapat kiriman obat-obatan gratis yang akan datang segera dari Surabaya. Aku sempat tersenyum pada Tejo –yang selama itu, tentu saja, bekerja tanpa banyak komentar apalagi keluhan– tidak menyadari sebenarnya kesulitan terbesar belum teratasi: Sumiani tetap menolak dioperasi.
“Kau memilih untuk mati?” aku agak keras mendesak Sumiani untuk ke sekian kali.
“Sumiani menjawab dengan anggukan kecil. Matanya seperti jurang.
“Kau memilih meninggalkan ibumu?” aku mendesak lagi.
Sumiani mengangguk lebih kecil. Matanya nanap.
“Kau pun ingin meninggalkan Danang, tanpa ayah tanpa ibu?” Aku lebih keras, seperti melihat diriku sendiri.
Sumiani kali ini tidak mengangguk. Matanya berkabut, lalu air membasahi luka sepanjang lubang mata yang menganga itu.
Aku tak dapat menahan diriku. Kupeluk wanita itu. Kami menangis bersama. Begitu lama. Hingga tak sadar, karena terlalu lelah, aku tertidur. Aku terbangun menjelang subuh, terduduk di sebelah Sumiani dan selimut cokelat di tubuhku. Selimut Tejo yang selalu ia bawa di mobilnya. Aku lihat Sumiani. Matanya terbuka. Memang selalu terbuka, karena kelopaknya kini sudah hancur sama sekali. Aku menangis lagi. Betapapun bencinya aku pada kecengengan ini. Tapi, aku tak peduli.
Dua hari dua malam aku di kamar Sumiani, sebagai ekspresi permohonanku untuk operasi itu. Tapi Sumiani tak bergeming. Terakhir aku mendesaknya, mata wanita itu sudah tak memandangku lagi. Hanya air masih mengalir di lubang itu. Aku frustrasi. Kutoleh ibu haji, namun wanita tua itu hanya mengangkat pundak, dan kelopak matanya seperti mengatakan: “Anakku sudah memilih nasibnya sendiri.” Tejo berusaha menghiburku. Aku protes dan meminta Tejo membawa dengan paksa Sumiani ke rumah sakit. Tapi Tejo tak mau tanpa izin Sumiani, lagipula operasi tak dapat berjalan tanpa tanda tangan Sumiani sendiri. Ibu haji pun bingung. Aku berteriak. “Kalau begitu, lekaskah datangkan maut! Lekaskan ia pergi! Lekaskan ia mati!!!”
Aku mulai histeris. Tak lagi terbayang, penyakit itu kian dahsyat di hari kedua belas aku di Pasuruan. Kedua telapak kaki Sumiani telah habis bahkan hingga mata kaki. Pantatnya sudah berlubang sebesar kepalan tangan, sehingga ia mulai tidur miring selalu. Dan… aku tak dapat melukiskannya lagi. Aku berlari keluar. Aku berlari, biar hari telah gelap. Semua kata doa habis sudah kuucap, kuulang dan kuulang lagi.
Aku sudah tak sadar di mana aku. Sampai aku tersentak mendengar teriakan-teriakan. Tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku segera berlari menghampiri, dan pikiranku berkelebat: “Sumiani?!” Kekhawatiran melesak di hatiku. Tapi, aku menjumpai sumber suara ribut bukan berasal dari arah rumah Sumiani. Di arah berlawanan kulihat beberapa orang membawa obor ke arah sebuah kerumunan. Di tengah kerumunan itu, kulihat dua lelaki berhadapan. Yang satu telanjang dada, yang lain berkaus lurik. Yang satu membawa parang besar, yang lainnya menggenggam celurit.
Di belakang mereka tampak istri dari masing-masing, lengkap dengan seluruh anak mereka. Mereka berteriak-teriak, bahkan sebagian hampir histeris, mencoba menghentikan pertempuran yang tampaknya sudah tak terelak lagi itu. Anak-anak mereka menangis. Kedua lelaki itu tetap memaki dan saling menyalahkan. Masalahnya: lelaki bertelanjang dada mencabut singkong yang ia tanam dahulu, namun lelaki berkaus lurik bersikeras singkong itu tumbuh di tanah miliknya. Sebenarnya singkong itu tumbuh hanya sebagai pagar pembatas tanah. Tapi suasana sudah panas tak terdinginkan.
Kedua lelaki itu sudah memainkan senjatanya masing-masing. Mereka telah ambil kuda-kuda. Kedua istri mereka kian histeris, anak-anaknya turut lebih keras menangis. Aku mendesak orang-orang di sekitar untuk melerai. Tapi tampaknya perkelahian tak dapat dihindarkan. Aku memandang kedua lelaki itu dengan gugup. Karena beberapa batang singkong! Aku tak pernah berhasil membayangkannya. Lelaki bertelanjang dada dengan parang besar itu telah berteriak akan memulai serangan. Aku melihat salah seorang anak dari kubu lelaki berkaus lurik berlari ke tengah gelanggang sambil menjerit: “Bapaakkk!!”
Dalam detik itu, tak ada kesadaran lain yang kumiliki: aku berteriak sangat keras, yang tak terbayang dapat kulakukan sebelumnya, dan melompat dengan seluruh refleks yang kumiliki. Sebuah gerakan licin dan latihan senam yang rutin, atau entah apa, berhasil membuatku merenggut tubuh anak kecil itu. Kami bergulingan di pinggir.
Dengan sangat sigap kedua lelaki itu menghentikan gerakannya. Lalu sunyi. Semua orang terdiam dan memandang ke arah kami: aku dan anak kecil itu, yang hampir saja tertebas lehernya oleh parang. Cukup lama keheningan itu tercipta, hingga akhirnya kupecahkan dengan suara yang hampir menjadi tumpahan rasa frustrasi, histeria, atau kemarahan yang begitu dalam terpendam.
“Kalian tidak hanya akan membunuh satu orang dengan senjata itu,” kataku pada kedua lelaki itu. “Tapi juga mereka yang ada di belakangmu.” Aku lepas anak kecil itu, yang segera berlari menggelayuti kaki ayahnya. Aku melihat wajah Sumiani dan Ratna, anakku, mengembang di cahaya obor yang timbul tenggelam. Kedua lelaki itu terdiam. Cahaya di mata dan senjata mereka menyusut. Berusaha lebih tenang, aku tanyakan harga singkong yang telah dicabut. Seseorang menyebutkannya dari balik kerumunan. Aku mengeluarkan sejumlah uang dari dompetku, menyodorkannya pada si baju lurik sebagai pengganti singkong yang dibawa oleh si telanjang dada.
Kedua lelaki itu berdiam. Matanya menatap gelap atau dasar tanah. Sang istri lelaki telanjang dada beraksi, mengambil seluruh singkong dan menyeret anak-anaknya pulang. Anaknya yang tertua juga menyeret tangan ayahnya. Mereka lenyap ditelan gelap. Aku tidak melepaskan momen itu, menyelipkan uang di tanganku ke kantong celana si baju lurik. Lelaki itu berusaha menghindar dan berlalu cepat. Ia pun hilang, bersama uang itu. Anak-anak dan istrinya memandangku. Aku berusaha tersenyum, dan menyelipkan satu lembaran ke tangan masing-masing anaknya.
“Baik, sekarang pulanglah!” kataku.
Tapi mereka tak bergerak. Apalagi? Sang ibu mengucapkan beberapa kata terima kasih. Dan aku memutuskan, jika mereka tak pulang, aku pulang mendahuluinya. Namun begitu aku membalikkan badan, kulihat tepat di hadapanku belasan atau puluhan anak berjajar dan bergerak mengurungku. Pandangnya sama, lirikannya sama: ke arah lembaran-lembaran itu. Tak ada kata yang bisa kuucapkan. Aku tahu itu. Pengertian di sini bukanlah kata-kata, namun tindakan. Tergerak, aku mulai mengeluarkan lembaran demi lembaran dari dompetku. Hingga habis. Hingga tubuhku habis dihimpit oleh anak-anak itu. Napasku sesak. “Sudah… sudah… sudah habis,” aku coba melerai. Namun mereka tetap merangsek. Aku panik.
“Sudah… sudah… sudah habis! Ayo, pulang semua!!”
Kali ini bukan suaraku. Kulihat Tejo menghambur cepat dan membubarkan anak-anak itu. Aku menggapai dan ia meraih tubuhku yang kini menggigil. Kedatangan lelaki itu seperti sebuah rahmat. Pelukannya hangat dan membuatku merasa aman. Dan malam terlalu pekat.
Kami tinggalkan tempat itu dengan cepat. Sempat kulihat di balik kegelapan malam, ternyata masih sangat banyak orang tak terlihat: remaja, anak muda, bahkan orang tua. Aku bergidik membayangkan jika mereka yang mengurungku.
“Mereka cuma anak-anak. Tenangkan hatimu.” Tejo menghiburku, dan memberiku teh hangat setiba di rumah.
Aku sudah tak punya kata. Aku merasa sangat kecil dan tak berdaya. Negeri ini membuatku bergetar tiada habisnya. Ia memilukan, tapi hatiku penuh olehnya. Apa pun bentuk getaran itu, ia membuatku seperti sayap yang pertama kali terbang. Aku ingin meminta Tejo memelukku lagi. Aku tak berani.
“Pengalamanmu sangat banyak di sini, Aryani,” kata Tejo lagi.
Aku tak berkomentar.
“Tidurlah. Kau sangat letih.”
Aku memandangnya, berterima kasih.
“Aku berangkat besok, Tejo!”
“O ya?” ia terdiam sesaat. “Aku antar kamu,” katanya lagi.
“Terima kasih, tidak perlu.”
“Sekaligus aku pulang ke Sala.”
“Aku tidak ke Sala.”
“O ya?”
“Aku langsung ke Jakarta.”
Tejo tak bicara lagi.***

kok kita hidup seh ……????

April 6th, 2005 by fahla

Tusuk_ah

Kamis pagi yang dah kesiangan, 7 April 2005

Ngambek…… apaan seh itu??? Baik apa buruk seh????
Kok bisa-bisanya dikit-dikit trus sebel en ujung-ujungnya pasti diemmmmmm…… mulu alias ngambek.

Emang seh, kita sebagai individu adalah suatu yang unique. satu ama yang laen pasti ada beda. meski dia kembar identik sekalipun. pasti ada yang beda. entah hidungnya yang satu bengkok ke kiri en nyang satunya lagi dia punya hidung bengkok ke kanan (apa karena dia beraliran kanan ya??? paan seh…)
Nah dengan segala perbedaan yang ada, baik itu fisik ataupun non fisik, cantik gak cantik, cakep n jelek banget (elu kali ye……) eh itu khan fisik juga. ataupun perbedaan secara psikis atawa psikologis. cara pembawaan orang kali ye…. kayak dia suka bawanya apaan seh ???? mobil, bus, truk pa trailer…… wooo sopir donk….. maksud aye, cara die membawa diri dalam berbaur dengan makhluk lain (dalam hal ini manusia lain), cara dia menempatkan diri atawa yang gak keliatan kasat mata (tapi kasat hati keliatan lho….. supranatural donk….).

Sebagai makhluk sosial, kita secara hakikat dasar harus hidup dengan manusia yang lain. Adam dengan Hawa, Samson dengan Delila, Tarzan dan Monyet, Elu ama Satpam (kegerebeg donk….) plis gethu lo…..
Gak mungkin bisa kita hidup sendiri. Dah pernah liat film Cast away ? gimana mel gibson berjuang mati hidup tuk sekedar kembali ke peradaban…… seperti adam dan hawa yang diturunkan terpisah dari heaven ke bumi ini. sampai buta mereka tetap mencari.

So, the questions are :
1. Apa sih dasar tuk hidup bersama-sama (awas kalo lu mikir tuk kumpul kebo….)
2. Apa sih masalah yang mesti dihadapi kalo memilih hidup sendiri n hidup barengan ???? konsekuensi getu lho….
3. trus kalo elu ada masalah dari proses kebersamaaan itu gimana donk?????

Kok dikit sih pertanyaannya ???? biarin aja deh ih….. itu aja dah lama kita bahas kok. atu-atu donk….

pertama…………
sebagai makhluk sosial secara hakiki kita mesti ngumpul ma yang laen. gak bisa misah. baju butuh kancing, celana butuh resleting, Mr P elu butuh kondom (dasar….. makanya jangan suka baca kosmo mulu). khan dah gwe jelasin di atas. gimana seh……

kedua………….
sekarang kita ngomongin konsekuensi. plus minus yang bakal elu dapetin.
kalo elu makan, elu bakal kenyang ato tambah mules, ato tambah mual, ato bakal malu-maluin (elu utang ke warung mulu seh……) n disisi laen kita juga mesti keluar pengorbanan. entah itu dalam bentuk duit, tuker makan dengan sepatu, ato tuker makan dengan sewain Mr P elu ????? tuh khan diulang lagi….
kalo kita sendirian, semuanya mesti kita kerjain sendiri. mulai mesti bangun pagi (makanya elo seringnya bangun kesiangan….), mandi n nyiapain baju, berangkat kantor tanpa minum palagi makan pagi, bali kantor masih ngelap n bersihin rumah dikit-dikit, bikin kopi, bikin mie (anak kost banget seh….), n tidur lagi…. uh…uh….. itu baru elu di rumah sendiri. coba kalo elu tinggal di pulau terpencil sendirian ato lebih ekstrimnya lagi elu tinggal di bumi ini sendiri. apa yang terjadi coba?????

Nah jawabnya : gak mungkin khan ???? trus ??? ya khan dah aye bilangin kalo kite ini makhluk sosial khan??? so kite mesti bisa hidup bareng donk…. bisa aja elu ma bokap elu, ma nyokap, ato ma pembokat elu. cieh….. emang elu kawin ma pembokat kali ye……. trus so what getu lho????
Konsekuensi kalo hidup bareng : ya kita mesti share anything that we have, tenggang rasa, tepo saliro, saling menghormati dan bergotong royong. cuih cuih wek…. bahasanya kayak di pelajaran pancasila banget seh….. ya minimal kita mesti toleran ma samping-sampingan kita donk….. senyum kek, ngelambai kek, nyium kek. eits…. boleh nyium ya ???? ikutan donk….

ketiga………….
trus kalo ada masalah atas hal tersebut di atas gimana donk ?????

coba lihat pasal sebelumnya….. senior selalu benar khan???? lho ngomongin apa seh????
ya karena kita adalah makhluk sosial, kita bersosialisasi melalui komunikasi, kita berkomunikasi melalui bahasa. Nah dengan bahasa donk kita bicara. Entah bahasa itu keluar dari mulut, tersorot dari mata, hempasan kaki atoupun libasan tangan. kita harus bicara donk…… buat agreement. bahasa kampungnya lets make a memorandum of understanding. melalui itu kita mesti sepakat donk…….. jangan ada lagi pertengkaran di antara kita. dan tak ada acara taik taik-an lagi. dan pastinya juga tak ada acara NGAMBEK-NGAMBEKAN LAGI.

so endingnya gimana donk ???? au’ ah. terserah elu. n gwe tentunya donk…. hehehehe…..
so how gitu ???
Peluk_sayang

Spesifikasi F-16 - kita punya cuma enam biji !!!!

April 1st, 2005 by fahla

Kalo kita merasa memiliki negeri (sebenarnya warisan dari Patih Gadjah Mada) yang berbasis kepulauan, mengapa Angkatan Bersenjata kita hanya concern di darat aja ???? Padahal, di darat aja personil dan infrastruktur kita jauh dari standar, so…. untuk kekuatan laut dan udara, gimana nasibnya donk ???? Menilik negeri kepualauan kita, sadrkah pemimpin negeri ini, apabila wilayah yang mesti kita jaga demi kelangsungan anak negeri ini tidak cuman daratan aja. Tapi masih ada wilayah udara dan laut yang teramat luas yang dapat “menyejahterakan” anak negeri pertiwi ini.

Trus, memangnya kita mampu menjaganya ????

Coba kita lihat kemampuan penjaga udara wilayah negeri ini………………..

Spesifikasi F-16

Pesawat Tempur F-16 Indonesia

F-16 Fighting Falcon
Fungsi utama: Jet pemburu multi fungsi
Kecepatan: 1,500 mph
Persenjataan: Tembak-menembak di udara ke udara dan serangan amunisi ke darat
Kru : Satu atau dua tergantung model
Sumber: U.S. Air Force

F-16 adalah pesawat canggih buatan General Dynamics, AS, yang bisa membawa 4.500 kilogram bahan peledak dan 2 rudal sidewinder. F-16 cenderung dibuat berdasarkan cetak biru kelas ringan sebagai penanding MiG-17 dan MiG-21.Pesawat berawak tunggal/ganda dengan bobot 17 ton ini merupakan jenis pertama yang dilempar ke pasaran internasional setelah General Dynamics mampu mencetak prototipe yang lebih canggih, yakni F-16c dan F-16d (baca: versi c dan d). Indonesia cuma memiliki F16a jenis pesawat latih dan F-16b untuk operasional.

Indonesia tecatat memiliki sepuluh F-16. Namun akibat embargo bantuan militer yang diberlakukan pemerintah AS sejak 1999, pasca jajak pendapat di Timor Timur, TNI harus berupaya segala cara sehingga akhirnya enam di antara burung besi itu masih dapat beroperasi. Untuk menyiasatinya, TNI AU menerapkan sistem kanibal untuk merawat pesawat-pesawat tempurnya. Beberapa pesawat tempur sengaja diambil onderdilnya guna menutup kekurangan pesawat yang lain. Dengan strategi seperti itu diharapkan TNI AU tetap bisa menyiagakan armada tempurnya.

Dengan sistem kanibal, saat ini enam pesawat F-16 produksi AS dapat dikategorikan layak terbang. AS menggunakan sistem super control item untuk suku cadang pesawat ini. Sistem tersebut memungkinkan AS untuk memberikan lisensi pada negara produsen suku cadang pesawat tempur.

Pesawat tempur F-16 yang digunakan dalam darurat militer di Aceh adalah jenis “Sonic Boom”, yakni pada saat pesawat itu mencapai kecepatan suara maka Sonic Boom tersebut akan melepaskan suara yang keras

Spesifikasi F-16 - kita punya cuma enam biji !!!!

April 1st, 2005 by fahla

Kalo kita merasa memiliki negeri (sebenarnya warisan dari Patih Gadjah Mada) yang berbasis kepulauan, mengapa Angkatan Bersenjata kita hanya concern di darat aja ???? Padahal, di darat aja personil dan infrastruktur kita jauh dari standar, so…. untuk kekuatan laut dan udara, gimana nasibnya donk ???? Menilik negeri kepualauan kita, sadrkah pemimpin negeri ini, apabila wilayah yang mesti kita jaga demi kelangsungan anak negeri ini tidak cuman daratan aja. Tapi masih ada wilayah udara dan laut yang teramat luas yang dapat “menyejahterakan” anak negeri pertiwi ini.

Trus, memangnya kita mampu menjaganya ????

Coba kita lihat kemampuan penjaga udara wilayah negeri ini………………..

Spesifikasi F-16
Senin, 10 Mei 2004 | 15:18 WIB
TEMPO Interaktif :

Pesawat Tempur F-16 Indonesia

F-16 Fighting Falcon
Fungsi utama: Jet pemburu multi fungsi
Kecepatan: 1,500 mph
Persenjataan: Tembak-menembak di udara ke udara dan serangan amunisi ke darat
Kru : Satu atau dua tergantung model
Sumber: U.S. Air Force

F-16 adalah pesawat canggih buatan General Dynamics, AS, yang bisa membawa 4.500 kilogram bahan peledak dan 2 rudal sidewinder. F-16 cenderung dibuat berdasarkan cetak biru kelas ringan sebagai penanding MiG-17 dan MiG-21.Pesawat berawak tunggal/ganda dengan bobot 17 ton ini merupakan jenis pertama yang dilempar ke pasaran internasional setelah General Dynamics mampu mencetak prototipe yang lebih canggih, yakni F-16c dan F-16d (baca: versi c dan d). Indonesia cuma memiliki F16a jenis pesawat latih dan F-16b untuk operasional.

Indonesia tecatat memiliki sepuluh F-16. Namun akibat embargo bantuan militer yang diberlakukan pemerintah AS sejak 1999, pasca jajak pendapat di Timor Timur, TNI harus berupaya segala cara sehingga akhirnya enam di antara burung besi itu masih dapat beroperasi. Untuk menyiasatinya, TNI AU menerapkan sistem kanibal untuk merawat pesawat-pesawat tempurnya. Beberapa pesawat tempur sengaja diambil onderdilnya guna menutup kekurangan pesawat yang lain. Dengan strategi seperti itu diharapkan TNI AU tetap bisa menyiagakan armada tempurnya.

Dengan sistem kanibal, saat ini enam pesawat F-16 produksi AS dapat dikategorikan layak terbang. AS menggunakan sistem super control item untuk suku cadang pesawat ini. Sistem tersebut memungkinkan AS untuk memberikan lisensi pada negara produsen suku cadang pesawat tempur.

Pesawat tempur F-16 yang digunakan dalam darurat militer di Aceh adalah jenis “Sonic Boom”, yakni pada saat pesawat itu mencapai kecepatan suara maka Sonic Boom tersebut akan melepaskan suara yang keras

Kekuatan TNI AL

March 31st, 2005 by fahla

Layakkah personel Angkatan Bersenjata kita melindungi negara “KEPULAUAN” kita ????

Harusnya kita bercermin dari banyaknya negara yang berusaha “melirik” dan “menguasai” negeri ini.

Coba sedikit kita tilik kekuatan AL kita………..

ARMADA

Keamanan perairan Indonesia terletak di pundak TNI AL yang menjaganya dengan sistem pangkalan-pangkalan utama dan Pangkalan Angkatan Laut. Masing-masing mempunyai fasilitas dan tugas.

KEKUATAN

Saat ini TNI AL memiliki sekitar 40 ribu prajurit, termasuk di dalamnya 13 ribu personel marinir dan seribu penerbang/personel udara AL. Kekuatan TNI AL secara garis besar sebagai berikut:

(A) Kapal Republik Indonesia (KRI) berjumlah 116 kapal, 8 KRI dalam status konservasi, proses penghapusan, dan cadangan. Sisanya, 108 KRI, dibagi menjadi tiga kelompok kekuatan:

1. Kekuatan Pemukul (Striking Force) terdiri dari 14 KRI yang memiliki persenjataan strategis:
- 2 kapal selam kelas Cakra.
- 3 perusak kawal rudal (PKR) kelas Fatahillah dan 1 PKR kelas Ki Hajar Dewantara serta 4 kapal cepat roket (KCR) kelas Mandau.
- 2 kapal cepat torpedo (KCT) kelas Ajak.
- 2 buru ranjau (BR) kelas Pulau Rengat.

2. Kekuatan Patroli (Patrolling Force) berjumlah 46 KRI.

3. Kekuatan Pendukung (Supporting Force) berjumlah 48 KRI, terdiri dari: 8 angkut tank (AT) kelas Teluk Langsa, 4 AT kelas Teluk Semangka, 2 AT kelas Teluk Banten, 8 AT Kelas Frosch, 1 markas (MA) kelas Multatuli, 6 penyapu ranjau (PR) kelas kondor, 5 bantuan cair minyak (BCM), 1 bengkel apung (BA) kelas Jayawijaya, 3 bantu tunda (BTD), 3 bantu umum (BU), 1 bantu angkut personel (BAP) kelas Tanjung Kambani, 3 bantu hidrooseanografi (BHO) kelas Pulau Rondo, 1 BHO kelas Dewa Kembar, dan 2 kapal latih.

(B) Kapal Angkatan Laut (KAL) adalah kapal patroli yang berfungsi untuk mendukung Pangkalan TNI AL (Lanal) dalam melaksanakan tugas-tugas patroli keamanan laut dan tugas-tugas dukungan lainnya.

(C) Pesawat udara berjumlah 61 unit, terdiri dari 48 sayap tetap dan 13 sayap putar.

(D) Peralatan tempur korps marinir sejumlah 417 kendaraan tempur (ranpur), tetapi 307 ranpur berusia di atas 30 tahun, 37 ranpur berusia 21-30 tahun, sisanya 73 ranpur berusia 1-10 tahun.

PAGAR LAUT

Kekuatan TNI AL terdiri dari dua Komando Armada, masing-masing Armada Timur di Surabaya dan Armada Barat di Jakarta. Masing-masing membawahi sejumlah pangkalan utama.

Pangkalan Utama I (Lantamal I) di Belawan, membawahi 4 Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Sabang, Sibolga, Teluk Bayur, dan Dumai. Satu Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Sabang, dan dua fasilitas pemeliharaan dan perbaikan (Fasharkan) di Sabang, Belawan.

Pangkalan Utama II (Lantamal II) di Jakarta, membawahi 7 Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Bengkulu, Palembang, Cirebon, Bandung, Panjang, Banten, Bandung, dan Bangka Belitung.

Selain itu, memiliki satu fasilitas pemeliharaan dan perbaikan di Pondok Dayung, Jakarta. Fasharkan Pondok Dayung ini sekarang memiliki kemampuan membuat kapal patroli jenis KAL ukuran 28-35 meter.

Pangkalan Utama III (Lantamal III) di Surabaya membawahi lima Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Cilacap, Semarang, Yogyakarta, Banyuwangi, dan Mataram.

Pangkalan Utama IV (Lantamal IV) di Makassar, membawahi empat Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Kendari, Palu, Balikpapan, dan Banjarmasin.

Mako Pangkalan Utama V (Mako Lantamal V) di Jayapura, membawahi tiga Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Sorong, Biak, dan Manokwari.

Mako Pangkalan Utama VI (Mako Lantamal VI) di Ternate.

Pangkalan Utama VII (Lantamal VII) di Tanjung Pinang membawahi 6 Pangkalan Angkatan Laut, yaitu Batam, Pontianak, Tarempa, Ranai, Tanjung Balai Karimun, dan Dabo Singkep. Lantamal Tanjung Pinang memiliki satu fasilitas pemeliharaan dan perbaikan (Fasharkan) di Mentigi yang punya kemampuan membuat kapal patroli (KAL) 12, 28, dan 35 meter.

Di samping itu, memiliki 2 Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) berada di Matak, Kepulauan Natuna, dan di Tanjung Pinang/Kijang.

Pangkalan Utama VIII (Lantamal VIII) di Maluku membawahi Pangkalan Angkatan Laut Ambon.

RASULULLAH SAW: MANUSIA PILIHAN

March 30th, 2005 by fahla

Menurut kalender Hijaiyah hari Kamis yang akan bertepatan dengan tanggal
12 Rabi’ulawal 1417 H. Kira-kira 1450 tahun yang lalu di dekat
Baitullah Makkah Almukaramah lahirlah seorang bayi yang kemudian hari
dikenal sebagai Muhammad. Bayi inilah yang kemudian membawa banyak
perubahan besar Makkah, jazirah Arab dan seluruh dunia bahkan semesta
alam. Kehadirannya di muka bumi oleh Allah di Surat AnNabya:107
dikemukakan sebagai rahmat bagi semesta alam: “wamaa arsalnaaka illa
rahmatanlil `alamin” Kami utus engkau semata-mata sebagai rahmat bagi
semsta alam” Kehadirannya membawa perubahan: dari gelapnya jahiliyah
menjadi terang benderangnya kehidupan di bawah sinar ilahiyah, dari
bangsa kolot penunggang unta menjadi bangsa yang memimpin dan mencatat
peradaban dunia, dari bangsa yang menghina, mengubur hidup-hidup dan
mewariskan perempuan menjadi bangsa yang mengahargai tinggi derajat
wanita.
Ok, pada kesempatan ini perkenankanlah dengan kerendahan hati,
saya ingin memberikan beberapa point tentang kepribadian rasuluLLah
sang penutup nabi-nabi, pribadi tersempurna di sepanjang sejarah
kemanusiaan. Tinjauan tentang kehidupan rasuluLLah sebagai pemimpin
agama, pemimpin negara, pemimpin militer sudah banyak ditulis oleh
ahli sejarah baik dari kalangan orang islam atau sejarawan non-Muslim.
Demikian juga dengan biografi rasuluLLah. Yang kadang sangat sukar
ditemui adalah tulisan yang memperhitungkan dimensi spiritual dari
kehidupan seorang manusia istimewa “intan di tengah jutaan batuan”
manusia biasa. Tulisan ini akan saya dasarkan atas hadits rasuluLLah
tatkala mendeskripsikan dirinya sendiri. Tentu saja uraian dan
jabaranya sesuai dengan penafsiran saya, dan karena itu bila ada
kesalahan tentu tak terlepas dari kekurangan saya. Dalam banyak tempat
saya akan merujuk ke Qur’an karena sebagaimana Aisyah tatkala ditanyai
sahabat, bagaimana aklak rasuluLLah, sahabat menjawab akhlak rasuluLLah
adalah Qur’an.
RasuluLlah Muhammad saw., kekasih Allah, dalam sebuah hadits mengatakan:
Meditasi ke Allah adalah modal utamaku,
Alasan dan logika yang masuk akal adalah akar dari agamaku,
Cinta kasih adalah dasar keberadaanku,
Kesungguhan adalah kendaran kehidupanku,
Mengingat Allah adalah sahabatku,
Keyakinan adalah sumber kekuatanku,
Dukacita adalah kawanku,
Pengetahuan adalah senjataku,
Kesabaran adalah pakaian dan kebiasanku,
Mengabdi kepada Allah adalah kebanggaanku,
Kebenaran adalah isi ucapanku,
Ibadah adalah keseharianku,
dan dalam shalat terletak kesejukan mataku dan kedamaian pikiranku.
KITA AWALI DENGAN POINT YANG SAYA KELOMPOKKAN DALAM AQIDAH
Meditasi ke Allah adalah modal utamaku, Mengingat Allah adalah
sahabatku, Keyakinan adalah sumber kekuatanku Mengabdi kepada Allah
adalah kebanggaanku, Ibadah adalah keseharianku dan dalam shalat
terletak kesejukan mataku dan kedamaian pikiranku.
Rangkaian kata-kata di atas menandaskan hal-hal tentang ibadah,
shalat, zikir dan pengabdian kepada Allah yang merupakan modal
utama, sumber kekuatan, kebanggaan dan keseharian RasuluLLah.
Shalat adalah perintah kedua secara nuzulnya dalam Qur’an setelah
perintah membaca dalam surat al `Alaq (1-5). Dalam surat al-
Muzzamil (1-4) Allah berfirman: “Ya ayyuhal muzammil Qumillaila illa
qalila Nishfahuu awinqush mihu qaliila Aw zid alaihi warattilil
qur’aana tartilaa”. “Hai orang yang berselimut Bangunalah untuk
melakukan shalat malam ini yang hanya sebagian kecil atau separunya
atau kurang dari itu sedikit atau lebihkanlah dan bacalah Qur’an
dengan perlahan dengan nada berirama”. Rasulullah dan sahabat selalu
melaksanakan perintah Allah ini sebagaimana juga tercantum dalam surat
ini ayat 20: yang terjemahnya: “Aku tahu bahwa engkau menegakkan shalat
hampir dua pertiga malam atau setengahnya atau sepertiganya dan
sebagian mereka bersama engkau. (Dalam tafsir Yusuf Ali disebutkan hal
ini merupakan beban berat bagi mereka terutama saat-saat kesehatan
terganggu); Allah menentukan malam dan siang. Dia tahu bahwa engkau
tak akan dapat menghitungnya (Yusuf Ali: Mematuhi dan melaksanakan
ibadah harus sekuat mungkin kita tentukan waktunya,sesuai dengan
kemampuan dan kesempatan yang ada pada kita masing-masing dan
sebagaimana akan jelas pada potongan ayat selanjutnya tidak hanya
dengan shalat malam). Ia memberi tobat kepadamu maka bacalah Qur’an
mana yang mudah bagimu. Dia tahu sebagian kamu sedang sakit, sedang
dalam perjalanan, mencari karunia Allah, yang lain lagi sedang
berjuang di jalan Allah. Maka bacalah Qur’an mana yang mudah bagimu;
dirikan shalat dan tunaikan zakat dan pinjamkan kepada Allah pinjaman
yang baik. Segala kebaikan yang telah kamu kerjakan untukmu kamu akan
mendapatkannya di sisi Allah lebih baik dan lebih besar pahalanya:
mohon ampunlah kepada Allah, Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.”
Kalau kita rangkum isi ayat di atas kita dapatkan bahwa ibadah sekuat
mungkin harus kita tempatkan dalam prioritas dan kesibukan kita.
Kebaikanlah yang akan meningkatkan kadar rohani dan mertabat kita di
hadapan Allah. Namun walau apapun kebaikan yang kita perbuat, kalau
dihitung tidaklah cukup berarti. Di sinilah kemudian letaknya karunia
Allah. Karunia Allah akan menghapus kekurangan dan kealpaan kita.
Ketakmampuan kita bila kita tenggelam dalam cobaan dunia seperti
diisyaratkan seperti ketakmampuan orang Arab dulu menghitung secara
tepat sepertiga atau setengah malam secara persis, itulah maka perlunya
kita berproses dan berusaha secara kontinu meningkatkan kuantitas dan
kualitas ibadah kita yaitu dengan cara sebagaimana rasuluLLah saw
mengatakan menjadikan: Meditasi ke Allah sebagai modal utama,
Mengingat Allah sebagai sahabat, Keyakinan sebagai sumber kekuatan,
Mengabdi kepada Allah sebagai kebanggaan, Ibadah sebagai keseharian,
dan mencari kesejukan mata dan kedamaian pikiran dalam shalat.
Insya Allah dengan demikian walau kecil yang kita lakukan dengan
karunia Allah, kita akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan ini.
Sebagaimana kesuksesan rasuluLLah.
MARI KITA LANJUTKAN PADA POINT YANG SELANJUTNYA:
Alasan dan logika yang masuk akal adalah akar dari agamaku,
Pengetahuan adalah senjataku. Dalam banyak tempat di Qur’an
disebutkan teguran “tidakkah engkau renungkan, tidakkah engkau
pikirkan?”, dan semacamnya. Rasullulah juga mewajibkan mencari ilmu
bagi muslim dan muslimat. Kunci kebahagian di dunia adalah ilmu,
kunci kebahagian di akhirat adalah ilmu, dan kunci untuk kebahagian di
kedua dunia itu juga ilmu. Pengetahuan haruslah meningkatkan tidak
hanya kemampuan kognitif kita, namun bersaman dengan itu kemampuan dan
martabat rohani juga harus meningkat. RasuluLlah saw. Bersabda “Tidak
ada pemberian ortu kepada anaknya yang lebih baik dari pengajaran
adab”; dalam hadits lain “Pengajaran adab seorang ayah/(dan juga ibu)
kepada anaknya jauh lebih baik dari shadaqah jariyah”. Singkatnya
pengetahuan tentang ilmu-ilmu kauniyah atau ilmu alam/ilmu sosial
adalah sebagai instrumen untuk dapat memanfaatkan alam yang
dikaruniakan kepada kita, atau kalau menurut bahasa Iqbal: agar kita
dapat menciptakan arca dari tanah liat yang Allah ciptakan sedangkan
ilmu qur’aniyah akan membimbing atau memberikan prosedur bagaimana
instrumen harus digunakan untuk: mengerti bahasa yang harus kita
gunakan untuk mengabdikan diri kita kepada Allah.
POINT SELANJUTNYA:
Cinta kasih adalah dasar keberadaanku. Sebagai contoh kita kenang
bagaimana kasih sayang rasul pada cucu-cucunya, misalnya rasul sengaja
memanjangkan sujudnya karena cucu-cucunya menaiki punggungnya.
RasuluLlah memarahi sahabat yang katanya tak pernah sekalipun mencium
anaknya. Dalam kesempatan lain seorang sahabat sempat marah gara-gara
bayinya kencing dalam gendongannya, rasuluLlah menegurnya dan
menyuruhkan agar selalu bersikap sayang pada bayi, karena itu akan
terbawa terus sampai nanti besar. Cinta kasih adalah dasar kehadiran
kita di muka bumi, dasar dari keberlangsungan kita juga karena kasih
sayang atau rahman-rahim Allah. Kahlil Gibran mengatakan cinta itu
kata cahaya, ditulis dengan cahaya, di atas lembaran cahaya. Perintah
menyambung silaturahim itu berkaitan dengan dasar ini. Allah dan
rasulnya meminta kita untuk menyambungkan silaturahmi, karena akan
memanjangkan umur dan memudahkan rizki. Cinta kita pada rasul dan
Islam marilah juga kita wujudkan dalam bentuk niat kita untuk
menjadikan cinta sebagai dasar keberadaan kita.
POINT SELANJUTNYA
Kesungguhan adalah kendaran kehidupanku. Tugas rasuluLLah adalah
tugas yang maha berat. Tantangannya yang tak terbayang beratnya.
Tapi rasuluLLah selalu tabah dan sungguh-sungguh dalam
melaksanakan tugasnya, dan itulah kunci keberhasilan rasuluLLah.
Menghadapi tantangan kafir Quraisy untuk menghentikan da’wahnya
rasuluLlah menjawab: Seandainya mereka meletakkan matahari di
tangan kananku, bulan di tangan kiriku agar menghentikan da’wahku,
maka tak akan aku hentikan atau aku hancur binasa.
Dasar keyakinan atau aqidah yang kuat dan kesungguhan membuat
perjuangan rasuluLLah yang nampaknya sebagai suatu mission yang
sangat impossible menjadi suatu misi yang sangat possible. Oleh
karena itu marilah kita jadikan kesungguhan sebagai kendaraan kita.
sebagai kendaraan kita.
POINT SELANJUTNYA, Dukacita adalah kawanku. Sama
dengan manusia biasa kita juga mengalami duka cita. Bahkan mungkin
lebih tinggi intensitasnya dari pada kita,: Dalam tingkat personal dan
kemanusiaan rasuluLLah kehilangan kedua ortunya pada usia yang masih
sangat belia, kesulitan material, kesendirian, tekanan sosial dan
prakstis semua duka cita beliau pernah alami. Kemudian hari berbagai
kesusahan hidup juga rasuluLlah alami: kehilangan istri kesayangan
Khadijah pada saat tekanan sosial dari kafir quraisy mencapai
puncaknya, kematian anak laki-laki pada usia mereka sangat muda,
keingkaran dari kaum Quraisy dan tekanan secara terus-menerus dari
kaum kafir karena ketegaran rasuluLlah menda’wahkan islam. Tapi
walaupun duka cita, rasuluLlah tak pernah putus harapan dan selalu
tawakal kepada Allah. Beliau jadikan: Kesabaran sebagai pakaian dan
kebiasan
dan inilah kunci kesuksesan beliau rasuluLlah Al Mustafa, manusia
terpilih. Karena beliau telah memikul kesedihan dan penderitaan
hidup demi membimbing kita maka Allah dan para malaikat meberikan
rahmat kepadanya sebagai manusia terbesar. Maka lebih-lebih kita,
kita diberi perintah untuk memberi shalawat dan salam kepada beliau:
Innallaha wamalaikatahu shalu `ala nabi yya ayyuhaladzina amanu shalu
alaihi wasalimu taslima.
POINT SELANJUTNYA Kebenaran adalah isi ucapanku.
Inilah yang menjadi sebab rasuluLlah mendapat gelar al-Amin.
Dan ini pulalah salah satu pilar Islam. Kebenaran yang menjadi inti
keadilan harus dilakukan walaupun apapun tebusannya:
Ya ayyuhaladzina amanu kuunu qauwamina bilqisthi syuhada a.
Lillahi walau ala anfusikum
awil walidaini wal aqrabaini Iyyakung ghasiyan aw faqiraa
Hai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak keadilan menjadi saksi
karena Allah meskipun terhadap diri sendiri terhadap orang tuamu,
terhadap kerabatmu, baik ia kaya atau miskin. Keadilan juga harus tak
pandang warna kulit, juga terhadap musuhpun keadilan harus ditegakkan.
Dan inilah jihad yang paling besar: jihad yang paling besar adalah
mengatakan kebenaran dihadapan penguasa tiran.
KESIMPULAN
Sebagai simpulan dari yang kita bicarakan di atas,: RasuluLlah adalah manusia
biasa yang mempunyai berbagai keluarbiasaan. Kehadirannya sebagai
manusia biasa, dengan berbagai sifat yang sangat menawan, misalnya
sifat humorisnya menjadikan dan memungkinkan kesuksesannya. Suatu
saat rasuluLLah di hadapan seorang yang sudah manula mengatkan: “Tak
akan ada nenek-nenek masuk surga”, kontan sang nenek menangis, dan
rasuluLlah pun segera meneruskan “Tak akan ada nenek-nenek msuk surga,
karena semuanya menjadi muda kembali”. Akhlak rasuluLlah adalah
Qur’an, dan tugas kita adalah meneladani jejak langkah beliau karena
salah satu tujuan diturunkannya rasuluLLah adalah sebagai uswatun
hasanah: Contoh yang paling mulia bagi kemanusiaan.
Walahu’alam bissawab.

Cara bermeditasi

March 29th, 2005 by fahla

Dalam dunia ini, apakah yang dicari oleh kebanyakan orang dalam hidupnya? Sebenarnya, mereka ingin
mencari ketenangan batin dan keselarasan hidup. Tidak sedikit di antara mereka berusaha mencarinya,
walau mungkin mereka tidak mengetahui dengan jelas apa yang hendak dicarinya, atau mungkin cara
mendapatkannya.
Mereka sering merasa bingung, merasa banyak menjumpai kekacauan dan kekalutan batin. Mereka
diserang oleh bermacam-macam perasaan yang tidak memuaskan atau yang kurang menyenangkan
hatinya. Secara singkat mereka ini tidak mendapatkan ketenangan dan kesejahteraan dalam batinnya.
Kebanyakan mereka ini kemudian menempuh cara yang salah untuk mendapatkan ketenangan batin dan
keselarasan hidup ini. Mereka cenderung melihat dan mencari di luar dirinya sendiri. Akibatnya, dunia ini
merupakan sumber semua kegelisahan.
Mereka mencari penyelesaian persoalannya dalam keluarganya, di dalam pekerjaannya,atau di dalam
pergaulan dan sebagainya. Mereka beranggapan kalau dapat mengubah keadaan sekelilingnya, mereka
akan menjadi tenang dan bahagia.
Sekarang sudah banyak dijumpai orang yang telah menyadari kenyataan dan berpaling, yaitu
menunjukkan perhatiannya kepada sumber yang sebenarnya dari kebahagiaan dan kegelisahan, ialah
PIKIRANNYA SENDIRI. Menunjukkan perhatian ke dalam diri sendiri, dalam pikirannya sendiri,
inilah yang dinamakan dengan meditasi.
Dewasa ini meditasi telah banyak dipraktekkan oleh orang-orang dari berbagai bangsa dan agama.
Mengapa demikian?
Karena kerja pikiran itu tanpa memakai corak bangsa atau agama tertentu. Jadi tugas meditasi adalah
untuk mengerti atau menghayati sifat pikiran di dalam kehidupan sehari-hari.
Pikiran adalah kunci kebahagiaan, sebaliknya juga merupakan sumber penderitaan / malapetaka.
Untuk mengetahui dan mengerti perihal pikiran dan menggunakannya dengan seksama tidaklah
hubungannya dengan agama. Jadi meditasi dapat dilaksanakan oleh setiap orang tanpa menghiraukan
corak agamanya.

2. Faedah meditasi
Sungguh banyak yang dapat dikerjakan oleh setiap orang untuk mendapatkan kesenangan duniawi dalam lingkungan yang penuh dengan kesibukan dan kekacauan ini. Jika memang benar demikian halnya………, mengapa kita harus bermeditasi? Apakah gunanya kita membuang waktu untuk duduk diam bersila dengan bermalasan? Sesungguhnya apabila Anda dapat melaksanakan meditasi dengan cara yang benar, maka meditasi akan dapat memberikan banyak manfaat untuk diri sendiri:

Beberapa manfaat yang bisa Anda rasakan langsung adalah:
1. Bila Anda seorang pedagang yang selalu sibuk, meditasi menolong membebaskan diri Anda dari
ketegangan sehingga Anda menjadi relaks.
2. Kalau Anda sering berada dalam kebingungan, meditasi akan menolong menenangkan diri Anda dari
3. Bila Anda mempunyai banyak persoalan yang seolah-olah tidak putus-putusnya, meditasi dapat
menolong Anda untuk menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan
untuk mengatasi persoalan tersebut.
4. Bila Anda tergolong orang yang kurang mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, meditasi dapat
menolong Anda untuk mendapatkan kepercayaan terhadap diri sendiri yang sangat dibutuhkan.
Memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri adalah kunci rahasia kesuksesan Anda.
5. Kalau Anda mempunyai rasa ketakutan dan keraguan, meditasi dapat menolong Anda untuk
mendapatkan pengertian yang benar terhadap keadaan yang menyebabkan ketakutan itu, dengan
demikian, Anda dapat mengatasi rasa takut tersebut.
6. Jika Anda selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam kehidupan ini atau yang berada
dalam lingkungan Anda, meditasi akan memberi Anda perubahan dan perkembangan pola pikir
sehingga menumbuhkan rasa puas dalam batin Anda.
7. Jika Anda ragu-ragu dan tidak tertarik terhadap agama, meditasi akan dapat menolong Anda
mengatasi keragu-raguan itu sehingga Anda dapat melihat nilai-nilai praktis dalam bimbingan
agama.
8. Jika pikiran Anda kacau dan putus asa karena kurang mengerti sifat kehidupan dan keadaan dunia
ini, meditasi akan dapat membimbing dan menambah pengertian Anda bahwa pikiran kacau itu
sebenarnya tidak ada gunanya.
9. Kalau Anda seorang pelajar, meditasi dapat menolong menimbulkan dan menguatkan daya ingat
Anda sehingga apabila Anda belajar akan lebih seksama dan berguna.
10. Kalau Anda seorang yang kaya, meditasi dapat menolong Anda untuk melihat sifat kekayaan dan
mampu menggunakannya dengan sewajarnya, untuk kebahagiaan Anda sendiri maupun kebahagiaan
orang lain.
11. Jika Anda seorang yang miskin, meditasi dapat menolong Anda agar memiliki kepuasan dan
ketenangan batin. Dengan demikian, Anda akan terhindar dari keinginan untuk melampiaskan rasa iri
hati Anda kepada orang lain yang lebih mampu atau yang lebih berada daripada Anda.
12. Kalau Anda seorang pemuda yang kebingungan sehingga tidak mampu menentukan jalan hidup ini,
meditasi dapat menolong Anda untuk mendapatkan pengertian tentang kehidupan sehingga Anda
dapat menempuh salah satu jalan yang benar untuk mencapai tujuan hidup Anda.
13. Kalau Anda seorang yang telah lanjut usia dan merasa bosan terhadap kehidupan ini, meditasi akan
menolong Anda untuk mengerti secara mendalam mengenai hakekat kehidupan ini sehingga
timbullah semangat hidup Anda.
14. Kalau Anda seorang pemarah, dengan bermeditasi Anda dapat mengembangkan kekuatan kemauan
untuk mengendalikan kemarahan, kebencian, rasa dendam dsb.
15. Kalau Anda seorang yang bersifat iri hati, dengan meditasi Anda akan menyadari bahaya yang
timbul dari sifat iri hati itu.
16. Jika Anda seorang yang selalu diperbudak oleh kemelekatan panca inderia, meditasi dapat menolong
Anda mengatasi nafsu dan keinginan tersebut.
17. Kalau Anda seorang yang selalu ketagihan minuman keras / sesuatu yang memabukkan, dengan
bermeditasi Anda dapat menyadari dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu.
Kebiasaan yang memperbudak dan mengikat Anda.
18. Kalau Anda seorang yang pintar ataupun tidak, meditasi memberi Anda kesempatan untuk mengenal
diri sendiri dan mengembangkan pengetahuan yang sangat berguna bagi kesejahteraan sendiri,
keluarga serta handai taulan.
19. Kalau Anda dengan sungguh-sungguh melaksanakan latihan meditasi ini, maka semua nafsu emosi
Anda tidak mempunyai kesempatan untuk berkembang.
20. Kalau Anda seorang yang bijaksana, meditasi akan membawa Anda menuju ke kesadaran yang lebih
tinggi dan mencapai “Penerangan Sempurna”, Anda akan melihat segala sesuatu menurut apa adanya
(sewajarnya).
Inilah beberapa faedah praktis yang dapat dihasilkan dalam latihan meditasi. Faedah ini tidak dapat
dijumpai atau ditemukan dalam buku, apalagi dapat dibeli di warung. Uang tidak dapat dipakai untuk
mendapatkannya. Anda mendapatkannya sebagai hasil menjalankan latihan meditasi. Anda temukan
dalam diri sendiri yaitu dalam PIKIRAN Anda.

3. Persiapan untuk belajar meditasi

TEMPAT
Bila Anda termasuk seorang yang sedang belajar meditasi, sebaiknya pilihlah tempat yang sesuai untuk
berlatih meditasi. Hindarkanlah tempat yang terlalu ramai, penuh dengan kesibukan pekerjaan sehari-hari.
Tempat tersebut misalnya dapat berupa kamar, kebun, atau tempat lain yang cukup terang. Berusahalah
berlatih di tempat yang sama dan jangan sering berpindah tempat.
Kalau Anda sudah maju, maka Anda dapat berlatih meditasi di mana saja, bahkan di tempat Anda
menyelesaikan pekerjaan.

WAKTU
Waktu meditasi dapat dipilih sendiri. Sesungguhnya, setiap waktu adalah baik. Namun, biasanya orang
menganggap bahwa waktu terbaik bermeditasi adalah pagi hari antara jam 04.00 sampai dengan jam
07.00. Atau sore hari antara jam 17.00 sampai dengan jam 22.00.
Kalau Anda sudah menentukan waktu bermeditasi, pergunakanlah waktu itu sebaik-baiknya. Selama
waktu itu, Anda ‘HARUS’ mempergunakan kekuatan kemauan Anda untuk meninggalkan sementara
segala kesibukan sehari-hari seperti, pekerjaan, kesenangan, kesedihan dan kegelisahan.
Sewaktu melatih meditasi, jangan berikan kesempatan atau melayani bentuk-bentuk pikiran keduniawian
masuk ke dalam pikiran Anda. Betekadlah agar tekun dalam melakukan latihan meditasi dengan teratur
setiap harinya.
Bila meditasi Anda telah maju, setiap waktu adalah baik untuk berlatih meditasi. Kalau Anda telah
mencapai tingkatan ini, maka meditasi merupakan bagian hidup Anda sehari-hari. Dengan kata lain,
meditasi telah menjadi kebiasaan hidup Anda.

GURU
Mungkin Anda merasa memerlukan seorang guru atau pemimpin dalam melatih meditasi. Sebenarnya
tidaklah mudah mencari guru yang pandai dan sesuai untuk mengajarkan meditasi kepada Anda.
Kalau Anda mempunyai teman yang sudah berpengalaman bermeditasi, cobalah berdiskusi dahulu
dengannya. Kalau Anda mempunyai buku mengenai meditasi, bacalah dahulu buku tersebut. Dia adalah
guru Anda. Kalau Anda telah mendapatkan guru, ketahuilah bahwa guru hanyalah teman dan penunjuk
jalan Anda. Dia tidak dapat melakukan meditasi untuk Anda. Dia tidak dapat membebaskan diri Anda,
Kalau Anda sudah dapat mengatur dan memusatkan pikiran, kemudian mengembangkan KESADARAN
yang kuat, itulah yang akan menjadi guru Anda. Sesungguhnya, guru Anda saat ini telah berada dalam
diri Anda sendiri.

SIKAP DUDUK
Dalam melatih meditasi, Anda bebas memilih sikap duduk. Anda dapat bersila dengan bersilang,
bertumpuk atau sejajar. Anda juga dapat melipat kaki ke samping. Yang penting, kaki hendaknya tidak
kaku, harus kendur dan santai.
Sebaiknya, ambillah sikap duduk yang paling enak dan paling mudah. Duduklah dengan santai, jangan
bersandar, punggung harus tegak lurus namun tidak kaku atau tegang, badan harus lurus dan seimbang,
leher tegak lurus, mulut dan mata tertutup. Sikap duduk selama meditasi harus selalu waspada agar tidak lekas mengantuk.

4. Obyek meditasi

Meditasi dibedakan dalam dua macam, yaitu:
1. Meditasi untuk mencapai ketenangan.
2. Meditasi untuk mencapai pandangan terang.
Meditasi untuk mencapai ketenangan adalah suatu usaha melatih pikiran agar dapat menghasilkan
ketenangan melalui PEMUSATAN PIKIRAN.
Pemusatan pikiran adalah suatu keadaan ketika semua bentuk-bentuk batin terkumpul dan terpusat
dikendalikan oleh kekuatan kemauan ditujukan ke suatu titik atau obyek.
Jadi pikiran terpusat itu adalah pikiran yang dikonsentrasikan atau dikumpulkan ke suatu obyek. Dengan
perkataan lain, pikiran itu tidak berhamburan, melamun kian kemari. Pada umumnya, pikiran itu
berhamburan ke semua penjuru, tetapi jika mulai dipusatkan ke suatu obyek, maka kita akan mulai
mengenal sifat yang sebenarnya dari obyek itu.
Proses pemusatan pikiran itu membiasakan pikiran setingkat demi setingkat sehingga mampu
dikendalikan agar terpusat pada satu titik atau obyek.
Apakah tujuan mengembangkan pemusatan pikiran itu?
Dengan melatih pikiran sedemikian ini, maka Anda akan mendapatkan ketenangan dan keseimbangan
batin. Bahkan, akhirnya Anda dapat menghentikan pikiran yang melamun, berkeliaran menghabiskan
tenaga dengan sia-sia.
Pikiran tenang sebenarnya bukanlah tujuan akhir meditasi. Ketenangan pikiran hanyalah salah satu
keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandangan terang. Dengan perkataaan lain, ketenangan pikiran mutlak diperlukan bila Anda ingin mendapatkan PENGERTIAN BENAR mengenai diri sendiri dan dunia ini dengan semua proses dan persoalannya.
Meditasi ketenangan melatih pikiran sedemikian rupa ke dalam tingkat konsentrasi yang disebut ‘jhana’
untuk mengembangkan kekuatan batin atau kesaktian.
Keadaan konsentrasi yang kuat demikian ini sebenarnya tidak praktis atau tidak perlu bagi seseorang yang hidup di jaman kemajuan yang penuh dengan kesibukan ini. Pada umumnya, dalam kehidupan sehari-hari, pikiran selalu berlompatan ke masalah yang telah lewat atau yang sekarang, juga ke masalah yang akan datang, dari satu tempat ke tempat yang lain. Sebenarnya, hal ini hanya menghabiskan banyak tenaga.
Kalau kita dapat melatih mengendalikan pikiran dalam suatu konsentrasi yang diperlukan - tidak perlu
yang tinggi - untuk dipergunakan dalam setiap tugas yang dihadapi disetiap saat kehidupan, hal semacam ini kiranya sudah cukup baik.
Kalau Anda sedang membaca, jalan, duduk, bercakap-cakap, atau segala sesuatu yang sedang dilakukan
di dalam kehidupan sehari-hari, usahakanlah SELALU SADAR. Dengan pikiran tenang, perhatian
ditujukan ke segala sesuatu yang sedang dilakukan, yang sedang dihadapi. Belajarlah untuk memusatkan pikiran kepada setiap tugas yang sedang dihadapi. Dengan perkataan lain, HIDUPLAH SAAT
SEKARANG INI.
Kalau Anda ingin mengembangkan konsentrasi, pertama-tama, berusahalah mendapatkan obyek yang
cocok agar dapat membantu memperoleh ketenangan dan konsentrasi dengan cepat.
Terdapat 40 macam obyek meditasi. Untuk melakukan meditasi, Anda dapat memilih salah satu di antara
obyek tersebut sesuai dengan sifat pribadi Anda. Kalau tidak ada guru yang dapat memberikan petunjuk
untuk memilih salah satu obyek itu, ikutilah petunjuk di bawah ini:
1. Obyek harus netral. Kalau obyek menimbulkan perasaan negatif yang kuat, seperti: nafsu, benci, sedih,
serakah, keragu-raguan, dan sebagainya, maka obyek tersebut tidak akan dapat menenangkan pikiran,
sebaliknya hanya akan merangsang dan mengacau saja.
2. Obyek kadang kala juga terdapat dalam diri sendiri, misalnya: pernafasan, cinta kasih, belas kasihan
dan sebagainya. Atau, obyek di luar diri, misalnya: bunga, tanah, api, warna dan sebagainya.
3. Obyek harus yang menyenangkan serta dapat diterima oleh pikiran. Kalau pikiran menolak obyek itu,
maka konsentrasi akan menjadi lemah,
4. Perlu diketahui, obyek yang telah sesuai dan terbiasa Anda gunakan, tidak selalu dapat menimbulkan
konsentrasi pikiran Anda. Misalnya, sehabis marah, obyek cinta kasih sangat sukar dipakai sebagai
obyek meditasi. Pada saat tersebut, sebaiknya rasa marah dipakai sebagai obyek konsentrasi. Pikiran
merenungkan segi-segi negatif kemarahan, dengan demikian akan menimbulkan pengertian terang
yang dapat melepaskan pikiran dari cengkeraman kemarahan tadi. Demikian pula seterusnya diwaktu
timbul perasaan sediJika telah memilih suatu obyek meditasi, maka tugas Anda selanjutnya ialah
memegang obyek tersebut dengan erat dalam pikiran bagaikan mengikat seekor kuda pada sebuah
tonggak. Kunci latihan konsentrasi yaitu mengikat pikiran dengan sebuah obyek. Dengan memusatkan
pikiran pada obyek tersebut, sedikit demi sedikit pikiran akan menjadi terpisah dan terlepas dari semua
aktifitas dan lingkungan sehari-hari, akhirnya pikiran menjadi tenang.
Beberapa latihan meditasi yang dapat dikembangkan sebagai suatu latihan dasar serta merupakan bagian kesibukan Anda dalam kehidupan sehari-hari adalah:
LATIHAN UNTUK KESEHATAN
Kalau Anda sedang berjalan-jalan di suatu tempat, peganglah ketiga cita-cita ini dalam pikiran Anda,
yaitu: BERBAHAGIA, SEHAT, dan KUAT. Ulangilah kata-kata terebut di dalam batin. Pusatkan pikiran
pada kata-kata ini sehingga Anda dapat merasakan seolah-olah kata-kata tersebut terpeta pada seluruh
tubuh Anda.
LATIHAN BERPIKIR
Jika Anda sedang berpikir mengenai sesuatu hal, pikiran harus sungguh-sungguh dipusatkan pada obyek
yang sedang dipikirkan.
Pertahankanlah pemusatan pikiran itu dalam obyek yang sedang direnungkan saja. Jangan beri
kesempatan pikiran dimasuki oleh sesuatu hal lain atau yang tidak ada hubungannya dengan perenungan.
LATIHAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Kalau Anda sedang membaca buku, pusatkanlah pandangan mata dan pikiran pada buku tersebut. Kalau
sedang membersihkan lantai, pusatkanlah pikiran Anda pada pekerjaan menyapu. Kalau sedang menulis
surat, pusatkanlah pikiran Anda pada surat tersebut. Belajarlah memusatkan pikiran pada segala sesuatu
yang sedang dikerjakan dari saat ke saat. Inilah yang disebut: “HIDUP SAAT INI” atau “HIDUP SAAT
SEKARANG”.