Rajah di Punggung Dewi Hughes

Akhirnya, ya akhirnya Hughes, kamu bermasalah juga dengan lelaki (itu).
Maaf kalimat di atas merupakan permintaan maaf dari sang komentator photography kepada Hughes atas kalimat yang pernah sang komentator photography tulis tentang hughes empat tahun lalu.
“Akhirnya, ya akhirnya Hughes. Kamu menikah juga dengan lelaki itu. Karena kamu tahu manusia lebih sempurna bila berdua. Makanya ada yin ada yang, ada lingga ada yoni. Agar manusia tidak selalu main pedang atau selalu adu mulut. Tapi juga siap untuk bersatu dan berpadu kasih…”
(majalah EYE Indonesia, November 2001)
Kata-kata itu sang komentator photography buat untuk melengkapi foto-foto indah Hughes yang dibuat oleh fotografer Darwis Triadi. Sang komentator photography itu ingat sebelum bertemu dengan Hughes sang komentator photography mendapat gambaran dari Mas Darwis tentang bagaimana optimistiknya manusia Desak Made Hughesia Dewi ini. “Anak ini punya something different.” Memang dengan badannya yang gemuk, Hughes tak ragu berpose dengan pundak dan punggung terbuka, lengkap dengan rajah di punggungnya.

Nyatanya Hughes memang jenis orang yang mampu menunjukkan kelebihannya dengan menceritakan cara ia keluar dari setiap masalah. Bagaimana ia diremehkan dipecat dari pekerjaan karena urusan berat badan. Makanya saat itu sang komentator photographymenulis,”Sekali lagi kesempurnaan manusia adalah pada kesadaran diri atas kekurangannya…”
Kekaguman empat tahun lalu ini masih terbawa saat sang komentator photography dalam menyikapi urusan permasalahan Hughes dengan suaminya, Achmad Hestiafin Arifin alias Avin. Sejak Hughes menangis, diputus cerai hingga banding karena urusan harta gono gini ini. Betapa malangnya manusia Hughes ini.
Sampai suatu saat sang komentator photography bertemu seorang teman dari masa lampau. Teman yang berasal dari masa di mana ketika kami menganggap laki-laki adalah kunci pembuat dan penyelesai masalah di dunia ini. Seperti yang diajarkan guru dan bruder kami. Masa di mana kami menertawakan setiap rekan (pria) yang seperti kehilangan gairah hidup karena urusan hubungan dengan kaum perempuan.
“Lu harusnya jangan menghilangkan samasekali pemikiran seperti ketika kita SMA dulu. Memang ada jenisnya cewek yang merasa dirinya super dan menganggap laki-laki hanya sebagai bagian dari kelengkapan hdiupnya. Kalau sudah begini, apa pun yang dilakukan si laki pasti salah,” kata teman ini.
Ia kemudian memberi contoh beberapa kasus yang dialami teman-teman lama kami. “Lu tahu si X? Isterinya direktur. Dia diminta berhenti kerja dan mengurus anak saja di rumah. Katanya gaji dari kantor akan diganti oleh isterinya,” katanya. Ia kemudian memberi beberapa contoh lagi, namun sang komentator photography tidak pasti berapa banyak yang fiktif karena sejak dulu sang komentator photography mengenal sosoknya sebagai seseorang yang suka melebihkan sesuatu.
Masak sih Hughes bisa dikategorikan perempuan seperti yang dikatakan teman sang komentator photography itu? Ia memang lebih berhasil dari segi karir dan finansial daripada suaminya. Namun ia ikut atau membawakan berbagai acara yang menebarkan kebaikan, selalu tampak optimistis seperti dulu dan tidak pernah terlihat putus asa dan yakin dengan pilihan hidup yang dijalaninya.
Apa hubungannya ya? Ah, tak tahulah. Bagaimana pun manusia adalah mahluk dinamis yang selalu mencari perubahan untuk perbaikan. Hughes sekarang tentunya bukanlah seperti masa empat tahun lalu saat berfoto dengan rajah di punggungnya.