
AKU masih ingat betul malam itu, pukul sepuluh lewat lima belas menit, malam yang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Sebagaimana biasanya, aku akan menghabiskan malam seperti itu sendiri, libur dari kerjaku di Pub De L’etoile. Aku akan datang ke pub atau bar yang lain untuk menikmati musik, terutama musik-musik hitam –begitu orang-orang di sini menyebutnya. Aku sangat suka dengan satu saksofonis di Boulevard Rochereau, tidak jauh dari Sacred Cœur Monmartre yang terkenal itu. Richard, nama sang saksofonis, begitu mampu menyentuh bagian-bagian paling peka dari Muddy Waters, John Lee Hooker, BB King, atau karya-karyanya sendiri. Ingin benar sesungguhnya tampil berdua dengannya. Tapi aku sadar, jenis suara kami sangat tidak cocok untuk dipertemukan.
Malam itu, aku memang mendengar beberapa karya dari Billie Holliday atau Nat King Cole dimainkan secara tidak buruk oleh seorang pianis. Kukira keturunan Maluku atau Irian, karena ketika ia mengatakan akan menyanyikan I wonder who’s kissing her now-nya Ray Charles, tak berhasil ia menekuk langgam Afrika di lidahnya, sebagaimana memang ia maksudkan. Tapi bukan karena lagu itu kemudian aku menjadi romantis. Namun, hampir di ujung lagu tersebut, datang seorang pria ke mejaku. Dapat dibayangkan: ia membawa sebuah bunga.
Aku tak tahu arti bunga itu. Lelaki dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun itu, menyerahkan bunga sambil menawarkan diri jika aku perlu seorang teman. Aku tak punya alasan untuk keberatan, karena memang tengah malam sudah jauh terlewat, dan ada pula nafsu memenuhi rasa ingin tahuku. Betapapun, peristiwa ini cukup mengejutkan, hanya dua hari setelah aku tiba di kepulauan cantik ini. Ia memperkenalkan diri sebagai Wayan, seorang pemandu wisata. Yang mengejutkanku, lebih dari soal bunga itu, Wayan mampu berbahasa Inggris, Prancis, dan Spanyol, bahkan Jepang, dengan begitu licin, tanpa sekalipun ia mendapat pendidikan formal untuk itu. “Mau tak mau, itu sudah menjadi kebutuhan profesional,” katanya pendek. Dengan tangannya yang lincah ia menceritakan bagaimana ia pelajari itu semua dari rekan, turis, atau kliennya yang datang dari seluruh penjuru dunia.
“Lalu inilah salah satu caramu untuk menarik klien?” kataku sambil melirik bunga dan wajahnya yang setengah gelap ditimpa cahaya.
Wayan tergelak. “Jujur saja, bunga itu aku peroleh dari seorang teman, pemilik toko bunga. Aku tak tahu harus kualamatkan pada siapa. Dan kebetulan kulihat Anda. Sangat jarang, wanita pribumi yang cantik dan anggun seperti Anda, berani sendiri hingga lewat tengah malam di kota ini.”
Aku tersenyum seperti menduga kejujurannya. “Caramu yang kedua ini, tentu sangat ampuh menarik klien.”
Wayan kembali tergelak. “Aku tak pernah memuji. Bahkan karya-karya bersejarah di Bali yang begitu dikagumi ini.”
“Tapi di tempat ini juga kau sering mendapat klien baru?”
“Tidak juga. Kebetulan, anak pemilik kafe ini kenalan baikku.”
“Oh.”
Kami lewatkan malam itu tak hingga fajar. Wayan terkejut saat kuberitahukan bahwa malam itu hari ulang tahunku. Ia mengatakan dengan yakin, “Kita dipertemukan oleh nasib.” Satu keyakinan yang hingga detik ini masih terasa asing untukku. Ia tentu akan lebih terkejut jika kukatakan aku datang ke negeri ini menggunakan paspor Prancis, yang sudah lebih dua puluh tahun kupegang. Tapi tak ada pikiranku untuk mengatakan hal itu.
Yang jelas, sejak saat itu, Wayan memang menjadi pemandu perjalananku. Aku tidak pernah memintanya datang ke tempat-tempat bersejarah, yang sudah sangat kuhafal lewat buku-buku atau dapat kudatangi sendiri. Dalam kesempatan pendek ini, aku mengharapkannya dapat mengajakku masuk ke daerah-daerah di mana dapat kukenal orang Bali yang sesungguhnya. Wayang tertawa mendengar permintaanku. Ia mengatakan, di seluruh sudut Bali ini aku dapat menemukan orang Bali yang sebenarnya.
Aku bersikeras, bagiku Kuta, Nusa Dua, Denpasar, dan yang lainnya bukan Bali yang kubayangkan dan kupahami. Wayan mengatakan, secara fisik mungkin Bali berubah, tapi orangnya, tidak sama sekali.
“Kau bilang ingin mengenali orang Bali sebenarnya, kan?” tanyanya.
“Tentu saja”.
“Apa aku tak tampak sebagai orang Bali sesungguhnya?”
“Tentu saja, kau orang Bali.”
Wayan tergelak lagi. Aku senang caranya menarik tawa itu. Dari cara itu aku memang melihatnya lebih ‘bebas’ dari orang Bali lainnya. Tapi, di beberapa desa, begitu pula cara mereka tergelak. Selebihnya, Wayan adalah Bali. Hingga di lain saat aku mengetahui, Bali turun dari darah ayahnya, sementara ibunya orang Minangkabau. Sepengetahuanku, ini kombinasi yang menarik. Tapi aku tak pernah menanyakan hal itu pada Wayan.
Betapapun, Wayan tetap mengajakku masuk ke beberapa sudut desa. Termasuk Desa Trunyan di seberang Danau Batur, yang sepanjang kutahu berdiam penduduk awal atau orang asli Bali. “Mereka bukan orang Bali asal,” tukas Wayan pendek. “Mereka orang Sala.”
Aku tak bertanya lebih lanjut, bukan karena tak tertarik. Justru sebaliknya, kata terakhir itu begitu berarti untukku, karena kota itu menjadi salah satu tujuan utamaku, karena di sana pula ayahku dulu lahir. Konon sebagai kerabat atau anggota keluarga istana. Entah dari keraton yang mana. Terlalu banyak hal menarik yang kujumpai, tak memberiku kesempatan untuk bertanya lebih lanjut tentang Sala.
***
Di Tabanan, tempat kelahiran pengarang Putu Wijaya, yang terjemahan bukunya kubeli dua tahun lalu di Paris, aku sempat menghadiri sebuah rapat desa yang begitu ribut. Beberapa warga tampak menuding seseorang yang terduduk menunduk. Seorang wanita dengan dua perempuan kecil, kukira keluarganya, memperhatikan lelaki tertunduk itu dengan wajah yang bercampur sesal dan harap. Kasusnya: pencurian air. Lelaki tertunduk itu dianggap telah merusak subak.
Lelaki tertunduk itu tidak membantah. Ia mengaku terpaksa melakukan itu untuk mengairi sawahnya yang baru. Semua warga tahu kalau lelaki itu belum dua bulan datang ke desa itu. Dahulu memang ia warga di situ, tapi sudah sejak lima belas tahun yang lalu ia pindah ke Surabaya, untuk kerja di sebuah pabrik elektronik. Dan terbongkar di situ, tanah yang ia garap sesungguhnya bukan miliknya sendiri, tapi milik majikannya di Surabaya, yang konon kini kabur entah ke mana setelah memecat 4.000 pegawainya.
Pertemuan yang berlangsung hingga lewat tengah malam itu, disudahi dengan wejangan seorang pedanda. Pendeta tua itu sempat menyinggung beberapa orang untuk tidak tergesa menghunus keris, karena keadaan keseluruhan memang tengah kritis. Wayan tidak sepenuhnya menerjemahkan penutup dan keputusan rapat tersebut. Ia pun tampak khusyuk mendengarkan uraian dari pedanda. Saat pulang ia hanya berkata pendek di balik senyumnya, “Ini semata karena krisis.”
Penjelasan pendek itu pula yang ia berikan padaku, saat kulihat beberapa lelaki dan hansip menahan seorang ibu yang berteriak-teriak sambil mengucurkan air mata pada seseorang di dalam sebuah pick-up yang membawa motor di atasnya. Motor itu tidak lain milik sang wanita yang berteriak, dan harus disita karena sudah tidak mampu membayar cicilan kreditnya selama tujuh bulan terakhir. Semula ibu itu memohon-mohon karena motor itu satu-satunya sumber penghasilan sang suami yang mengojekkannya. Tapi petugas sita tak memedulikan, “Sudah lebih tiga kali kami memperingatkan. Dan ini sudah perjanjian,” begitu kata petugas sita. Dan ia langsung kabur dengan kecepatan tinggi, saat sang ibu mulai memaki-maki dengan keras bahkan melemparinya dengan batu. Beberapa tetangga berusaha menahan sang ibu. Dan sang suami? Duduk di pojokan dekat pohon bambu, memangku anak lelakinya empat tahunan. Matanya kosong.
Aku pun menggunakan penjelasan pendek itu lagi, berkaitan dengan seorang gadis cantik, bernama Sadrini Manik. Di depan kamar hotel sederhana (sebuah guest house, mereka menyebutnya) di Ubud, tempatku menginap, aku melihatnya memunguti bunga kemboja yang kemudian ia jalin di rambut atau sebagai kalung di lehernya. Ia tahu aku memperhatikannya, dan tiba-tiba ia mendatangiku dan menyelipkan dua tangkai kemboja di kedua sela telingaku. Aku tersenyum dan berterima kasih.
Sadrini sungguh anak yang menarik. Belum lepas sekolah dasar ia sudah bisa menyatakan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris. Ia bercerita bahwa ia harus keluar dari sekolah karena ayahnya tak lagi dapat membiayainya hingga ke sekolah menengah. Bahkan ia takk bisa ikut ujian akhir yang harusnya dilakukan bulan lalu. Sambil bercerita, Sadrini tak keberatan memakan roti sarapanku. Bahkan dengan senang ia menerima sekadar uang jajan yang kuselipkan di kantong roknya. Aku mempercayai kecerdasan, kecantikan dan ceritanya mengenai keluarganya. Aku pun mempercayai kemampuannya untuk lenyap dalam waktu cepat hanya ketika aku pergi ke toilet. Ia hilang tidak sendiri: tapi dengan dompetku.
Wayan tidak memercayai kejadian itu. Ia tak mengenal Sadrini. Sedang anak-anak yang ia kenal, menurutnya, tidak seperti itu. Entah jika sekarang berubah, tanyanya seperti pada diri sendiri. Sampai akhirnya, menjelang sore, seorang pemilik toko mengantarkan dompetku, yang ia temukan di tempat sampah depan tokonya. Berbagai kartu dan surat penting masih ada, tentu saja kecuali uang. Malah bertambah satu surat kecil bertuliskan, “Maafkan saya” dan setangkai kamboja yang telah mencokelat. Aku meyakini Wayan bahwa kepercayaanku pada kecerdasan Sadrini tidaklah salah.
Wayan beberapa kali menyatakan penyesalan. Aku mencegahnya, karena memang uang yang hilang tidaklah terlalu banyak. Wayan mengajukan biaya panduannya beberapa hari tak perlu dibayar untuk kerugian itu. Aku menyampaikan kekagumanku pada kehormatan dirinya, dengan memberikannya sebuah T-shirt menarik bertuliskan, “Believe it or not, it was happened”. Wayan tak mampu menolak, karena aku pun mengancam akan menolaknya jadi pemandu.
Sejujurnya, sebagai pribadi, Wayan telah mendapat respekku. Ia memberi banyak pengalaman, yang juga personal, selama satu minggu aku di Bali. Tapi aku tak dapat meluluskan permintaannya untuk mengantarku hingga Pasuruan tanpa biaya. Bukan karena aku tak senang dan tak terbiasa dengan segala hal yang gratis, tapi aku memang sudah mempersiapkan diri memasuki Jawa tanpa panduan, kecuali emosi dan daya khayal yang telah kubangun puluhan tahun. Aku mencium pipi Wayan sebelum menaiki feri, sambil berjanji –juga pada diriku sendiri– untuk kembali di minggu terakhir liburanku.
***
Aku memilih Pasuruan, tak lebih karena kota itu menjadi tempat pertemuan kedua orang tuaku, dan di situ pula ayahku mendapat gemblengan agama yang keras dari seorang kiai yang ternama. Aku merencanakan tidak menetap lama di kota itu, satu atau dua hari. Karena aku masih harus ke Sala, mungkin juga ke Yogya dan Magelang, sebelum akhirnya ke Jakarta, kota di mana aku dilahirkan tiga puluh tujuh tahun yang lalu. Tapi rencana itu meleset sangat jauh, dan aku harus tinggal di kota itu selama tiga belas hari, hanya karena aku harus berkenalan dengan dua nama: Tejo dan Sumiani.
Tejo, seorang bertampang pelajar yang menarik, fanatik, dan… simpatik. Di usia ke-32 ia belum hendak menikah karena menekuni sejarah Jawa dan merasa belum menemukan “apa atau siapa orang Jawa yang sebenarnya”. Pertanyaan itu cukup sudah membuatku tertarik. Tapi yang lebih menarik saat ia kutemukan pertama kali di sebuah gua. Gua Rama, namanya, sekitar 60 atau 80 kilometer dari Pasuruan. Gua itu tempat ziarah yang lebih banyak dipenuhi oleh orang India. Hal itu yang membuatku tertarik mendatanginya: ada apa antara gua itu dengan India?
Jawabannya kutemukan pada Tejo, yang saat itu tengah membicarakan sejarah gua tersebut dan menjelaskan hubungannya dengan sejarah Jawa, Majapahit, serta kaum Brahman yang datang ke Indonesia sejak abad pertama masehi. Beberapa pertanyaan kuajukan karena rasa tertarikku. Hingga aku tak sadar telah mendominasi pembicaraan, dan kami terlalu asyik, tak menyadari hampir seluruh pengunjung telah pulang. Saat menyadari hal tersebut, kami tersenyum bersama. Ia menawarkan untuk ikut bersama mobilnya ke Pasuruan. Dengan senang hati aku tidak menolak.
Dari Tejo, aku mengetahui bagaimana Indonesia, tidak hanya Jawa, ditaklukkan pertama kali bukan oleh bangsa Eropa, tapi oleh bangsa Arya dalam bentuk penampilan India-nya. Tentu saja dengan bentuk dan model penaklukan yang berbeda dengan model penaklukan Islam, Mongol, Romawi, Turki, atau Eropa Barat. Aku menangkap kesangsiannya tentang apa yang disebut “Jawa” hingga saat ini, sebagai Jawa yang bukan sebenarnya. Bagi Tejo, ada sejarah lain dari orang Jawa yang tertutup oleh hikayat India (alias Arya) dan sejarah linear gaya oksidental.
Di dalam mobil, juga di restoran dan sekali di depan penginapanku, aku tak hanya memerhatikan kata-kata yang muncul dari bibirnya. Tapi juga bibir itu sendiri. Daging yang cukup tebal, basah, dan seperti beruap karena hangatnya kata-kata (atau mungkin semangatnya). Hidungnya yang agak melengkung, mata agak bulat dan berkantung, rambut hitam, berminyak dan berombak… seperti ayahku. “Garis wajah bangsawan Jawa,” kata Pak Karto, sahabat terdekat ayahku, suatu kali. Aku sendiri menaruh curiga, melihat persamaan kontur itu pada orang India Utara, Persia, atau Afghan: tidakkah itu garis wajah Arya? Aku menyebut kata terakhir itu sambil mengulang nama ayahku: Aryo. Lalu menyempatkan melihat wajahku sendiri di cermin: garis meliuk tak hanya membentuk wajah, hidung, dan mataku, tapi juga bibir yang membuat almarhum suamiku mengucapkan rayuan yang paling kugemari: “Bibirmu adalah laut yang aku ingin terus berlayar di atasnya.”
“Kau juga keturunan bangsawan Tejo?” tanyaku serampangan, lebih tepat penasaran dengan spekulasiku, apalagi kutahu ia mengajar di Universitas 11 Maret, Sala.
Tejo tertawa. “Kata itu tidak punya makna banyak untukku, Aryani.”
“Dari keraton mana?” tanyaku menegaskan.
Tejo menghentikan tawanya dan mengembuskan nafas.
Aku pun tak ingin mendesaknya. Aku membiarkan dia memberi alasan kenapa ia ada di Pasuruan. Ia ingin tahu mengapa warga Pasuruan jadi begitu beringas dan agresif, menyerang umat agama lain, misalnya. Sementara ia memiliki dugaan kuat, kerusuhan agama, rasial, atau apa pun bukanlah berasal dari tabiat asli orang Pasuruan.
“Lalu karena apa?” aku mulai tertarik, tapi mataku melirik lengannya yang terbuka dengan bulu agak tebal. Dadanya tegap, tentu saja berisi, karena paru-parunya tidak digerogoti nikotin.
“Itulah yang ingin kucari,” jawabnya pendek.
“Tak ada dugaan atau asumsi lain?”
“Aku belum mau mengatakannya.”
Karena penelitiannya itulah ia bersedia membantuku sukarela mencari seseorang yang mungkin pernah menjadi kenalan ayahku, saat ia menjadi santri di kota yang keras ini. Apalagi pencarian itu memang sesuai dengan arah penelitiannya. Dan malam itu, hari ketiga aku di Pasuruan, kami habiskan dengan ngobrol bersama penduduk di sebuah warung kopi.
***
Dari kerja tekun Tejo, akhirnya kami berhasil menemukan rumah haji Siddiq yang katanya mengenal ayahku, bahkan menjadi salah satu teman terdekat ayahku selama menjadi santri. Kami menjumpai rumah itu, bangunan tua yang tampak kurang terurus. Pemiliknya bukan haji Siddiq. Rumah itu telah dijual dan keluarga haji Siddiq pindah ke pinggir kota arah Probolinggo. Tejo mengajakku langsung pergi, karena ia tahu waktuku tidak banyak.
Rumah keluarga haji Siddiq akhirnya dapat ditemukan, dan tidak lain merupakan gubuk yang hanya menyediakan satu kamar tidur dan ruang tamu kecil. Penghuninya: janda Siddiq dan anaknya: Sumiani. Yang membuat hatiku jatuh bukan karena haji Siddiq telah meninggal beberapa tahun lalu, tapi justru anaknya: Sumiani, orang yang kuharap dapat menyambung silaturahmi. Rasanya tidak mungkin menciptakan komunikasi sempurna dengannya, tapi lebih tepat meratapinya.
Aku menjumpai Sumiani tergolek di tempat tidur. Tubuhnya sangat dan sangat kurus. Sudah dua bulan ia tergolek di situ tanpa dapat bahkan menggerakkan ibu jarinya. Ia terserang penyakit gula dengan stadium yang mematikan, hingga ke nilai: 600. Penyakit gula itu sesungguhnya sudah sejak lama ia idap. Tepatnya sejak ia bekerja di Arab Saudi, sebagai tenaga kerja musiman. Empat tahun ia habiskan waktu di ‘negeri padang pasir’ itu. Empat kali ia harus pindah majikan dengan kasus yang sama: sang majikan hendak menggagahinya. Bahkan di majikan kedua, tubuhnya dihujam oleh air dan seterika panas. Aku segera teringat peristiwa di Marseille tahun lalu, ketika Prancis dikejutkan oleh berita perbudakan baru, karena ada seseorang –berkewarganegaraan Indonesia– berusaha melarikan diri dari majikannya dengan cara melompat dari jendela. Tragisnya: ia melompat dari apartemen yang terletak di lantai lima.
Selama dua tahun pertama, Sumiani bekerja tanpa mendapat gaji karena dianggap melarikan diri. Ia tak berani dan tak bisa pulang tanpa uang. Anak tunggalnya, Danang, sudah harus masuk sekolah menengah di Pasuruan. Akhirnya Sumiani mendapat majikan baru yang lebih baik, di kota lebih kecil dengan gaji lebih kecil. Dua tahun bekerja tambahan, Sumiani tak tahan ingin segera bertemu anaknya. Dengan uang hasil merantau itu, Sumiani membenahi rumah, memasukkan Danang ke sekolah menengah, membuka kios jahitan, dan memperbaiki makam ayahnya.
Tapi tak sampai setahun kemudian datang petaka baru, petaka lebih mengerikan bagi Sumiani, nenek dan anaknya. “Krismon!” kata Danang menyeru nama petaka itu. Aku mengerti nama itu dari penjelasan Tejo. Yang jelas monster “krismon” itu telah memakan kios jahitan Sumiani yang segera kehilangan pelanggan. Hidup irit tetap tak cukup dipenuhi oleh hasil penjualan baju bekas atau berbagai harta peninggalan lainnya. Lapar sesungguhnya dapat ditahan, namun lantaran terlampau sering hanya memakan ubi dan singkong, gula di tubuh Sumiani meningkat drastis.
Sumiani, satu-satunya harapan keluarga itu, akhirnya tumbang. Dua bulan ia di rumah sakit, untuk itu rumah mereka pun harus dijual dan mereka pindah ke pinggir kota. Tapi penyakit tidak jua sembuh, sama sekali tidak. Rumah sakit sudah sangat kekurangan obat. Seminggu terakhir di rumah sakit, Sumiani sama sekali tidak diurus (”Itu pun tak kami tagih biaya kamarnya,” alasan seorang petugas rumah sakit saat kutanya kemudian). Hasilnya: bibir Sumiani mulai hancur dan kakinya membusuk. Keadaan itu malah membuat ia harus keluar rumah sakit, karena pihak rumah sakit tidak mau Sumiani akhirnya mati di rumah sakit, dan satu jalan untuk “menyelamatkan nyawanya”: kaki Sumiani harus dipotong. Tapi dua kesukaran telah menghadang: biaya operasi itu sangat mahal, dan yang lebih utama, Sumiani tak mengizinkannya. “Bagaimana saya kerja untuk Danang nanti?” begitu ibu haji menirukan anaknya, sambil melukiskan betapa kaki Sumiani begitu lincah pada saat menjahit.
Sumiani harus keluar dari rumah sakit. Dan telah satu bulan lebih ia tergolek di kamarnya yang hampir tak pernah disinggahi matahari. Perban dan kain hampir menutupi tubuhnya. Apa yang dapat dilakukan nenek, anak dan cucu itu tinggal berdoa. Aku berteriak dalam hati saat memberanikan diri membuka perban di tubuh Sumiani. Aku tak bisa menemukan kata untuk menggambarkannya: penyakit gula itu seperti belatung yang menghabisi sedikit demi sedikit tubuh perempuan itu.
Aku langsung menyeret Tejo keluar dan memintanya membawa aku ke rumah sakit. Kepada kepala rumah sakit aku mempertahankan nilai kemanusiaan untuk memohon pertolongan secepatnya. Tapi dengan tenang, direktur rumah sakit itu menjelaskan, mereka tak ada uang, tak ada obat-obatan (yang harus dibeli di Surabaya) dan tambahan lagi: sekian puluh bahkan sekian ratus kasus semacam menunggu di luar pintu kantornya.
***
Aku hampir menangis putus asa. Uangku tak cukup untuk membiaya operasi yang memang tiba-tiba menjadi sangat mahal. Aku sungguh menangis saat mengingat mata Sumiani yang rusak menatapku, seperti mengatakan: “Apa kabar, bagaimana ayahmu?” Aku mengenangnya dalam keadaan yang hampir sama: aku yatim piatu, dia dicerai suaminya, dan kami memiliki anak yang hampir sebaya. Tejo meraih kepalaku dan kujatuhkan air mataku (yang lima tahun ini tak pernah kulakukan) ke dadanya yang tegap.
Esok hari dan hari-hari selanjutnya, aku dan Tejo mondar-mandir ke kantor bupati, camat, dinas kesehatan, bahkan sempat ke Surabaya meminta bantuan ke kantor palang merah setempat. Kami berhasil mendapat surat bupati yang membebaskan biaya operasi serta mendapat kiriman obat-obatan gratis yang akan datang segera dari Surabaya. Aku sempat tersenyum pada Tejo –yang selama itu, tentu saja, bekerja tanpa banyak komentar apalagi keluhan– tidak menyadari sebenarnya kesulitan terbesar belum teratasi: Sumiani tetap menolak dioperasi.
“Kau memilih untuk mati?” aku agak keras mendesak Sumiani untuk ke sekian kali.
“Sumiani menjawab dengan anggukan kecil. Matanya seperti jurang.
“Kau memilih meninggalkan ibumu?” aku mendesak lagi.
Sumiani mengangguk lebih kecil. Matanya nanap.
“Kau pun ingin meninggalkan Danang, tanpa ayah tanpa ibu?” Aku lebih keras, seperti melihat diriku sendiri.
Sumiani kali ini tidak mengangguk. Matanya berkabut, lalu air membasahi luka sepanjang lubang mata yang menganga itu.
Aku tak dapat menahan diriku. Kupeluk wanita itu. Kami menangis bersama. Begitu lama. Hingga tak sadar, karena terlalu lelah, aku tertidur. Aku terbangun menjelang subuh, terduduk di sebelah Sumiani dan selimut cokelat di tubuhku. Selimut Tejo yang selalu ia bawa di mobilnya. Aku lihat Sumiani. Matanya terbuka. Memang selalu terbuka, karena kelopaknya kini sudah hancur sama sekali. Aku menangis lagi. Betapapun bencinya aku pada kecengengan ini. Tapi, aku tak peduli.
Dua hari dua malam aku di kamar Sumiani, sebagai ekspresi permohonanku untuk operasi itu. Tapi Sumiani tak bergeming. Terakhir aku mendesaknya, mata wanita itu sudah tak memandangku lagi. Hanya air masih mengalir di lubang itu. Aku frustrasi. Kutoleh ibu haji, namun wanita tua itu hanya mengangkat pundak, dan kelopak matanya seperti mengatakan: “Anakku sudah memilih nasibnya sendiri.” Tejo berusaha menghiburku. Aku protes dan meminta Tejo membawa dengan paksa Sumiani ke rumah sakit. Tapi Tejo tak mau tanpa izin Sumiani, lagipula operasi tak dapat berjalan tanpa tanda tangan Sumiani sendiri. Ibu haji pun bingung. Aku berteriak. “Kalau begitu, lekaskah datangkan maut! Lekaskan ia pergi! Lekaskan ia mati!!!”
Aku mulai histeris. Tak lagi terbayang, penyakit itu kian dahsyat di hari kedua belas aku di Pasuruan. Kedua telapak kaki Sumiani telah habis bahkan hingga mata kaki. Pantatnya sudah berlubang sebesar kepalan tangan, sehingga ia mulai tidur miring selalu. Dan… aku tak dapat melukiskannya lagi. Aku berlari keluar. Aku berlari, biar hari telah gelap. Semua kata doa habis sudah kuucap, kuulang dan kuulang lagi.
Aku sudah tak sadar di mana aku. Sampai aku tersentak mendengar teriakan-teriakan. Tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku segera berlari menghampiri, dan pikiranku berkelebat: “Sumiani?!” Kekhawatiran melesak di hatiku. Tapi, aku menjumpai sumber suara ribut bukan berasal dari arah rumah Sumiani. Di arah berlawanan kulihat beberapa orang membawa obor ke arah sebuah kerumunan. Di tengah kerumunan itu, kulihat dua lelaki berhadapan. Yang satu telanjang dada, yang lain berkaus lurik. Yang satu membawa parang besar, yang lainnya menggenggam celurit.
Di belakang mereka tampak istri dari masing-masing, lengkap dengan seluruh anak mereka. Mereka berteriak-teriak, bahkan sebagian hampir histeris, mencoba menghentikan pertempuran yang tampaknya sudah tak terelak lagi itu. Anak-anak mereka menangis. Kedua lelaki itu tetap memaki dan saling menyalahkan. Masalahnya: lelaki bertelanjang dada mencabut singkong yang ia tanam dahulu, namun lelaki berkaus lurik bersikeras singkong itu tumbuh di tanah miliknya. Sebenarnya singkong itu tumbuh hanya sebagai pagar pembatas tanah. Tapi suasana sudah panas tak terdinginkan.
Kedua lelaki itu sudah memainkan senjatanya masing-masing. Mereka telah ambil kuda-kuda. Kedua istri mereka kian histeris, anak-anaknya turut lebih keras menangis. Aku mendesak orang-orang di sekitar untuk melerai. Tapi tampaknya perkelahian tak dapat dihindarkan. Aku memandang kedua lelaki itu dengan gugup. Karena beberapa batang singkong! Aku tak pernah berhasil membayangkannya. Lelaki bertelanjang dada dengan parang besar itu telah berteriak akan memulai serangan. Aku melihat salah seorang anak dari kubu lelaki berkaus lurik berlari ke tengah gelanggang sambil menjerit: “Bapaakkk!!”
Dalam detik itu, tak ada kesadaran lain yang kumiliki: aku berteriak sangat keras, yang tak terbayang dapat kulakukan sebelumnya, dan melompat dengan seluruh refleks yang kumiliki. Sebuah gerakan licin dan latihan senam yang rutin, atau entah apa, berhasil membuatku merenggut tubuh anak kecil itu. Kami bergulingan di pinggir.
Dengan sangat sigap kedua lelaki itu menghentikan gerakannya. Lalu sunyi. Semua orang terdiam dan memandang ke arah kami: aku dan anak kecil itu, yang hampir saja tertebas lehernya oleh parang. Cukup lama keheningan itu tercipta, hingga akhirnya kupecahkan dengan suara yang hampir menjadi tumpahan rasa frustrasi, histeria, atau kemarahan yang begitu dalam terpendam.
“Kalian tidak hanya akan membunuh satu orang dengan senjata itu,” kataku pada kedua lelaki itu. “Tapi juga mereka yang ada di belakangmu.” Aku lepas anak kecil itu, yang segera berlari menggelayuti kaki ayahnya. Aku melihat wajah Sumiani dan Ratna, anakku, mengembang di cahaya obor yang timbul tenggelam. Kedua lelaki itu terdiam. Cahaya di mata dan senjata mereka menyusut. Berusaha lebih tenang, aku tanyakan harga singkong yang telah dicabut. Seseorang menyebutkannya dari balik kerumunan. Aku mengeluarkan sejumlah uang dari dompetku, menyodorkannya pada si baju lurik sebagai pengganti singkong yang dibawa oleh si telanjang dada.
Kedua lelaki itu berdiam. Matanya menatap gelap atau dasar tanah. Sang istri lelaki telanjang dada beraksi, mengambil seluruh singkong dan menyeret anak-anaknya pulang. Anaknya yang tertua juga menyeret tangan ayahnya. Mereka lenyap ditelan gelap. Aku tidak melepaskan momen itu, menyelipkan uang di tanganku ke kantong celana si baju lurik. Lelaki itu berusaha menghindar dan berlalu cepat. Ia pun hilang, bersama uang itu. Anak-anak dan istrinya memandangku. Aku berusaha tersenyum, dan menyelipkan satu lembaran ke tangan masing-masing anaknya.
“Baik, sekarang pulanglah!” kataku.
Tapi mereka tak bergerak. Apalagi? Sang ibu mengucapkan beberapa kata terima kasih. Dan aku memutuskan, jika mereka tak pulang, aku pulang mendahuluinya. Namun begitu aku membalikkan badan, kulihat tepat di hadapanku belasan atau puluhan anak berjajar dan bergerak mengurungku. Pandangnya sama, lirikannya sama: ke arah lembaran-lembaran itu. Tak ada kata yang bisa kuucapkan. Aku tahu itu. Pengertian di sini bukanlah kata-kata, namun tindakan. Tergerak, aku mulai mengeluarkan lembaran demi lembaran dari dompetku. Hingga habis. Hingga tubuhku habis dihimpit oleh anak-anak itu. Napasku sesak. “Sudah… sudah… sudah habis,” aku coba melerai. Namun mereka tetap merangsek. Aku panik.
“Sudah… sudah… sudah habis! Ayo, pulang semua!!”
Kali ini bukan suaraku. Kulihat Tejo menghambur cepat dan membubarkan anak-anak itu. Aku menggapai dan ia meraih tubuhku yang kini menggigil. Kedatangan lelaki itu seperti sebuah rahmat. Pelukannya hangat dan membuatku merasa aman. Dan malam terlalu pekat.
Kami tinggalkan tempat itu dengan cepat. Sempat kulihat di balik kegelapan malam, ternyata masih sangat banyak orang tak terlihat: remaja, anak muda, bahkan orang tua. Aku bergidik membayangkan jika mereka yang mengurungku.
“Mereka cuma anak-anak. Tenangkan hatimu.” Tejo menghiburku, dan memberiku teh hangat setiba di rumah.
Aku sudah tak punya kata. Aku merasa sangat kecil dan tak berdaya. Negeri ini membuatku bergetar tiada habisnya. Ia memilukan, tapi hatiku penuh olehnya. Apa pun bentuk getaran itu, ia membuatku seperti sayap yang pertama kali terbang. Aku ingin meminta Tejo memelukku lagi. Aku tak berani.
“Pengalamanmu sangat banyak di sini, Aryani,” kata Tejo lagi.
Aku tak berkomentar.
“Tidurlah. Kau sangat letih.”
Aku memandangnya, berterima kasih.
“Aku berangkat besok, Tejo!”
“O ya?” ia terdiam sesaat. “Aku antar kamu,” katanya lagi.
“Terima kasih, tidak perlu.”
“Sekaligus aku pulang ke Sala.”
“Aku tidak ke Sala.”
“O ya?”
“Aku langsung ke Jakarta.”
Tejo tak bicara lagi.***