Archive for March, 2005

Kekuatan TNI AL

Thursday, March 31st, 2005

Layakkah personel Angkatan Bersenjata kita melindungi negara “KEPULAUAN” kita ????

Harusnya kita bercermin dari banyaknya negara yang berusaha “melirik” dan “menguasai” negeri ini.

Coba sedikit kita tilik kekuatan AL kita………..

ARMADA

Keamanan perairan Indonesia terletak di pundak TNI AL yang menjaganya dengan sistem pangkalan-pangkalan utama dan Pangkalan Angkatan Laut. Masing-masing mempunyai fasilitas dan tugas.

KEKUATAN

Saat ini TNI AL memiliki sekitar 40 ribu prajurit, termasuk di dalamnya 13 ribu personel marinir dan seribu penerbang/personel udara AL. Kekuatan TNI AL secara garis besar sebagai berikut:

(A) Kapal Republik Indonesia (KRI) berjumlah 116 kapal, 8 KRI dalam status konservasi, proses penghapusan, dan cadangan. Sisanya, 108 KRI, dibagi menjadi tiga kelompok kekuatan:

1. Kekuatan Pemukul (Striking Force) terdiri dari 14 KRI yang memiliki persenjataan strategis:
- 2 kapal selam kelas Cakra.
- 3 perusak kawal rudal (PKR) kelas Fatahillah dan 1 PKR kelas Ki Hajar Dewantara serta 4 kapal cepat roket (KCR) kelas Mandau.
- 2 kapal cepat torpedo (KCT) kelas Ajak.
- 2 buru ranjau (BR) kelas Pulau Rengat.

2. Kekuatan Patroli (Patrolling Force) berjumlah 46 KRI.

3. Kekuatan Pendukung (Supporting Force) berjumlah 48 KRI, terdiri dari: 8 angkut tank (AT) kelas Teluk Langsa, 4 AT kelas Teluk Semangka, 2 AT kelas Teluk Banten, 8 AT Kelas Frosch, 1 markas (MA) kelas Multatuli, 6 penyapu ranjau (PR) kelas kondor, 5 bantuan cair minyak (BCM), 1 bengkel apung (BA) kelas Jayawijaya, 3 bantu tunda (BTD), 3 bantu umum (BU), 1 bantu angkut personel (BAP) kelas Tanjung Kambani, 3 bantu hidrooseanografi (BHO) kelas Pulau Rondo, 1 BHO kelas Dewa Kembar, dan 2 kapal latih.

(B) Kapal Angkatan Laut (KAL) adalah kapal patroli yang berfungsi untuk mendukung Pangkalan TNI AL (Lanal) dalam melaksanakan tugas-tugas patroli keamanan laut dan tugas-tugas dukungan lainnya.

(C) Pesawat udara berjumlah 61 unit, terdiri dari 48 sayap tetap dan 13 sayap putar.

(D) Peralatan tempur korps marinir sejumlah 417 kendaraan tempur (ranpur), tetapi 307 ranpur berusia di atas 30 tahun, 37 ranpur berusia 21-30 tahun, sisanya 73 ranpur berusia 1-10 tahun.

PAGAR LAUT

Kekuatan TNI AL terdiri dari dua Komando Armada, masing-masing Armada Timur di Surabaya dan Armada Barat di Jakarta. Masing-masing membawahi sejumlah pangkalan utama.

Pangkalan Utama I (Lantamal I) di Belawan, membawahi 4 Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Sabang, Sibolga, Teluk Bayur, dan Dumai. Satu Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Sabang, dan dua fasilitas pemeliharaan dan perbaikan (Fasharkan) di Sabang, Belawan.

Pangkalan Utama II (Lantamal II) di Jakarta, membawahi 7 Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Bengkulu, Palembang, Cirebon, Bandung, Panjang, Banten, Bandung, dan Bangka Belitung.

Selain itu, memiliki satu fasilitas pemeliharaan dan perbaikan di Pondok Dayung, Jakarta. Fasharkan Pondok Dayung ini sekarang memiliki kemampuan membuat kapal patroli jenis KAL ukuran 28-35 meter.

Pangkalan Utama III (Lantamal III) di Surabaya membawahi lima Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Cilacap, Semarang, Yogyakarta, Banyuwangi, dan Mataram.

Pangkalan Utama IV (Lantamal IV) di Makassar, membawahi empat Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Kendari, Palu, Balikpapan, dan Banjarmasin.

Mako Pangkalan Utama V (Mako Lantamal V) di Jayapura, membawahi tiga Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Sorong, Biak, dan Manokwari.

Mako Pangkalan Utama VI (Mako Lantamal VI) di Ternate.

Pangkalan Utama VII (Lantamal VII) di Tanjung Pinang membawahi 6 Pangkalan Angkatan Laut, yaitu Batam, Pontianak, Tarempa, Ranai, Tanjung Balai Karimun, dan Dabo Singkep. Lantamal Tanjung Pinang memiliki satu fasilitas pemeliharaan dan perbaikan (Fasharkan) di Mentigi yang punya kemampuan membuat kapal patroli (KAL) 12, 28, dan 35 meter.

Di samping itu, memiliki 2 Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) berada di Matak, Kepulauan Natuna, dan di Tanjung Pinang/Kijang.

Pangkalan Utama VIII (Lantamal VIII) di Maluku membawahi Pangkalan Angkatan Laut Ambon.

RASULULLAH SAW: MANUSIA PILIHAN

Wednesday, March 30th, 2005

Menurut kalender Hijaiyah hari Kamis yang akan bertepatan dengan tanggal
12 Rabi’ulawal 1417 H. Kira-kira 1450 tahun yang lalu di dekat
Baitullah Makkah Almukaramah lahirlah seorang bayi yang kemudian hari
dikenal sebagai Muhammad. Bayi inilah yang kemudian membawa banyak
perubahan besar Makkah, jazirah Arab dan seluruh dunia bahkan semesta
alam. Kehadirannya di muka bumi oleh Allah di Surat AnNabya:107
dikemukakan sebagai rahmat bagi semesta alam: “wamaa arsalnaaka illa
rahmatanlil `alamin” Kami utus engkau semata-mata sebagai rahmat bagi
semsta alam” Kehadirannya membawa perubahan: dari gelapnya jahiliyah
menjadi terang benderangnya kehidupan di bawah sinar ilahiyah, dari
bangsa kolot penunggang unta menjadi bangsa yang memimpin dan mencatat
peradaban dunia, dari bangsa yang menghina, mengubur hidup-hidup dan
mewariskan perempuan menjadi bangsa yang mengahargai tinggi derajat
wanita.
Ok, pada kesempatan ini perkenankanlah dengan kerendahan hati,
saya ingin memberikan beberapa point tentang kepribadian rasuluLLah
sang penutup nabi-nabi, pribadi tersempurna di sepanjang sejarah
kemanusiaan. Tinjauan tentang kehidupan rasuluLLah sebagai pemimpin
agama, pemimpin negara, pemimpin militer sudah banyak ditulis oleh
ahli sejarah baik dari kalangan orang islam atau sejarawan non-Muslim.
Demikian juga dengan biografi rasuluLLah. Yang kadang sangat sukar
ditemui adalah tulisan yang memperhitungkan dimensi spiritual dari
kehidupan seorang manusia istimewa “intan di tengah jutaan batuan”
manusia biasa. Tulisan ini akan saya dasarkan atas hadits rasuluLLah
tatkala mendeskripsikan dirinya sendiri. Tentu saja uraian dan
jabaranya sesuai dengan penafsiran saya, dan karena itu bila ada
kesalahan tentu tak terlepas dari kekurangan saya. Dalam banyak tempat
saya akan merujuk ke Qur’an karena sebagaimana Aisyah tatkala ditanyai
sahabat, bagaimana aklak rasuluLLah, sahabat menjawab akhlak rasuluLLah
adalah Qur’an.
RasuluLlah Muhammad saw., kekasih Allah, dalam sebuah hadits mengatakan:
Meditasi ke Allah adalah modal utamaku,
Alasan dan logika yang masuk akal adalah akar dari agamaku,
Cinta kasih adalah dasar keberadaanku,
Kesungguhan adalah kendaran kehidupanku,
Mengingat Allah adalah sahabatku,
Keyakinan adalah sumber kekuatanku,
Dukacita adalah kawanku,
Pengetahuan adalah senjataku,
Kesabaran adalah pakaian dan kebiasanku,
Mengabdi kepada Allah adalah kebanggaanku,
Kebenaran adalah isi ucapanku,
Ibadah adalah keseharianku,
dan dalam shalat terletak kesejukan mataku dan kedamaian pikiranku.
KITA AWALI DENGAN POINT YANG SAYA KELOMPOKKAN DALAM AQIDAH
Meditasi ke Allah adalah modal utamaku, Mengingat Allah adalah
sahabatku, Keyakinan adalah sumber kekuatanku Mengabdi kepada Allah
adalah kebanggaanku, Ibadah adalah keseharianku dan dalam shalat
terletak kesejukan mataku dan kedamaian pikiranku.
Rangkaian kata-kata di atas menandaskan hal-hal tentang ibadah,
shalat, zikir dan pengabdian kepada Allah yang merupakan modal
utama, sumber kekuatan, kebanggaan dan keseharian RasuluLLah.
Shalat adalah perintah kedua secara nuzulnya dalam Qur’an setelah
perintah membaca dalam surat al `Alaq (1-5). Dalam surat al-
Muzzamil (1-4) Allah berfirman: “Ya ayyuhal muzammil Qumillaila illa
qalila Nishfahuu awinqush mihu qaliila Aw zid alaihi warattilil
qur’aana tartilaa”. “Hai orang yang berselimut Bangunalah untuk
melakukan shalat malam ini yang hanya sebagian kecil atau separunya
atau kurang dari itu sedikit atau lebihkanlah dan bacalah Qur’an
dengan perlahan dengan nada berirama”. Rasulullah dan sahabat selalu
melaksanakan perintah Allah ini sebagaimana juga tercantum dalam surat
ini ayat 20: yang terjemahnya: “Aku tahu bahwa engkau menegakkan shalat
hampir dua pertiga malam atau setengahnya atau sepertiganya dan
sebagian mereka bersama engkau. (Dalam tafsir Yusuf Ali disebutkan hal
ini merupakan beban berat bagi mereka terutama saat-saat kesehatan
terganggu); Allah menentukan malam dan siang. Dia tahu bahwa engkau
tak akan dapat menghitungnya (Yusuf Ali: Mematuhi dan melaksanakan
ibadah harus sekuat mungkin kita tentukan waktunya,sesuai dengan
kemampuan dan kesempatan yang ada pada kita masing-masing dan
sebagaimana akan jelas pada potongan ayat selanjutnya tidak hanya
dengan shalat malam). Ia memberi tobat kepadamu maka bacalah Qur’an
mana yang mudah bagimu. Dia tahu sebagian kamu sedang sakit, sedang
dalam perjalanan, mencari karunia Allah, yang lain lagi sedang
berjuang di jalan Allah. Maka bacalah Qur’an mana yang mudah bagimu;
dirikan shalat dan tunaikan zakat dan pinjamkan kepada Allah pinjaman
yang baik. Segala kebaikan yang telah kamu kerjakan untukmu kamu akan
mendapatkannya di sisi Allah lebih baik dan lebih besar pahalanya:
mohon ampunlah kepada Allah, Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.”
Kalau kita rangkum isi ayat di atas kita dapatkan bahwa ibadah sekuat
mungkin harus kita tempatkan dalam prioritas dan kesibukan kita.
Kebaikanlah yang akan meningkatkan kadar rohani dan mertabat kita di
hadapan Allah. Namun walau apapun kebaikan yang kita perbuat, kalau
dihitung tidaklah cukup berarti. Di sinilah kemudian letaknya karunia
Allah. Karunia Allah akan menghapus kekurangan dan kealpaan kita.
Ketakmampuan kita bila kita tenggelam dalam cobaan dunia seperti
diisyaratkan seperti ketakmampuan orang Arab dulu menghitung secara
tepat sepertiga atau setengah malam secara persis, itulah maka perlunya
kita berproses dan berusaha secara kontinu meningkatkan kuantitas dan
kualitas ibadah kita yaitu dengan cara sebagaimana rasuluLLah saw
mengatakan menjadikan: Meditasi ke Allah sebagai modal utama,
Mengingat Allah sebagai sahabat, Keyakinan sebagai sumber kekuatan,
Mengabdi kepada Allah sebagai kebanggaan, Ibadah sebagai keseharian,
dan mencari kesejukan mata dan kedamaian pikiran dalam shalat.
Insya Allah dengan demikian walau kecil yang kita lakukan dengan
karunia Allah, kita akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan ini.
Sebagaimana kesuksesan rasuluLLah.
MARI KITA LANJUTKAN PADA POINT YANG SELANJUTNYA:
Alasan dan logika yang masuk akal adalah akar dari agamaku,
Pengetahuan adalah senjataku. Dalam banyak tempat di Qur’an
disebutkan teguran “tidakkah engkau renungkan, tidakkah engkau
pikirkan?”, dan semacamnya. Rasullulah juga mewajibkan mencari ilmu
bagi muslim dan muslimat. Kunci kebahagian di dunia adalah ilmu,
kunci kebahagian di akhirat adalah ilmu, dan kunci untuk kebahagian di
kedua dunia itu juga ilmu. Pengetahuan haruslah meningkatkan tidak
hanya kemampuan kognitif kita, namun bersaman dengan itu kemampuan dan
martabat rohani juga harus meningkat. RasuluLlah saw. Bersabda “Tidak
ada pemberian ortu kepada anaknya yang lebih baik dari pengajaran
adab”; dalam hadits lain “Pengajaran adab seorang ayah/(dan juga ibu)
kepada anaknya jauh lebih baik dari shadaqah jariyah”. Singkatnya
pengetahuan tentang ilmu-ilmu kauniyah atau ilmu alam/ilmu sosial
adalah sebagai instrumen untuk dapat memanfaatkan alam yang
dikaruniakan kepada kita, atau kalau menurut bahasa Iqbal: agar kita
dapat menciptakan arca dari tanah liat yang Allah ciptakan sedangkan
ilmu qur’aniyah akan membimbing atau memberikan prosedur bagaimana
instrumen harus digunakan untuk: mengerti bahasa yang harus kita
gunakan untuk mengabdikan diri kita kepada Allah.
POINT SELANJUTNYA:
Cinta kasih adalah dasar keberadaanku. Sebagai contoh kita kenang
bagaimana kasih sayang rasul pada cucu-cucunya, misalnya rasul sengaja
memanjangkan sujudnya karena cucu-cucunya menaiki punggungnya.
RasuluLlah memarahi sahabat yang katanya tak pernah sekalipun mencium
anaknya. Dalam kesempatan lain seorang sahabat sempat marah gara-gara
bayinya kencing dalam gendongannya, rasuluLlah menegurnya dan
menyuruhkan agar selalu bersikap sayang pada bayi, karena itu akan
terbawa terus sampai nanti besar. Cinta kasih adalah dasar kehadiran
kita di muka bumi, dasar dari keberlangsungan kita juga karena kasih
sayang atau rahman-rahim Allah. Kahlil Gibran mengatakan cinta itu
kata cahaya, ditulis dengan cahaya, di atas lembaran cahaya. Perintah
menyambung silaturahim itu berkaitan dengan dasar ini. Allah dan
rasulnya meminta kita untuk menyambungkan silaturahmi, karena akan
memanjangkan umur dan memudahkan rizki. Cinta kita pada rasul dan
Islam marilah juga kita wujudkan dalam bentuk niat kita untuk
menjadikan cinta sebagai dasar keberadaan kita.
POINT SELANJUTNYA
Kesungguhan adalah kendaran kehidupanku. Tugas rasuluLLah adalah
tugas yang maha berat. Tantangannya yang tak terbayang beratnya.
Tapi rasuluLLah selalu tabah dan sungguh-sungguh dalam
melaksanakan tugasnya, dan itulah kunci keberhasilan rasuluLLah.
Menghadapi tantangan kafir Quraisy untuk menghentikan da’wahnya
rasuluLlah menjawab: Seandainya mereka meletakkan matahari di
tangan kananku, bulan di tangan kiriku agar menghentikan da’wahku,
maka tak akan aku hentikan atau aku hancur binasa.
Dasar keyakinan atau aqidah yang kuat dan kesungguhan membuat
perjuangan rasuluLLah yang nampaknya sebagai suatu mission yang
sangat impossible menjadi suatu misi yang sangat possible. Oleh
karena itu marilah kita jadikan kesungguhan sebagai kendaraan kita.
sebagai kendaraan kita.
POINT SELANJUTNYA, Dukacita adalah kawanku. Sama
dengan manusia biasa kita juga mengalami duka cita. Bahkan mungkin
lebih tinggi intensitasnya dari pada kita,: Dalam tingkat personal dan
kemanusiaan rasuluLLah kehilangan kedua ortunya pada usia yang masih
sangat belia, kesulitan material, kesendirian, tekanan sosial dan
prakstis semua duka cita beliau pernah alami. Kemudian hari berbagai
kesusahan hidup juga rasuluLlah alami: kehilangan istri kesayangan
Khadijah pada saat tekanan sosial dari kafir quraisy mencapai
puncaknya, kematian anak laki-laki pada usia mereka sangat muda,
keingkaran dari kaum Quraisy dan tekanan secara terus-menerus dari
kaum kafir karena ketegaran rasuluLlah menda’wahkan islam. Tapi
walaupun duka cita, rasuluLlah tak pernah putus harapan dan selalu
tawakal kepada Allah. Beliau jadikan: Kesabaran sebagai pakaian dan
kebiasan
dan inilah kunci kesuksesan beliau rasuluLlah Al Mustafa, manusia
terpilih. Karena beliau telah memikul kesedihan dan penderitaan
hidup demi membimbing kita maka Allah dan para malaikat meberikan
rahmat kepadanya sebagai manusia terbesar. Maka lebih-lebih kita,
kita diberi perintah untuk memberi shalawat dan salam kepada beliau:
Innallaha wamalaikatahu shalu `ala nabi yya ayyuhaladzina amanu shalu
alaihi wasalimu taslima.
POINT SELANJUTNYA Kebenaran adalah isi ucapanku.
Inilah yang menjadi sebab rasuluLlah mendapat gelar al-Amin.
Dan ini pulalah salah satu pilar Islam. Kebenaran yang menjadi inti
keadilan harus dilakukan walaupun apapun tebusannya:
Ya ayyuhaladzina amanu kuunu qauwamina bilqisthi syuhada a.
Lillahi walau ala anfusikum
awil walidaini wal aqrabaini Iyyakung ghasiyan aw faqiraa
Hai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak keadilan menjadi saksi
karena Allah meskipun terhadap diri sendiri terhadap orang tuamu,
terhadap kerabatmu, baik ia kaya atau miskin. Keadilan juga harus tak
pandang warna kulit, juga terhadap musuhpun keadilan harus ditegakkan.
Dan inilah jihad yang paling besar: jihad yang paling besar adalah
mengatakan kebenaran dihadapan penguasa tiran.
KESIMPULAN
Sebagai simpulan dari yang kita bicarakan di atas,: RasuluLlah adalah manusia
biasa yang mempunyai berbagai keluarbiasaan. Kehadirannya sebagai
manusia biasa, dengan berbagai sifat yang sangat menawan, misalnya
sifat humorisnya menjadikan dan memungkinkan kesuksesannya. Suatu
saat rasuluLLah di hadapan seorang yang sudah manula mengatkan: “Tak
akan ada nenek-nenek masuk surga”, kontan sang nenek menangis, dan
rasuluLlah pun segera meneruskan “Tak akan ada nenek-nenek msuk surga,
karena semuanya menjadi muda kembali”. Akhlak rasuluLlah adalah
Qur’an, dan tugas kita adalah meneladani jejak langkah beliau karena
salah satu tujuan diturunkannya rasuluLLah adalah sebagai uswatun
hasanah: Contoh yang paling mulia bagi kemanusiaan.
Walahu’alam bissawab.

Cara bermeditasi

Tuesday, March 29th, 2005

Dalam dunia ini, apakah yang dicari oleh kebanyakan orang dalam hidupnya? Sebenarnya, mereka ingin
mencari ketenangan batin dan keselarasan hidup. Tidak sedikit di antara mereka berusaha mencarinya,
walau mungkin mereka tidak mengetahui dengan jelas apa yang hendak dicarinya, atau mungkin cara
mendapatkannya.
Mereka sering merasa bingung, merasa banyak menjumpai kekacauan dan kekalutan batin. Mereka
diserang oleh bermacam-macam perasaan yang tidak memuaskan atau yang kurang menyenangkan
hatinya. Secara singkat mereka ini tidak mendapatkan ketenangan dan kesejahteraan dalam batinnya.
Kebanyakan mereka ini kemudian menempuh cara yang salah untuk mendapatkan ketenangan batin dan
keselarasan hidup ini. Mereka cenderung melihat dan mencari di luar dirinya sendiri. Akibatnya, dunia ini
merupakan sumber semua kegelisahan.
Mereka mencari penyelesaian persoalannya dalam keluarganya, di dalam pekerjaannya,atau di dalam
pergaulan dan sebagainya. Mereka beranggapan kalau dapat mengubah keadaan sekelilingnya, mereka
akan menjadi tenang dan bahagia.
Sekarang sudah banyak dijumpai orang yang telah menyadari kenyataan dan berpaling, yaitu
menunjukkan perhatiannya kepada sumber yang sebenarnya dari kebahagiaan dan kegelisahan, ialah
PIKIRANNYA SENDIRI. Menunjukkan perhatian ke dalam diri sendiri, dalam pikirannya sendiri,
inilah yang dinamakan dengan meditasi.
Dewasa ini meditasi telah banyak dipraktekkan oleh orang-orang dari berbagai bangsa dan agama.
Mengapa demikian?
Karena kerja pikiran itu tanpa memakai corak bangsa atau agama tertentu. Jadi tugas meditasi adalah
untuk mengerti atau menghayati sifat pikiran di dalam kehidupan sehari-hari.
Pikiran adalah kunci kebahagiaan, sebaliknya juga merupakan sumber penderitaan / malapetaka.
Untuk mengetahui dan mengerti perihal pikiran dan menggunakannya dengan seksama tidaklah
hubungannya dengan agama. Jadi meditasi dapat dilaksanakan oleh setiap orang tanpa menghiraukan
corak agamanya.

2. Faedah meditasi
Sungguh banyak yang dapat dikerjakan oleh setiap orang untuk mendapatkan kesenangan duniawi dalam lingkungan yang penuh dengan kesibukan dan kekacauan ini. Jika memang benar demikian halnya………, mengapa kita harus bermeditasi? Apakah gunanya kita membuang waktu untuk duduk diam bersila dengan bermalasan? Sesungguhnya apabila Anda dapat melaksanakan meditasi dengan cara yang benar, maka meditasi akan dapat memberikan banyak manfaat untuk diri sendiri:

Beberapa manfaat yang bisa Anda rasakan langsung adalah:
1. Bila Anda seorang pedagang yang selalu sibuk, meditasi menolong membebaskan diri Anda dari
ketegangan sehingga Anda menjadi relaks.
2. Kalau Anda sering berada dalam kebingungan, meditasi akan menolong menenangkan diri Anda dari
3. Bila Anda mempunyai banyak persoalan yang seolah-olah tidak putus-putusnya, meditasi dapat
menolong Anda untuk menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan
untuk mengatasi persoalan tersebut.
4. Bila Anda tergolong orang yang kurang mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, meditasi dapat
menolong Anda untuk mendapatkan kepercayaan terhadap diri sendiri yang sangat dibutuhkan.
Memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri adalah kunci rahasia kesuksesan Anda.
5. Kalau Anda mempunyai rasa ketakutan dan keraguan, meditasi dapat menolong Anda untuk
mendapatkan pengertian yang benar terhadap keadaan yang menyebabkan ketakutan itu, dengan
demikian, Anda dapat mengatasi rasa takut tersebut.
6. Jika Anda selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam kehidupan ini atau yang berada
dalam lingkungan Anda, meditasi akan memberi Anda perubahan dan perkembangan pola pikir
sehingga menumbuhkan rasa puas dalam batin Anda.
7. Jika Anda ragu-ragu dan tidak tertarik terhadap agama, meditasi akan dapat menolong Anda
mengatasi keragu-raguan itu sehingga Anda dapat melihat nilai-nilai praktis dalam bimbingan
agama.
8. Jika pikiran Anda kacau dan putus asa karena kurang mengerti sifat kehidupan dan keadaan dunia
ini, meditasi akan dapat membimbing dan menambah pengertian Anda bahwa pikiran kacau itu
sebenarnya tidak ada gunanya.
9. Kalau Anda seorang pelajar, meditasi dapat menolong menimbulkan dan menguatkan daya ingat
Anda sehingga apabila Anda belajar akan lebih seksama dan berguna.
10. Kalau Anda seorang yang kaya, meditasi dapat menolong Anda untuk melihat sifat kekayaan dan
mampu menggunakannya dengan sewajarnya, untuk kebahagiaan Anda sendiri maupun kebahagiaan
orang lain.
11. Jika Anda seorang yang miskin, meditasi dapat menolong Anda agar memiliki kepuasan dan
ketenangan batin. Dengan demikian, Anda akan terhindar dari keinginan untuk melampiaskan rasa iri
hati Anda kepada orang lain yang lebih mampu atau yang lebih berada daripada Anda.
12. Kalau Anda seorang pemuda yang kebingungan sehingga tidak mampu menentukan jalan hidup ini,
meditasi dapat menolong Anda untuk mendapatkan pengertian tentang kehidupan sehingga Anda
dapat menempuh salah satu jalan yang benar untuk mencapai tujuan hidup Anda.
13. Kalau Anda seorang yang telah lanjut usia dan merasa bosan terhadap kehidupan ini, meditasi akan
menolong Anda untuk mengerti secara mendalam mengenai hakekat kehidupan ini sehingga
timbullah semangat hidup Anda.
14. Kalau Anda seorang pemarah, dengan bermeditasi Anda dapat mengembangkan kekuatan kemauan
untuk mengendalikan kemarahan, kebencian, rasa dendam dsb.
15. Kalau Anda seorang yang bersifat iri hati, dengan meditasi Anda akan menyadari bahaya yang
timbul dari sifat iri hati itu.
16. Jika Anda seorang yang selalu diperbudak oleh kemelekatan panca inderia, meditasi dapat menolong
Anda mengatasi nafsu dan keinginan tersebut.
17. Kalau Anda seorang yang selalu ketagihan minuman keras / sesuatu yang memabukkan, dengan
bermeditasi Anda dapat menyadari dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu.
Kebiasaan yang memperbudak dan mengikat Anda.
18. Kalau Anda seorang yang pintar ataupun tidak, meditasi memberi Anda kesempatan untuk mengenal
diri sendiri dan mengembangkan pengetahuan yang sangat berguna bagi kesejahteraan sendiri,
keluarga serta handai taulan.
19. Kalau Anda dengan sungguh-sungguh melaksanakan latihan meditasi ini, maka semua nafsu emosi
Anda tidak mempunyai kesempatan untuk berkembang.
20. Kalau Anda seorang yang bijaksana, meditasi akan membawa Anda menuju ke kesadaran yang lebih
tinggi dan mencapai “Penerangan Sempurna”, Anda akan melihat segala sesuatu menurut apa adanya
(sewajarnya).
Inilah beberapa faedah praktis yang dapat dihasilkan dalam latihan meditasi. Faedah ini tidak dapat
dijumpai atau ditemukan dalam buku, apalagi dapat dibeli di warung. Uang tidak dapat dipakai untuk
mendapatkannya. Anda mendapatkannya sebagai hasil menjalankan latihan meditasi. Anda temukan
dalam diri sendiri yaitu dalam PIKIRAN Anda.

3. Persiapan untuk belajar meditasi

TEMPAT
Bila Anda termasuk seorang yang sedang belajar meditasi, sebaiknya pilihlah tempat yang sesuai untuk
berlatih meditasi. Hindarkanlah tempat yang terlalu ramai, penuh dengan kesibukan pekerjaan sehari-hari.
Tempat tersebut misalnya dapat berupa kamar, kebun, atau tempat lain yang cukup terang. Berusahalah
berlatih di tempat yang sama dan jangan sering berpindah tempat.
Kalau Anda sudah maju, maka Anda dapat berlatih meditasi di mana saja, bahkan di tempat Anda
menyelesaikan pekerjaan.

WAKTU
Waktu meditasi dapat dipilih sendiri. Sesungguhnya, setiap waktu adalah baik. Namun, biasanya orang
menganggap bahwa waktu terbaik bermeditasi adalah pagi hari antara jam 04.00 sampai dengan jam
07.00. Atau sore hari antara jam 17.00 sampai dengan jam 22.00.
Kalau Anda sudah menentukan waktu bermeditasi, pergunakanlah waktu itu sebaik-baiknya. Selama
waktu itu, Anda ‘HARUS’ mempergunakan kekuatan kemauan Anda untuk meninggalkan sementara
segala kesibukan sehari-hari seperti, pekerjaan, kesenangan, kesedihan dan kegelisahan.
Sewaktu melatih meditasi, jangan berikan kesempatan atau melayani bentuk-bentuk pikiran keduniawian
masuk ke dalam pikiran Anda. Betekadlah agar tekun dalam melakukan latihan meditasi dengan teratur
setiap harinya.
Bila meditasi Anda telah maju, setiap waktu adalah baik untuk berlatih meditasi. Kalau Anda telah
mencapai tingkatan ini, maka meditasi merupakan bagian hidup Anda sehari-hari. Dengan kata lain,
meditasi telah menjadi kebiasaan hidup Anda.

GURU
Mungkin Anda merasa memerlukan seorang guru atau pemimpin dalam melatih meditasi. Sebenarnya
tidaklah mudah mencari guru yang pandai dan sesuai untuk mengajarkan meditasi kepada Anda.
Kalau Anda mempunyai teman yang sudah berpengalaman bermeditasi, cobalah berdiskusi dahulu
dengannya. Kalau Anda mempunyai buku mengenai meditasi, bacalah dahulu buku tersebut. Dia adalah
guru Anda. Kalau Anda telah mendapatkan guru, ketahuilah bahwa guru hanyalah teman dan penunjuk
jalan Anda. Dia tidak dapat melakukan meditasi untuk Anda. Dia tidak dapat membebaskan diri Anda,
Kalau Anda sudah dapat mengatur dan memusatkan pikiran, kemudian mengembangkan KESADARAN
yang kuat, itulah yang akan menjadi guru Anda. Sesungguhnya, guru Anda saat ini telah berada dalam
diri Anda sendiri.

SIKAP DUDUK
Dalam melatih meditasi, Anda bebas memilih sikap duduk. Anda dapat bersila dengan bersilang,
bertumpuk atau sejajar. Anda juga dapat melipat kaki ke samping. Yang penting, kaki hendaknya tidak
kaku, harus kendur dan santai.
Sebaiknya, ambillah sikap duduk yang paling enak dan paling mudah. Duduklah dengan santai, jangan
bersandar, punggung harus tegak lurus namun tidak kaku atau tegang, badan harus lurus dan seimbang,
leher tegak lurus, mulut dan mata tertutup. Sikap duduk selama meditasi harus selalu waspada agar tidak lekas mengantuk.

4. Obyek meditasi

Meditasi dibedakan dalam dua macam, yaitu:
1. Meditasi untuk mencapai ketenangan.
2. Meditasi untuk mencapai pandangan terang.
Meditasi untuk mencapai ketenangan adalah suatu usaha melatih pikiran agar dapat menghasilkan
ketenangan melalui PEMUSATAN PIKIRAN.
Pemusatan pikiran adalah suatu keadaan ketika semua bentuk-bentuk batin terkumpul dan terpusat
dikendalikan oleh kekuatan kemauan ditujukan ke suatu titik atau obyek.
Jadi pikiran terpusat itu adalah pikiran yang dikonsentrasikan atau dikumpulkan ke suatu obyek. Dengan
perkataan lain, pikiran itu tidak berhamburan, melamun kian kemari. Pada umumnya, pikiran itu
berhamburan ke semua penjuru, tetapi jika mulai dipusatkan ke suatu obyek, maka kita akan mulai
mengenal sifat yang sebenarnya dari obyek itu.
Proses pemusatan pikiran itu membiasakan pikiran setingkat demi setingkat sehingga mampu
dikendalikan agar terpusat pada satu titik atau obyek.
Apakah tujuan mengembangkan pemusatan pikiran itu?
Dengan melatih pikiran sedemikian ini, maka Anda akan mendapatkan ketenangan dan keseimbangan
batin. Bahkan, akhirnya Anda dapat menghentikan pikiran yang melamun, berkeliaran menghabiskan
tenaga dengan sia-sia.
Pikiran tenang sebenarnya bukanlah tujuan akhir meditasi. Ketenangan pikiran hanyalah salah satu
keadaan yang diperlukan untuk mengembangkan pandangan terang. Dengan perkataaan lain, ketenangan pikiran mutlak diperlukan bila Anda ingin mendapatkan PENGERTIAN BENAR mengenai diri sendiri dan dunia ini dengan semua proses dan persoalannya.
Meditasi ketenangan melatih pikiran sedemikian rupa ke dalam tingkat konsentrasi yang disebut ‘jhana’
untuk mengembangkan kekuatan batin atau kesaktian.
Keadaan konsentrasi yang kuat demikian ini sebenarnya tidak praktis atau tidak perlu bagi seseorang yang hidup di jaman kemajuan yang penuh dengan kesibukan ini. Pada umumnya, dalam kehidupan sehari-hari, pikiran selalu berlompatan ke masalah yang telah lewat atau yang sekarang, juga ke masalah yang akan datang, dari satu tempat ke tempat yang lain. Sebenarnya, hal ini hanya menghabiskan banyak tenaga.
Kalau kita dapat melatih mengendalikan pikiran dalam suatu konsentrasi yang diperlukan - tidak perlu
yang tinggi - untuk dipergunakan dalam setiap tugas yang dihadapi disetiap saat kehidupan, hal semacam ini kiranya sudah cukup baik.
Kalau Anda sedang membaca, jalan, duduk, bercakap-cakap, atau segala sesuatu yang sedang dilakukan
di dalam kehidupan sehari-hari, usahakanlah SELALU SADAR. Dengan pikiran tenang, perhatian
ditujukan ke segala sesuatu yang sedang dilakukan, yang sedang dihadapi. Belajarlah untuk memusatkan pikiran kepada setiap tugas yang sedang dihadapi. Dengan perkataan lain, HIDUPLAH SAAT
SEKARANG INI.
Kalau Anda ingin mengembangkan konsentrasi, pertama-tama, berusahalah mendapatkan obyek yang
cocok agar dapat membantu memperoleh ketenangan dan konsentrasi dengan cepat.
Terdapat 40 macam obyek meditasi. Untuk melakukan meditasi, Anda dapat memilih salah satu di antara
obyek tersebut sesuai dengan sifat pribadi Anda. Kalau tidak ada guru yang dapat memberikan petunjuk
untuk memilih salah satu obyek itu, ikutilah petunjuk di bawah ini:
1. Obyek harus netral. Kalau obyek menimbulkan perasaan negatif yang kuat, seperti: nafsu, benci, sedih,
serakah, keragu-raguan, dan sebagainya, maka obyek tersebut tidak akan dapat menenangkan pikiran,
sebaliknya hanya akan merangsang dan mengacau saja.
2. Obyek kadang kala juga terdapat dalam diri sendiri, misalnya: pernafasan, cinta kasih, belas kasihan
dan sebagainya. Atau, obyek di luar diri, misalnya: bunga, tanah, api, warna dan sebagainya.
3. Obyek harus yang menyenangkan serta dapat diterima oleh pikiran. Kalau pikiran menolak obyek itu,
maka konsentrasi akan menjadi lemah,
4. Perlu diketahui, obyek yang telah sesuai dan terbiasa Anda gunakan, tidak selalu dapat menimbulkan
konsentrasi pikiran Anda. Misalnya, sehabis marah, obyek cinta kasih sangat sukar dipakai sebagai
obyek meditasi. Pada saat tersebut, sebaiknya rasa marah dipakai sebagai obyek konsentrasi. Pikiran
merenungkan segi-segi negatif kemarahan, dengan demikian akan menimbulkan pengertian terang
yang dapat melepaskan pikiran dari cengkeraman kemarahan tadi. Demikian pula seterusnya diwaktu
timbul perasaan sediJika telah memilih suatu obyek meditasi, maka tugas Anda selanjutnya ialah
memegang obyek tersebut dengan erat dalam pikiran bagaikan mengikat seekor kuda pada sebuah
tonggak. Kunci latihan konsentrasi yaitu mengikat pikiran dengan sebuah obyek. Dengan memusatkan
pikiran pada obyek tersebut, sedikit demi sedikit pikiran akan menjadi terpisah dan terlepas dari semua
aktifitas dan lingkungan sehari-hari, akhirnya pikiran menjadi tenang.
Beberapa latihan meditasi yang dapat dikembangkan sebagai suatu latihan dasar serta merupakan bagian kesibukan Anda dalam kehidupan sehari-hari adalah:
LATIHAN UNTUK KESEHATAN
Kalau Anda sedang berjalan-jalan di suatu tempat, peganglah ketiga cita-cita ini dalam pikiran Anda,
yaitu: BERBAHAGIA, SEHAT, dan KUAT. Ulangilah kata-kata terebut di dalam batin. Pusatkan pikiran
pada kata-kata ini sehingga Anda dapat merasakan seolah-olah kata-kata tersebut terpeta pada seluruh
tubuh Anda.
LATIHAN BERPIKIR
Jika Anda sedang berpikir mengenai sesuatu hal, pikiran harus sungguh-sungguh dipusatkan pada obyek
yang sedang dipikirkan.
Pertahankanlah pemusatan pikiran itu dalam obyek yang sedang direnungkan saja. Jangan beri
kesempatan pikiran dimasuki oleh sesuatu hal lain atau yang tidak ada hubungannya dengan perenungan.
LATIHAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Kalau Anda sedang membaca buku, pusatkanlah pandangan mata dan pikiran pada buku tersebut. Kalau
sedang membersihkan lantai, pusatkanlah pikiran Anda pada pekerjaan menyapu. Kalau sedang menulis
surat, pusatkanlah pikiran Anda pada surat tersebut. Belajarlah memusatkan pikiran pada segala sesuatu
yang sedang dikerjakan dari saat ke saat. Inilah yang disebut: “HIDUP SAAT INI” atau “HIDUP SAAT
SEKARANG”.

Makna Kesedihan

Tuesday, March 29th, 2005

Hidup manusia berayun dalam dua keadaan, antara kesedihan dan kebahagiaan. Coba perhatikan lingkungan sekitar kita seperti sahabat kita, tetangga kita atau saudara kita. Mereka akan mengalami hidup yang kadang bahagia dan kadang dilanda kesedihan. Silih berganti seperti perputaran roda, kadang di bawah kadang di atas.

Mengapa kita mengalami kesedihan? Pertanyaan ini sulit dijawab, karena terlalu subyektif, yang setiap orang mempunyai persepsinya masing-masing.. Tetapi secara umum kesedihan merupakan derita jiwa yang dapat timbul akibat hilangnya sesuatu yang kita cintai atau karena kita gagal mendapatkan apa yang kita cari. Sumbernya adalah karena kita terlalu mengagungkan nilai-nilai materi, haus pada nafsu-nafsu badani, lalu merasa rugi kalau salah satu dari itu semua hilang atau gagal kita peroleh.

Misalnya dalam kisah-kisah sejarah para nabi banyak dijumpai para penguasa yang tamak terhadap kehidupan dunia seperti kekuasaan dan harta tidak pernah merasa bahagia. Mereka selalu gelisah dalam menjaga apa yang mereka anggap miliknya itu. Kekhawatiran bangsawan Quraisy akan tergusur pengaruhnya terhadap penduduk Mekkah oleh Nabi Muhammad, dan kecemasan Firaun akan Nabi Musa as merupakan contah bahwa harta dan kekuasaan tidak dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan.

Begitu pula jika kita amati pejabat-pejabat dan orang-orang kaya di negeri ini namun tidak bahagia. Karena di tengah kekayaannya mereka harus menghadapi ‘kerangkeng besi’ dan cemoohan masyarakat. Suasana ini membawa diri mereka ke dalam situasi yang tidak bahagia walaupun di tengah timbunan harta kekayaan. Dengan demikian hanya manusia yang menganggap bahwa segala kesenangan duniawi yang telah diperolehnya bisa kekal dan senantiasa jadi miliknya, maka manusia yang demikian akan sedih dan gundah gulana karena hilangnya sesuatu yang dia cintai atau karena gagalnya ia mendapatkan apa yang dia cari.

Kalau saja manusia tahu siapa dirinya dan tahu bahwa apa saja yang ada di alam itu tidak kekal, niscaya dia tak akan lagi mendambakan dan tidak lagi mencarinya. Kita harus menyadari bahwa dunia materi tidaklah abadi, ia dapat hilang dengan tiba-tiba walaupun kita menjaga dengan hati-hati. Dengan demikian jika kita sudah tidak mendambakannya lagi, maka tak akan lagi dia bersedih hati karena hilangnya apa yang diingini atau gagal diperolehnya apa yang diangankannya di dunia ini. Seharusnya kita mengarahkan upaya ke tujuan-tujuan suci dan hanya mencari kebaikan-kebaikan kekal saja.

Dengan orientasi hidup pada tujuan-tujuan suci itu, maka kita hanya akan mengambilnya sebatas yang diperlukannya untuk menghilangkan rasa lapar, telanjang atau kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya yang serupa. Kita tidak akan menimbun harta. Kita tidak akan berfoya-foya dan berbangga ria. Sekiranya harta itu lepas dari tangan, kita tak akan menyesalinya dan tak akan mempedulikannya. Sungguh jika kita berbuat seperti itu pasti kita akan tenteram, tidak gundah gulana, akan gembira tidak bersedih, akan bahagia tidak sesak dadanya. Barangsiapa tidak menerimanya dan tidak mengobati jiwanya dengan cara ini, dia akan gelisah dan bersedih hati selamanya. Sebab dia tak pernah bisa lolos dari gagalnya memperoleh sesuatu yang dia cari, dan hilangnya sesuatu yang dia cintai.

Barangsiapa dengan berbuat baik ia merasa puas, dan dengan apa yang didapatnya tidak bersedih hati, maka dia akan gembira dan bahagia selamanya. Kalau orang meragukan, bahwa perasaan seperti ini bermanfaat, hendaknya dia merenungkan perasaan orang mengenai tujuan yang mereka upayakan dalam kehidupan mereka, dan amati bagaimana mereka berbeda-beda dalam merespon kehidupan ini berdasarkan keadaan-keadaan dan perasaan-perasaan mereka. Jika kita renungkan maka akan mengungkapkan secara jelas dan terang kehidupan mereka dalam berbagai profesi dan bagaimana perasaan mereka menanggapinya.

Kalau kita perhatikan dengan saksama beragam kelas sosial yang ada. Akan terlihat bahwa kegembiraan seorang pedagang terjadi bila dia berdagang, prajurit bila dia pemberani, penjudi bila dia berjudi, manipulator bila dia manipulasi atau banci dengan kebanciannya. Tiap-tiap orang ini berasumsi bahwa orang yang tidak seperti mereka adalah orang yang tertipu dan tidak merasakan kesenangan yang mereka nikmati. Hal ini karena setiap kelompok sangat merasa bahwa cara hidupnyalah yang benar dan karena sudah lama terbiasa dengan cara hidupnya sendiri.

Demikian pula dengan seorang pencari kebajikan yang menekuni jalur hidupnya sendiri, jika perasaaannya menjadi kuat, dan jika penilainnya tetap baik dan praktiknya terus berkelanjutan dia lebih berhak mengecap kegembiraan dibanding kelas-kelas sosial di atas yang tersesat dalam gelapnya kebodohan mereka sendiri. Dialah seharusnya yang paling bahagia di sisi Sang Maha Pemberi nikmat karena dia benar dan mereka salah, dia yakin dan mereka tidak yakin, dia sehat akalnya dan mereka tidak, dia bahagia mereka sengsara, dia sahabat Allah mereka musuh-musuh-Nya. Allah berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ditimpa kekhawatiran dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS.10:62)

Al-Kindi (796-873M), seorang filosof awal Muslim, mengungkaplan tentang makna kesedihan yang menimpa pada kebanyakan manusia. Menurutnya, kesedihan yang ditimbulkan oleh manusia dan ditimpakan pada dirinya bukanlah sesuatu yang alami. Kata al-Kindi, “Orang yang bersedih hati karena kehilangan miliknya atau gagal memperoleh sesuatu yang dicarinya, kemudian merenungkan kesedihannya secara filosofis lalu dia mengerti bahwa penyebab kesedihannya itu bukanlah keharusan, lalu dia saksikan banyak orang yang tidak memiliki harta itu tapi mereka tidak sedih, bahkan gembira dan bahagia, dia tak pelak lagi akan tahu bahwa kesedihan bukanlah hal yang niscaya dan tidak alami.”

Ini berarti kesedihan merupakan sikap mental kita menghadapi kondisi lingkungan. Banyak orang yang dirundung kemiskinan tapi hatinya bahagia, sedangkan orang kaya hatinya belum tentu bahagia. Karena kekayaan materi belum tentu membahagiakan ruhani. Ini misalnya dapat kita saksikan orang-orang yang kehilangan anak, saudara maupun teman mereka, hingga terlihat betapa sedihnya mereka? Namun tak lama berselang, mereka pun kembali senang dan tertawa, bahagia, lalu pulih kembali seperti orang yang tak pernah bersedih hati sama sekali?

Begitu pula orang yang kehilangan harta atau benda apa saja yang didambakan manusia, yang bila benda itu hilang dia jadi kecewa dan sedih hati. Orang seperti itu akhirnya gembira, lenyap kesedihannya, lalu bahagia lagi. Kalaulah seorang yang berakal mau mengamati secara cermat kondisi yang kerap terjadi dalam masyarakat banyak di saat mereka sedih, dan mengamati sebab-sebab yang melatarbelakanginya akan terlihat olehnya bahwa musibah tertentu tidak hanya menimpa dirinya saja dan bahwa akhir dari musibahnya adalah kegembiraan. Demikian pula kesedihan adalah penyakit aksidental yang sama buruknya dengan penyakit yang ditimpakan manusia atas dirinya sendiri yang tidak alami seperti penyakit fisik..

Kesadaran akan pentingnya nilai spiritual dibandingkan material ini tumbuh seiring seiring dengan pertumbuhan alamiah jiwa yang dimulai di dalam rahim, ketika Allah meniupkan ruh-Nya sendiri ke dalam tubuh. Ruh ini, yang turun melalui alam Alastu, merupakan cahaya yang murni dan hidup, sedangkan tubuh adalah tanah gelap dan mati. Penyatuan ruh dan raga membangkitkan daya jiwa, yang mencakup dua dunia, spiritual dan material. Jiwa adalah perantara yang melaluinya ruh yang murni dan transenden dihubungkan dengan raga yang fana. Ia adalah jumlah keseluruhan kehidupan dan kesadaran yang muncul pada pertemuan cahaya dan jasad. Hanya jiwa yang lebur ke dalam dunia, namun secara batin terbuka bagi Yang Tak terbatas.

Terbukanya jiwa pada Yang Tak Terbatas akan menumbuhkan sebuah kesadaran spiritual. Kesadaran inilah yang menjadikan manusia mempunyai sikap bijaksana, tidak dengki, kesadaran kemanusiaan dan berorientasi pada yang kekal dan ruhani. Dengan kesadaran seperti ini maka kita seharusnya menyadari bahwa di alam ini tidak ada yang kekal. Janganlah seperti orang yang disodori wewangian yang langka untuk dihirup baunya dan dinikmati keharumannya, tetapi dia mendambakannya dan mengira bahwa wewangian itu diberikan padanya untuk selamanya, sehingga ketika wewangian itu diambil darinya, dia bersedih hati, kecewa dan marah.

Inilah kondisi orang yang mendambakan hal yang mustahil dan orang yang kehilangan akal sehat. Inilah kondisi orang yang dengki, sebab dia ingin menguasai barang-barang dan tak membaginya kepada orang lain dan dengki adalah penyakit terburuk dan kejahatan paling busuk. Oleh sebab itui, para filosof berkata, “Barangsiapa ingin supaya musuhnya ditimpa keburukan, berarti dia penjahat!” yang lebih jahat dari ini adalah orang yang ingin agar kebaikan yang dimiliki teman-temannya sirna, berarti dia menghendaki agar temannya ditimpa keburukan.” Konsekuensi dari keburukan-keburukan ini adalah orang bersedih hati di saat orang lain memperoleh kebaikan, lalu dengki pada mereka karena mereka mendapat kebaikan. Tak soal apakah kebaikan–kebaikan itu berupa milik kita atau bukan milik kita.

Dalam hal ini dibutuhkan sebuah kesadaran akan makna hidup yang melepaskan diri dari jerat-jerat kedengkian dan rasa memiliki kedunian yang terlalu berlebihan. Sebuah kesadaran untuk membangun orientasi hidup yang lebih mengharmonisasikan hubungan antara Allah dan sesama manusia, berupa tujuan-tujuan yang berjiwa kesucian.
Makna Kesedihan
[Dunia Tasawuf]

Hidup manusia berayun dalam dua keadaan, antara kesedihan dan kebahagiaan. Coba perhatikan lingkungan sekitar kita seperti sahabat kita, tetangga kita atau saudara kita. Mereka akan mengalami hidup yang kadang bahagia dan kadang dilanda kesedihan. Silih berganti seperti perputaran roda, kadang di bawah kadang di atas.

Mengapa kita mengalami kesedihan? Pertanyaan ini sulit dijawab, karena terlalu subyektif, yang setiap orang mempunyai persepsinya masing-masing.. Tetapi secara umum kesedihan merupakan derita jiwa yang dapat timbul akibat hilangnya sesuatu yang kita cintai atau karena kita gagal mendapatkan apa yang kita cari. Sumbernya adalah karena kita terlalu mengagungkan nilai-nilai materi, haus pada nafsu-nafsu badani, lalu merasa rugi kalau salah satu dari itu semua hilang atau gagal kita peroleh.

Misalnya dalam kisah-kisah sejarah para nabi banyak dijumpai para penguasa yang tamak terhadap kehidupan dunia seperti kekuasaan dan harta tidak pernah merasa bahagia. Mereka selalu gelisah dalam menjaga apa yang mereka anggap miliknya itu. Kekhawatiran bangsawan Quraisy akan tergusur pengaruhnya terhadap penduduk Mekkah oleh Nabi Muhammad, dan kecemasan Firaun akan Nabi Musa as merupakan contah bahwa harta dan kekuasaan tidak dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan.

Begitu pula jika kita amati pejabat-pejabat dan orang-orang kaya di negeri ini namun tidak bahagia. Karena di tengah kekayaannya mereka harus menghadapi ‘kerangkeng besi’ dan cemoohan masyarakat. Suasana ini membawa diri mereka ke dalam situasi yang tidak bahagia walaupun di tengah timbunan harta kekayaan. Dengan demikian hanya manusia yang menganggap bahwa segala kesenangan duniawi yang telah diperolehnya bisa kekal dan senantiasa jadi miliknya, maka manusia yang demikian akan sedih dan gundah gulana karena hilangnya sesuatu yang dia cintai atau karena gagalnya ia mendapatkan apa yang dia cari.

Kalau saja manusia tahu siapa dirinya dan tahu bahwa apa saja yang ada di alam itu tidak kekal, niscaya dia tak akan lagi mendambakan dan tidak lagi mencarinya. Kita harus menyadari bahwa dunia materi tidaklah abadi, ia dapat hilang dengan tiba-tiba walaupun kita menjaga dengan hati-hati. Dengan demikian jika kita sudah tidak mendambakannya lagi, maka tak akan lagi dia bersedih hati karena hilangnya apa yang diingini atau gagal diperolehnya apa yang diangankannya di dunia ini. Seharusnya kita mengarahkan upaya ke tujuan-tujuan suci dan hanya mencari kebaikan-kebaikan kekal saja.

Dengan orientasi hidup pada tujuan-tujuan suci itu, maka kita hanya akan mengambilnya sebatas yang diperlukannya untuk menghilangkan rasa lapar, telanjang atau kebutuhan-kebutuhan mendesak lainnya yang serupa. Kita tidak akan menimbun harta. Kita tidak akan berfoya-foya dan berbangga ria. Sekiranya harta itu lepas dari tangan, kita tak akan menyesalinya dan tak akan mempedulikannya. Sungguh jika kita berbuat seperti itu pasti kita akan tenteram, tidak gundah gulana, akan gembira tidak bersedih, akan bahagia tidak sesak dadanya. Barangsiapa tidak menerimanya dan tidak mengobati jiwanya dengan cara ini, dia akan gelisah dan bersedih hati selamanya. Sebab dia tak pernah bisa lolos dari gagalnya memperoleh sesuatu yang dia cari, dan hilangnya sesuatu yang dia cintai.

Barangsiapa dengan berbuat baik ia merasa puas, dan dengan apa yang didapatnya tidak bersedih hati, maka dia akan gembira dan bahagia selamanya. Kalau orang meragukan, bahwa perasaan seperti ini bermanfaat, hendaknya dia merenungkan perasaan orang mengenai tujuan yang mereka upayakan dalam kehidupan mereka, dan amati bagaimana mereka berbeda-beda dalam merespon kehidupan ini berdasarkan keadaan-keadaan dan perasaan-perasaan mereka. Jika kita renungkan maka akan mengungkapkan secara jelas dan terang kehidupan mereka dalam berbagai profesi dan bagaimana perasaan mereka menanggapinya.

Kalau kita perhatikan dengan saksama beragam kelas sosial yang ada. Akan terlihat bahwa kegembiraan seorang pedagang terjadi bila dia berdagang, prajurit bila dia pemberani, penjudi bila dia berjudi, manipulator bila dia manipulasi atau banci dengan kebanciannya. Tiap-tiap orang ini berasumsi bahwa orang yang tidak seperti mereka adalah orang yang tertipu dan tidak merasakan kesenangan yang mereka nikmati. Hal ini karena setiap kelompok sangat merasa bahwa cara hidupnyalah yang benar dan karena sudah lama terbiasa dengan cara hidupnya sendiri.

Demikian pula dengan seorang pencari kebajikan yang menekuni jalur hidupnya sendiri, jika perasaaannya menjadi kuat, dan jika penilainnya tetap baik dan praktiknya terus berkelanjutan dia lebih berhak mengecap kegembiraan dibanding kelas-kelas sosial di atas yang tersesat dalam gelapnya kebodohan mereka sendiri. Dialah seharusnya yang paling bahagia di sisi Sang Maha Pemberi nikmat karena dia benar dan mereka salah, dia yakin dan mereka tidak yakin, dia sehat akalnya dan mereka tidak, dia bahagia mereka sengsara, dia sahabat Allah mereka musuh-musuh-Nya. Allah berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ditimpa kekhawatiran dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS.10:62)

Al-Kindi (796-873M), seorang filosof awal Muslim, mengungkaplan tentang makna kesedihan yang menimpa pada kebanyakan manusia. Menurutnya, kesedihan yang ditimbulkan oleh manusia dan ditimpakan pada dirinya bukanlah sesuatu yang alami. Kata al-Kindi, “Orang yang bersedih hati karena kehilangan miliknya atau gagal memperoleh sesuatu yang dicarinya, kemudian merenungkan kesedihannya secara filosofis lalu dia mengerti bahwa penyebab kesedihannya itu bukanlah keharusan, lalu dia saksikan banyak orang yang tidak memiliki harta itu tapi mereka tidak sedih, bahkan gembira dan bahagia, dia tak pelak lagi akan tahu bahwa kesedihan bukanlah hal yang niscaya dan tidak alami.”

Ini berarti kesedihan merupakan sikap mental kita menghadapi kondisi lingkungan. Banyak orang yang dirundung kemiskinan tapi hatinya bahagia, sedangkan orang kaya hatinya belum tentu bahagia. Karena kekayaan materi belum tentu membahagiakan ruhani. Ini misalnya dapat kita saksikan orang-orang yang kehilangan anak, saudara maupun teman mereka, hingga terlihat betapa sedihnya mereka? Namun tak lama berselang, mereka pun kembali senang dan tertawa, bahagia, lalu pulih kembali seperti orang yang tak pernah bersedih hati sama sekali?

Begitu pula orang yang kehilangan harta atau benda apa saja yang didambakan manusia, yang bila benda itu hilang dia jadi kecewa dan sedih hati. Orang seperti itu akhirnya gembira, lenyap kesedihannya, lalu bahagia lagi. Kalaulah seorang yang berakal mau mengamati secara cermat kondisi yang kerap terjadi dalam masyarakat banyak di saat mereka sedih, dan mengamati sebab-sebab yang melatarbelakanginya akan terlihat olehnya bahwa musibah tertentu tidak hanya menimpa dirinya saja dan bahwa akhir dari musibahnya adalah kegembiraan. Demikian pula kesedihan adalah penyakit aksidental yang sama buruknya dengan penyakit yang ditimpakan manusia atas dirinya sendiri yang tidak alami seperti penyakit fisik..

Kesadaran akan pentingnya nilai spiritual dibandingkan material ini tumbuh seiring seiring dengan pertumbuhan alamiah jiwa yang dimulai di dalam rahim, ketika Allah meniupkan ruh-Nya sendiri ke dalam tubuh. Ruh ini, yang turun melalui alam Alastu, merupakan cahaya yang murni dan hidup, sedangkan tubuh adalah tanah gelap dan mati. Penyatuan ruh dan raga membangkitkan daya jiwa, yang mencakup dua dunia, spiritual dan material. Jiwa adalah perantara yang melaluinya ruh yang murni dan transenden dihubungkan dengan raga yang fana. Ia adalah jumlah keseluruhan kehidupan dan kesadaran yang muncul pada pertemuan cahaya dan jasad. Hanya jiwa yang lebur ke dalam dunia, namun secara batin terbuka bagi Yang Tak terbatas.

Terbukanya jiwa pada Yang Tak Terbatas akan menumbuhkan sebuah kesadaran spiritual. Kesadaran inilah yang menjadikan manusia mempunyai sikap bijaksana, tidak dengki, kesadaran kemanusiaan dan berorientasi pada yang kekal dan ruhani. Dengan kesadaran seperti ini maka kita seharusnya menyadari bahwa di alam ini tidak ada yang kekal. Janganlah seperti orang yang disodori wewangian yang langka untuk dihirup baunya dan dinikmati keharumannya, tetapi dia mendambakannya dan mengira bahwa wewangian itu diberikan padanya untuk selamanya, sehingga ketika wewangian itu diambil darinya, dia bersedih hati, kecewa dan marah.

Inilah kondisi orang yang mendambakan hal yang mustahil dan orang yang kehilangan akal sehat. Inilah kondisi orang yang dengki, sebab dia ingin menguasai barang-barang dan tak membaginya kepada orang lain dan dengki adalah penyakit terburuk dan kejahatan paling busuk. Oleh sebab itui, para filosof berkata, “Barangsiapa ingin supaya musuhnya ditimpa keburukan, berarti dia penjahat!” yang lebih jahat dari ini adalah orang yang ingin agar kebaikan yang dimiliki teman-temannya sirna, berarti dia menghendaki agar temannya ditimpa keburukan.” Konsekuensi dari keburukan-keburukan ini adalah orang bersedih hati di saat orang lain memperoleh kebaikan, lalu dengki pada mereka karena mereka mendapat kebaikan. Tak soal apakah kebaikan–kebaikan itu berupa milik kita atau bukan milik kita.

Dalam hal ini dibutuhkan sebuah kesadaran akan makna hidup yang melepaskan diri dari jerat-jerat kedengkian dan rasa memiliki kedunian yang terlalu berlebihan. Sebuah kesadaran untuk membangun orientasi hidup yang lebih mengharmonisasikan hubungan antara Allah dan sesama manusia, berupa tujuan-tujuan yang berjiwa kesucian.

Optimisme, adalah obat penangkal depresi dan rendahnya prestasi.

Tuesday, March 29th, 2005

Optimisme, adalah obat penangkal depresi dan rendahnya prestasi. Sehingga, mereka yang dianugrahi rasa optimis dalam dada, seolah mampu menggenggam dunia dalam rengkuhan tangannya.

Ternyata, optimisme dapat dipelajari sedari kecil. Untuk itulah, peran orangtua dalam perkembangan mental anaknya menjadi sangat penting. Berdasarkan buku “Mengajarkan Emotional Intellegence Pada Anak” (Lawrence E Saphiro PhD), optimisme disebutkan lebih dari sekedar bakat kepribadian yang menarik. Sesungguhnya, optimisme bisa menjadi semacam imunisasi psikologis untuk menangkal segudang masalah hidup.

Yang terpenting, tulis E. Saphiro, optimisme merupakan keterampilan EQ yang dapat dipelajari. Namun sebelum orangtua mengajarkan optimisme pada anaknya, terlebih dahulu mereka harus mampu membedakan mana pikiran pesimistis dan mana pikiran yang optimistis.

Perbedaan terbesar adalah pada cara anak “menjelaskan penyebab peristiwa”, entah baik atau buruk. Kaum optimis percaya bahwa peristiwa positif yang membahagiakan bersifat;
• Permanen (terus sepanjang waktu).
• Pervasif (terus terjadi dalam situasi yag berbeda).
• Merasa bertanggung jawab untuk mengusahakan terjadinya hal-hal yang baik.
• Dirasakan sementara, jika sesuatu yang buruk terjadi.
• Spesifik, untuk situasi yang bersangkutan.
• Realistis, bila telah terjadi kejadian buruk.

Sementara itu, kaum pesimistis berpikir dengan cara yang berlawanan;
• Peristiwa baik dianggap sementara.
• Peristiwa buruk dianggap permanen.
• Peristiwa baik terjadi akibat nasib baik, atau secara kebetulan.
• Peristiwa buruk lebih banyak dipikirkan.

Menurut E. Saphiro, orang yang pesimistis juga cenderung membesar-besarkan kejadian buruk. Hal ini tidak baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, anak yang menangis dan merajuk akan membesar-besarkan kejadian dan menyelaraskan reaksi emosinya, bukan realitas sesungguhnya.

Bahaya Pesimisme
Pesimisme bukan cuma cara berfikir yang negatif, tetapi juga gejala yang merupakan ancaman terbesar bagi kesehatan anak-anak zaman sekarang, yaitu epidemi depresi.

Depresi dapat disembuhkan atau dihindarkan dengan mengajarkan cara-cara berpikir yang baru kepada anak-anak. Pikiran logis dapat dilatih untuk mengendalikan pikiran emosional.

Keuntungan Optimisme
Salah satu upaya mengalahkan depresi adalah dengan mengajari anak untuk bersikap lebih optimis. Anak optimis juga akan lebih berhasil dibandingkan teman-temannya yang pesimis. Yang penting, orangtua harus mampu menerapkan sikap “kemalangan adalah musuh yang harus dihindarkan”.

Lalu bagaimana menjadikan seorang anak optimis? Menurut E. Shapiro, adalah dengan berhati-hati dalam mengkritik sang anak.
Kritik yang betul dan kritik yang salah, keduanya dapat berpengaruh nyata, apakah kelak sang anak menjadi optimistik atau pesimistis.
Telitilah sebelum mengkritik. Menyalahkan secara berlebihan, akan menimbulkan rasa bersalah dan malu daripada yang diperlukan untuk membuat anak berubah. Namun tidak menyalahkannya sama sekali dapat mengikis rasa tanggung jawab.

Mengembangkan gaya pemberian penjelasan yang optimistik, uraikan masalah secara realistis apabila penyebabnya spesifik dan dapat diubah. Selain itu, E. Shapiro juga menekankan aspek-aspek EQ si anak. Menurutnya, orangtua wajib membantu anaknya dalam mengembangkan kemampuan memahami nuansa komunikasi emosional dengan mengajarinya bahasa emosi non verbal. Komunikasi emosi ini meliputi kesadaran atas prilaku non verbal orang lain (gerak tubuh, bahasa tubuh, ekspresi wajah, nada suara, dsb), dan komunikasi non verbal sang anak sendiri.

Komunikasi emosi ini juga dapat terjadi melalui cara orang berbicara. Yang penting diingat, optimisme bukanlah dukungan. Optimisme adalah cara positif dan realistis dalam memandang suatu masalah.

Orangtua pun dituntut lebih optimis dalam hidupnya. Mengingat, anak lebih mudah belajar atau meniru perbuatan dan perkataan orangtuanya.

Pengendalian Emosi
Belajar mengendalikan emosi merupakan tanda perkembangan kepribadian yang menentukan apakah seseorang sudah beradab. Kepribadian seorang anak yang sedang tumbuh, dibentuk oleh dua kekuatan besar. Yaitu, mencari kesenangan dan berusaha menghindari rasa pedih/tak nyaman.

Makin tinggi kesadaran seorang anak dan makin mampu ia menimbang berbagai pilihan, makin besar kemungkinan sukses yang akan diperolehnya. Dalam tahap ini, orangtua harus mampu mengendalikan ego dan kepekaan sang anak pada orang lain. Masalah emosi yang paling lazim dihadapi anak-anak masa kini adalah yang berhubungan dengan amarah.

Mengenai amarah tersebut, E. Shapiro mengingatkan;
Pengendalian emosi, khususnya pengendalian amarah dan agresivitas merupakan masalah emosi yang dihadapi anak-anak generasi millenium.
Sifat lekas marah serta kebiasaan mengungkapkan kemarahan tanpa kendali, akan memicu masalah emosi yang berbahaya.
Banyak cara merangsang bagian berpikir otak untuk membantu anak-anak mengekang dan mengendalikan marah.

Teknik penyelesaian konflik seperti berunding dan menjadi penengah, harus dijadikan bagian dari pendidikan anak.

Pilih Marah!!! Atau Marah?

Tuesday, March 29th, 2005

Marah memang menimbulkan situasi serba salah. Kalau kita
melampiaskan begitu saja, beberapa jenis penyakit menunggu kita.
Sebaliknya, bila kita memendamnya penyakit lain bakal mengadang.
Tapi jangan khawatir, ada cara jitu untuk mengelolanya secara sehat.

Setiap orang pasti pernah mengalami marah, kendati cuma sekali
sepanjang hidupnya. Entah diungkapkan atau cuma dipendam dalam hati.
Kalaupun kemarahan dikeluarkan, caranya tidak sama antara satu orang
dengan yang lainnya. Seseorang bisa marah secara meledak-ledak atau
meluap-luap, yang lain cukup dengan pasang muka “ditekuk” atau
melakukan aksi tutup mulut. Dalam hal ini, kaum wanita biasanya
menangis sebagai pengungkapan kemarahan yang tak tertahan.

Banyak hal yang bisa membuat kita marah. Namun, umumnya kita marah
bila hak-hak atau nilai-nilai yang kita junjung diinjak-injak orang
lain, harga diri kita dijatuhkan, atau jengkel bercampur kecewa
terhadap keadaan yang dihadapi. Marah bisa pula disebabkan oleh
ketidakadilan, kekurangbebasan, rasa iri hati, atau perasaan tidak
aman.

Dalam “bergaul” dengan marah kita acap kali berada dalam keadaan
terjepit. Maju kena, mundur pun kena. Pengekangan kuat terhadap
keinginan untuk “meledak” mengakibatkan depresi serta mengurangi
motivasi dan kreativitas. Sebaliknya, kalau amarah dan kemarahan
tidak dikelola secara benar, korbannya adalah hubungan kita dengan
orang lain sebagai pribadi maupun mitra kerja. Siksaan dalam rumah
tangga, amuk massa, kekerasan di tempat kerja, perceraian, dan
kecanduan (obat terlarang) hanyalah sedikit contoh dari apa yang
bakal terjadi ketika kita salah dalam mengelola amarah. Yang lebih
mengerikan, pengelolaan amarah yang salah ternyata menjadi salah
satu biang keladi lahirnya beberapa penyakit.

Begitu pun, marah juga mengandung manfaat. Hasil penelitian
Institute for Mental Health Initiatives mengungkapkan bahwa marah
bisa berarti sehat. Bahkan, lebih sehat ketimbang memendam perasaan
jengkel. Kuncinya, pengelolaan secara sehat.

Mengundang penyakit

Kendati marah tergolong manusiawi dan tidak selalu negatif, lembaga
tadi menganjurkan untuk marah tidak secara sembarangan. Kunci untuk
marah yang sehat adalah pengendalian, tepat waktu, dan dengan porsi
tidak berlebihan. Tanpa itu semua, marah justru menjadi bumerang.

Suatu penelitian belum lama ini mengungkapkan, orang yang marahnya
tak terkendali berpeluang menderita stroke dua kali lebih besar
ketimbang mereka yang menunjukkan kemarahannya secara kalem.
Keseringan menahan amarah pun tidak dianjurkan, karena justru
berisiko terserang hipertensi.

Marah yang lepas kendali juga mendorong orang bersangkutan melakukan
tindakan fisik dan batiniah. Tindakan batiniah yang dimaksud adalah
menghilangkan atau mengganggu ketenangan orang yang menyebabkan kita
marah, apalagi kalau orang itu sampai mengeluarkan kata-kata
menyakitkan.

Bahkan, marah bisa membunuh diri kita sendiri, terutama kalau kita
mengidap penyakit jantung atau berisiko terserang penyakit jantung.
Proses bunuh diri yang tidak disadari ini bisa berlangsung cepat,
bisa pula lambat, tergantung ketahanan fisik dan mental yang
bersangkutan.

Penelitian lain menunjukkan, emosi tak terkendali atau tak
tersalurkan juga akan merusak fungsi organ, mudah terserang
penyakit, dan menderita ketegangan otot atau kekacauan metabolisme.
Selain itu, bisa menghentikan proses pencernaan, meningkatkan denyut
jantung, dan menjadikan napas terengah-engah.

Di dalam darah orang marah terkandung banyak hormon adrenalin.
Hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal ini akan dilepaskan ke
dalam darah ketika ada rangsangan emosi. Akibat berikutnya, denyut
jantung bertambah cepat dan tekanan darah meninggi. Kalau keadaan
ini sering terjadi, hipertensi, serangan jantung, dan penyakit lain
akan mudah datang.

Dr. Ernest H., seorang pakar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Michigan, Amerika Serikat, menyatakan, seseorang yang
mudah marah, yang selalu mengungkapkan kemarahannya dengan meledak-
ledak, banyak yang menderita penyakit hipertensi.

Suatu studi yang dilakukan oleh sebuah tim di Boston, AS, juga telah
membuktikannya. Dalam penelitian itu, para pakar melibatkan 1.305
orang pria berusia 40 - 90 tahun. Mereka, di antaranya pemarah yang
bisa mengendalikan kemarahannya, dicatat kesehatannya sejak 1986.

Di awal penelitian tak satu pun menderita penyakit jantung.
Bagaimana di akhir penelitian? Ternyata 20 orang mengalami gangguan
jantung fatal, 30 orang mengalami gangguan jantung biasa, dan 60
orang terkena gejala nyeri dada. Sebuah bukti yang menunjukkan
adanya korelasi antara marah dan risiko terkena serangan jantung dan
nyeri dada, meskipun marahnya masih terkendali.

Yang lebih konkret lagi, hasil penelitian yang dipimpin Dr. Ichiro
Kawachi itu juga menunjukkan pria yang skor marahnya 5 - 14 berisiko
tiga kali lipat terkena penyakit jantung dibandingkan dengan pria
dengan skor 0 atau 1. Pria yang marahnya meledak-ledak risikonya
lebih tinggi lagi. Bagaimana dengan kaum hawa?

Menurut Prof. Sandra P. Thomas, dosen ilmu keperawatan dari
Universitas Tennesse di Norkfils, AS, dan penulis buku Women and
Anger, marah akan menjadi masalah bagi wanita bila sering muncul
dengan intensitas tinggi, artinya marah banget, dan terlalu lama,
meski tak dijelaskan secara persis seberapa lamakah yang
disebutnya “terlalu lama” itu. Namun, mengekspresikan marah dengan
meluap-luap, meledak-ledak, atau memendam saja hasilnya sami mawon
bagi kesehatan, sama-sama tidak baiknya.

Mengelola dengan cara sehat

Kalau pandangan mata kita alihkan ke sosok yang disebut marah tadi,
sebenarnya marah banyak macamnya. Mark Gorkin, seorang konsultan
pencegahan stres dan kekerasan untuk US Postal Service, layanan pos
di AS, dalam situs stressdoc.com membagi marah dalam empat macam.
Ada marah dengan maksud tertentu (purposeful), spontan, konstruktif,
dan destruktif.

Dikatakan purposeful ketika ekspresi marahnya disengaja, dengan
kadar pertimbangan atau perhitungan yang cukup; juga dengan kadar
pengendalian diri yang berarti. Dikatakan spontan, ketika ekspresi
marah dilakukan secara tiba-tiba dengan sedikit pemikiran atau
perencanaan; dengan kadar pengendalian diri yang sedikit moderat.
Dikatakan konstruktif ketika ekspresi marah tegas serta menyatakan
integritas dan batas privasi seseorang tanpa secara objektif
bermaksud untuk mengancam atau melanggar integritas dan batas
pribadi orang lain. Dan dikatakan destruktif ketika ekspresi marah
ditumpahkan tanpa rasa bersalah dan secara kokoh mempertahankan
identitas dan batas privasi seseorang dengan maksud untuk mengancam
atau melanggar integritas dan batas pribadi orang lain.

Namun, problem sebenarnya bukan pada amarahnya. Sebab bukankah itu
manusiawi? Masalahnya, terletak pada kesalahkelolaan marah itu
sendiri. Karena itu, kita perlu mengelola marah itu secara sehat dan
hati-hati.

Dalam situs angermgmt.com disebutkan ada empat langkah nyata untuk
mengelola amarah. Pertama, mengidentifikasi kesalahan sikap dan
pendirian yang mempengaruhi kita untuk marah secara berkelebihan.
Begitu kesalahan ini diperbaiki, kita bakal lebih mudah
mengendalikan marah.

Langkah kedua adalah mengidentifikasi faktor-faktor dari masa kecil
kita yang menghambat kemampuan kita mengekspresikan amarah. Faktor-
faktor ini termasuk ketakutan, penolakan, ketidaktahuan, dan
seterusnya.

Langkah ketiga adalah mempelajari cara tepat untuk mengekspresikan
kemarahan sehingga kita tetap dapat menguasai situasi yang
menimbulkan kemarahan itu, bahkan secara lebih efektif. Rasa cemas
dan depresi, sering kali merupakan dampak dari kemarahan yang
ditekan. Masalahnya adalah kalau kita menekan kemarahan itu begitu
dalamnya sampai-sampai kita sendiri tidak tahu! Lalu yang kita
rasakan hanya “sampah”-nya, yaitu kecemasan atau depresi. Lebih
repot lagi, ketika kita mengalami depresi, kita juga sangat sering
marah pada diri kita sendiri tanpa menyadarinya.

Langkah keempat, menutup luka-luka yang mungkin tertinggal oleh
pengaruh emosional dari kemarahan yang menghancurkan. “Luka amarah”
yang tinggal dalam diri kita itu adalah terhadap mereka yang telah
berbuat salah terhadap kita. Jika kita tidak menuntaskan langkah
terakhir ini, rasa kesal dan jengkel karena merasa telah
diperlakukan tidak adil akan melekat terus. Sampah amarah dan
kemarahan kita itu pun bakal terbawa terus, sampai akhirnya membusuk
dalam hati kita selamanya.

Selain keempat langkah tersebut, Charlotte Sanborn, Ph.D., dari
Dartmouth College, juga menyodorkan empat langkah pendekatan dalam
menangani amarah, seperti dikutip dari situs
fsap.harvard.edu/managinganger.html. Keempat pendekatan tersebut
adalah

Terimalah. Bila di masa mendatang kita merasa marah, terima saja.
Jangan mengingkari perasaan marah atau mencoba untuk menutupinya.

Galilah. Dapatkan sumber emosinya. Jika sumbernya adalah sesuatu
yang dikatakan orang kepada kita, tanya pada diri kita sendiri
mengapa kata-kata itu membuat kita marah. Jika sumbernya sesuatu
yang dilakukan atau tidak dilakukan orang, cari alasan mengapa kita
sampai marah?

Ekspresikan. Jika kita yakin pengekspresian kemarahan kita itu bakal
meledak-ledak sehingga mungkin menimbulkan rasa permusuhan, pertama-
tama tenangkan diri dulu. Ambil napas dalam-dalam, tahan selama
sepuluh detik, dan keluarkan. Atau, berjalan-jalanlah sejenak.
Ketika kita merasakan bahwa kita sudah dapat mendiskusikan masalah
yang mengganjal tanpa meledakkannya, lakukan.

Lupakan. Langkah terakhir ini mungkin paling susah. Namun juga
paling penting. Begitu kita sudah menyampaikan perasaan kita kepada
orang yang membuat kita marah, lupakan masalah itu. Berubah atau
tidak sikap dia, tak jadi soal. Yang penting kita telah
mengekspresikan kemarahan secara sehat.

Menggunakan empat langkah di atas dapat membantu kita untuk
mengelola amarah dengan lebih baik. Namun, penelitian juga menemukan
empat cara lain, untuk merespons perasaan marah, meskipun masing-
masing memiliki kekurangan. Cara-cara tersebut adalah jangan
melakukan:

Pengelakan (evasion), yakni mengingkari bahwa kita marah - atau
tidak dapat untuk mengenali bahwa kita marah. Mengingkari marah cuma
menambah stres dan mungkin menggiring kita ke arah penyakit yang
berhubungan dengan stres tersebut, seperti sakit kepala dan depresi.

Pemendaman (containment), yakni memendam marah meskipun kita tahu
bahwa kita sedang marah. Ini bukan mengurung amarah, cuma menunda
ekspresinya. Akhirnya, marah mengarah kepada stres atau penyakit
yang berhubungan dengan stres atau ledakan amarah.

Pengalihan (displacement), terjadi ketika kita menumpahkan kemarahan
pada sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan sasaran amarah kita.
Misalnya, istri memberikan tongkat golf suaminya kepada orang lain
lantaran kesal pada ucapan sang suami. Atau, seorang bawahan yang
ogah-ogahan bekerja karena fasilitas kerja yang tidak sesuai dengan
tuntutannya.

Pengekspresian tak langsung (indirect expression), terjadi jika kita
marah karena alasan tertentu, tapi menumpahkan kemarahan kita pada
sesuatu yang lain. Sebagai contoh, kita mungkin marah pada anak kita
karena perilaku belajarnya yang kurang baik, tapi daripada
mengalamatkan sumber kemarahan kita pada kemampuan belajarnya, kita
memarahi dia karena ia berlama-lama menggunakan telepon.

Jadi, marah sebenarnya masih bisa dikelola agar tak berdampak buruk.
Semuanya tergantung pada diri kita sendiri, mau atau tidak mengelola
kemarahan dengan cara sehat.

Tidak Marah, Menyehatkan Anda

Tuesday, March 29th, 2005

Jika anda sekali waktu marah kepada pelanggan, itu memang wajar. Tak ada manusia yang sempurna, dan memang kadangkala pelanggan dapat membuat anda naik darah dengan tingkahlaku yang tak masuk akal atau bahkan bersikap kasar. Boleh saja anda merasa marah asalkan anda tidak bertindak dengan kemarahan. Bersikaplah profesional, maka semua akan beres.
Meskipun begitu, jika anda tahu-tahu marah kepada pelanggan (sebenarnya kepada orang lain) karena hal biasa, waspadalah —kini para dokter mengatakan bahwa orang yang marah secara teratur akan mendapat risiko penyakit jantung semakin tinggi.
Kemarahan akan menimbulkan berbagai ledakan perubahan di dalam diri kita. Tubuh akan memproduksi hormon-hormon tertentu secara berlebihan untuk membantu kita dalam dalam situasi yang menimbulkan kemarahan, yang merangsang kita ke keadaan sangat waspada, yang membuat detak jantung meningkat dan menaikkan tekanan darah.
Apabila anda sering marah, tubuh anda terus menerus memakai “gigi persneling” tinggi, dan ini akan memberi dampak terhadap anda. Para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang banyak marah cenderung membentuk jantung dan arteri yang lebih lemah serta tingkat kolesterol yang tidak seimbang; yang pada akhirnya mereka akan mati lebih cepat.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan lebih dari 25 tahun, 20 persen pengacara yang tergolong sebagai pemberang telah mati, dan hanya 4 persen dari rekan-rekan mereka yang tergolong bukan pemberang meninggal dalam periode tersebut. Sebuah penelitian lain mengemukakan bahwa 14 persen dokter yang pemberang telah mati dalam periode penelitian tersebut, dibandingkan dengan 2 persen dokter yang tergolong tidak pemberang.
Dalam bahasa sehari-hari berarti, bila terus menerus marah berakibat tidak baik bagi kesehatan anda. Jika anda sering marah di dalam pekerjaan, anda perlu mencari cara agar marah anda semakin berkurang.
Pertama-tama, ajukanlah pertanyaan kepada diri anda. Apa sebabnya saya marah? Apakah karena orang, atau karena keadaan? Apakah saya dapat mengendalikan orang atau situasi tersebut? Begitu anda mengisolasikan permasalahan anda, cobalah anda betulkan. Jika anda tak dapat betulkan, usahakanlah agar dihindari.
Apabila anda merasa marah, cobalah mengalihkan perhatian anda. Menghitunglah dari satu hingga dua puluh, dengarkan nafas anda, tutup mata dan bayangkanlah suatu pemandangan yang mempesona —atau apa saja yang cocok bagi anda. Ada orang yang mengendalikan marah mereka dengan mengulangi kata-kata: “Ini pasti akan berlalu”. Atau anda dapat mengubah penampilan anda —lihatlah segi humornya dalam situasi tersebut dan bukan hal yang menjengkelkan anda.
Kemarahan bukan satu-satunya cara bereaksi terhadap situasi atau terhadap seseorang. Ada banyak cara yang tidak begitu membahayakan kesehatan anda. Jika segala usaha yang anda lakukan tidak dapat menolong anda mengendalikan kemarahan anda, mungkin anda perlu bantuan tenaga profesional, atau mungkin mengganti pekerjaan.
Ingatlah, orang yang paling menderita atas kemarahan anda adalah anda sendiri

Menjadi Bangsa yang Merdeka

Tuesday, March 29th, 2005

SEGALA puji bagi Allah Yang Mahaagung yang selalu ingin membahagiakan hamba-hamba-Nya agar menjadi pribadi yang bebas dari perbudakan hawa nafsu, perbudakan cinta dunia atau perbudakan apa pun yang akan merampas kemuliaan dan kebahagiaannya. Saudara-saudaraku yang budiman, alangkah pilu dan pedih melihat bangsa yang terjajah dan terampas kemerdekaannya. Diatur dan diperintah semata-mata untuk mengikuti selera yang menjajah, tiada ketenteraman, tiada cita-cita, tiada kebahagiaan, dan tiada masa depan yang cerah.
Kita saksikan pula negeri kita yang pernah dijajah Belanda 350 tahun lamanya, lalu dilanjutkan oleh penjajahan Jepang. Hasilnya, walaupun kini kita sudah merdeka, kita tetap terpuruk dalam ujian yang seakan tiada akhirnya. Kendatipun kemerdekaan telah diraih oleh bangsa kita, ternyata sebagian besar pemimpin dan rakyatnya — serta boleh jadi termasuk kita — masih dijajah oleh bentuk penjajahan yang lain yang membuat hidup kita tidak bahagia, tidak merdeka, dan tidak mulia. Lalu, seperti apakah hidup merdeka itu? Nah, dalam uraian ini secara sederhana insya Allah akan kita kupas mengenai hidup merdeka.
1. Tidak disiksa oleh banyaknya keinginan
Memiliki keinginan adalah sesuatu yang sangat manusiawi, bahkan manusia bisa maju dan berprestasi karena keinginan. Akan tetapi, jika hidup diperbudak keinginan sampai terampas kebahagiaan, ibadah, waktu, pikiran, tenaga, bahkan biaya hanya untuk meladeni keinginan kita dan keinginan tersebut nyata-nyata tidak membawa manfaat bagi kemuliaan dunia dan akhirat, berarti kita sudah dijajah oleh keinginan.
Simaklah orang yang disiksa oleh keinginan memiliki rumah megah, mobil baru, penampilan yang selalu trendi, hari-harinya benar-benar hari-hari yang terjajah. Tidak layak kita menggadaikan hidup ini untuk meladeni setiap keinginan. Kita harus selalu berpikir jernih. Keinginan yang harus kita penuhi adalah keinginan yang disukai Allah, yakni keinginan yang bisa menjadi ladang amal saleh dan bekal untuk kepulangan kita ke akhirat. Dengan demikian, perjuangan kita pun akan menjadi ibadah. Dapat atau tidak yang kita inginkan, insya Allah tetap menjadi amal kebaikan dan bisa menjadi bekal pulang yang bernilai. Allah SWT., berfirman dalam surat Ali Imran ayat 159, “…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
Sempurnakan ikhtiar dan bertawakallah karena tawakal itulah hakikat keinginan. Yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Begitu pun sebaliknya, buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah. Dengan kata lain, silakan miliki keinginan tetapi pastikan keinginan itu menjadi pengantar ke jalan yang lurus dan ikhtiar di jalan Allah serta serahkanlah kepada Allah apa yang terbaik menurut Allah semata. Insya Allah kita akan bebas dari penderitaan disiksa oleh keinginan.
2. Bebas dari perbudakan nafsu
Nafsu adalah bagian dari karunia Allah yang melengkapi kehidupan kita menjadi bahagia bahkan mulia. Namun, nafsu harus terkendali. Kita lihat orang-orang yang diperbudak nafsu syahwat, hari-harinya hanya memikirkan kemaksiatan. Dia berzina dan memerkosa sehingga menghancurkan nilai-nilai yang ada pada dirinya dan menghancurkan orang lain, semata-mata karena diperbudak oleh syahwat. Padahal, kalau kita lurus di jalan Allah maka kita akan mendapatkan ganjaran dari setiap aktivitas yang kita lakukan.
Sepatutnya kita merenungkan firman Allah berikut ini, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya, janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan dunia ini, janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi, 18:28).
Begitu pula orang yang diperbudak nafsu amarah, pikirannya penuh kekejian, dendam membara, tutur kata penuh angkara murka, tindakan menjadi tidak terkendali dan hina, serta sudah pasti dia tidak akan pernah disukai orang lain sehingga hari-harinya penuh ketegangan, na’uzubillahi minzalik. Untuk itu, waspadalah bagi siapa pun yang tidak bersungguh-sungguh melatih diri untuk mengendalikan amarah, akan habis kehidupannya karena dijajah oleh nafsu amarah. Betapa pengasihnya Allah yang telah memberi peringatan kepada kita dalam firman-Nya, “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Q.S. Yusuf, 12:53).
Kita harus berjuang sungguh-sungguh untuk melatih diri menjadi seorang yang dapat mengendalikan marah, melatih diri untuk tidak mudah tersinggung, melatih diri untuk mudah memaafkan, dan memaklumi keadaan orang lain. Bahkan, kalau bisa latih diri kita untuk membalas dengan kebaikan kepada orang-orang yang khilaf berbuat keburukan kepada kita. Kalau kita terkendali dari nafsu amarah dan syahwat, insya Allah hidup ini lebih ringan dan bermartabat.
3. Tidak diperbudak asmara
Salah satu yang memperindah dan menghiasi hidup kita adalah cinta. Akan tetapi, kita lihat ada orang yang terjerumus ke lembah nista dalam perbuatan-perbuatan yang hina justru karena cinta — tentu cinta buta yang membuat tidak bisa melihat kebenaran. Waspadalah saudaraku, jatuh cinta ibarat memasuki sebuah pusaran air, kalau tidak hati-hati semakin cinta semakin membelenggu, semakin hanyut, berkurang rasa malu, dan membara nafsu yang akhirnya menyengsarakan dunia akhirat, kecuali cinta di jalan Allah.
Oleh karena itu, jauhilah percintaan yang tidak disukai dan tidak di jalan Allah. Milikilah cinta yang asli karena Allah yang caranya betul-betul menegakkan apa pun yang diaturkan oleh agama. Percayalah, rambu-rambu yang diberikan oleh Allah akan membuat diri kita tidak diperdaya oleh cinta yang tampaknya indah padahal bisa jadi menjerumuskan. Na’uzubillahi minzalik. Berlindunglah kepada Allah supaya kita tidak diperbudak oleh asmara buta.
4. Orang yang jujur
Setiap kali berbohong, bohong itu akan menjadi penjara bagi kita. Kita akan selalu waswas, takut kebohongan (kedustaan) kita diketahui yang mengharuskan kita berbuat bohong lanjutannya. Bohong itu pun tentu akan menjadi penjara baru. Demikianlah kurang lebih bagi orang-orang yang berdusta, berbohong atau tidak jujur dalam hal apa pun.
Oleh karena itu, tidak akan merdeka orang-orang yang tidak menjaga dirinya dari kedustaan dan ketidakjujuran. Rasulullah bersabda, “Tidak ada akhlak yang paling dibenci Rasulullah, lebih dari bohong. Apabila Beliau melihat seseorang bohong dari segi apa saja, orang itu tidak keluar dari perasaan hati Rasulullah sehingga beliau tahu bahwa orang itu telah bertaubat.” (H.R. Ahmad).
Pastikanlah kita menjadi orang yang menikmati hidup jujur. Semakin sedikit rahasia, semakin merdeka hidup ini. Semakin tidak mengenal dusta, semakin tidak terancam diri ini. Tak ada yang membuat kita takut harus diketahui aib dan kebohongan oleh orang lain karena memang kita tidak menyembunyikan sesuatu. Selamat berbahagia bagi saudara yang berjuang menjadi pribadi yang jujur terpercaya karena itulah milik orang-orang yang merdeka.
5. Orang yang tawadu
Rendah hati adalah kunci kebahagiaan. Semakin kita ingin dihargai, semakin ingin dihormati, semakin ingin dipuji, semakin ingin diperlakukan lebih, semakin sengsara hidup ini karena kita semakin butuh kepada orang lain. Padahal, orang lain belum tentu sesuai keinginannya dengan kita.
Orang yang rendah hati, pikirannya adalah justru ingin melihat orang lain lebih berhak dihargai, lebih berhak dihormati, dan tidak melihat orang lain lebih rendah dari dirinya. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT., dalam surat Alfurqaan ayat 28, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
Kethawaduan tidak akan pernah menghinakan, bahkan sebaliknya akan mengangkat derajat seseorang. Adalah mimpi kita bahagia jika kita menjadi orang yang sombong dan takabur. Sabda Rasulullah, “Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (H.R. Muslim). Kebahagiaan dan kemerdekaan adalah milik orang-orang yang rendah hati.
6. Orang yang ikhlas
Ikhlas adalah kunci kemerdekaan hati. Orang-orang riya yang hidupnya tamak akan pujian akan menjadi korban mode dan korban zaman. Akan tetapi, orang-orang yang ikhlas tidak pusing dengan penilaian manusia. Yang dia pikirkan adalah selalu memikirkan yang terbaik dan puas dengan penilaian Allah Yang Mahadekat serta ganjaran dari Allah yang melimpah dan tidak mengecewakan. Rasulullah bersabda, “Allah tidak menerima amalan, melainkan amalan yang ikhlas dan yang karena untuk mencari keridaan Allah.” (H.R. Ibnu Majah).
Wahai saudaraku yang baik, marilah kita nikmati menjadi orang yang tidak terpengaruh oleh kerinduan dipuji orang lain. Pujian orang hanyalah tipu daya bagi kita, cobaan yang membuat kita sering menipu diri padahal kita tidak layak dipuji. Akan tetapi, pujian dari Allah akan menyelamatkan kita dunia akhirat.
7. Orang yang tawakal
Semakin banyak bergantung kepada sesuatu, kita akan takut kehilangan sesuatu. Seperti orang yang bersandar di kursi akan takut kursinya diambil. Tetapi bergantung kepada Allah, itulah yang akan memuaskan karena Allah menggenggam segala yang kita butuhkan. Allah Mahatahu masalah kita, Allah Mahatahu segala jalan keluar dari kesulitan kita, dan Allah-lah yang kuasa atas segala-galanya.
Orang yang bertawakal, dicukupi kebutuhannya oleh Allah Yang Mahatahu kebutuhan kita. Allah berfirman, “… Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakinya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. Aththalaaq 65:3).
Sahabat-sahabatku yang budiman, untuk apa kita bergantung kepada manusia. Makhluk adalah lemah tiada daya dan tidak bisa memberi manfaat bagi kita tanpa izin Allah dan juga tidak bisa memberikan mudharat.
Nah, marilah kita puaskan diri kita, ikhtiar kita, dan ketawakallan kita. Gigihnya ikhtiar jangan mencuri hati dari tawakkal kepada Allah. Yakinnya kepada Allah jangan pernah mengurangi ikhtiar kita, itulah orang-orang yang akan menikmati kemerdekaan dalam hidup ini. Akhlaknya jadi mulia dan indah kalau setiap perilakunya bisa menjadi amal saleh yang menjadi bekal kebahagiaan dunia dan menjadi bekal perjumpaan dengan Allah Azzawajalla. Sekali merdeka tetap merdeka. Sekali menjadi hamba Allah selama-lamanya hanyalah untuk mengabdi kepada Allah.

Marah di kendalikan dong…

Tuesday, March 29th, 2005

Marah atau sering disebut amarah, merupakan salah satu bentuk emosi manusia yang sepenuhnya bersifat normal dan sehat, yang pernah dialami oleh setiap orang. Akan tetapi bila tidak dikendalikan dengan tepat, marah bisa bersifat destruktif yang berpotensi menimbulkan masalah yaitu merusak sendi kehidupan di lingkungannya, misal di dalam keluarga, di tempat kerja, serta dapat menggangu hubungan interpersonal.

Hal positif dari marah adalah untuk melepaskan beban emosi yang berat, hingga setelah melampiaskan marah merasa lega.Kenyataannya rasa lega itu bersifat sementara, biasanya diikuti dengan rasa tertekan karena merasa tidak mampu berinteraksi secara baik dengan orang lain. Padahal dengan kesadaran dan kemauan, rasa marah bisa dikendalikan atau dilampiaskan dengan cara yang tepat.

Tanda seseorang yang tak dapat mengendalikan marah adalah mengomel, menggerutu, ngambek atau menarik diri dari pergaulan, berteriak-teriak, mencaci maki, merusak barang-barang yang ada didekatnya, melakukan kekerasan terhadap orang yang dimarahi. Mereka ini tidak dapat mengambil hikmah dari situasi yang tidak menyenangkan dan menjadi marah ketika situasi “tidak berpihak” mereka seperti ketika sedang dikritik atau ditegur karena melakukan suatu kesalahan.
Tanda seseorang yang dapat mengendalikan marah, bersikap toleransi terhadap keadaan yang tidak menyenangkan, dan ungkapan marah hanya diwujudkan dengan menggerutu atau mengeluh, tanpa merugikan atau merusak suasana d lingkungannya

Faktor penyebab seseorang memiliki pembawaan pemarah yaitu:

1.Genetik, yaitu sifat yang dibawa sejak lahir Latar belakang keluarga, yang menunjukkan adanya proses keteladanan dari lingkungan keluarga, missal orang tua yang mudah marah, lingkungan keluarga yang berantakan.

2.Sosial-Budaya, yaitu kebiasaan dari masyarakat yang mengajarkan untuk meluapkan kecemasan, depresi atau emosi yang lain untuk menjaga martabat keluarga atau masyarakat.

Dalam hidup tak mungkin untuk menghindar dari sesuatu yang menjadi penyebab kemarahan, karena kita tak dapat mengubah orang lain atau suasana lingkungan. Yang dapat kita lakukan adalah mengubah pikiran dan perasaan diri sendiri. Cara yang dapat kita lakukan adalah mengendalikan emosi dengan:

a.Mengekspresikan kemarahan secara asertif, yaitu dengan belajar bagaimana cara mencapainya tujuan atau memperoleh kebutuhan tanpa menyakiti orang lain. Ini berarti menghormati diri sendiri dan orang lain.

b.Mengalihkan rasa marah, yaitu berhenti memikirkan hal yang bisa membuat marah dan mencoba mengalihkan pada sesuatu hal yang positif. Akan tetapi dengan sikap jika faktor pemicu kemarahan banyak dapat menimbulkan rasa tertekan atau sering menyebabkan hipertensi

c.Menenangkan diri, dengan cara menarik nafas dalam-dalam dan mencoba meredakan emosi dengan melakukan relaksasi

d.Menciptakan humor untuk menyelesaikan masalah

f.Mengubah cara pandang dengan berpikir secara positif dan logis

g.Menyelesaikan masalah secara tuntas, terutama untuk masalah yang disebabkan dari dalam diri sendiri

h.Melatih berkomunikasi dengan baik, sehingga dapat menghadapi perbedaan pendapat, bersedia menjadi pendengar, tidak memaksakan kehendak pada orang lain.

i.Mengubah lingkungan, yaitu dengan mengubah tatanan rumah atau kantor yang dapat menghilangkan suasana jenuh

j.Meminta pendapat pakar psikologi, terutama bagi yang sulit mengendalkan amarah karena mempunyai masalah yang tidak dapat diselesaikan

k.Mendekatkan diri pada Tuhan, merupakan cara yang terbaik ketika mengalami kesulitan untuk mengendalikan marah. Dengan doa dan zikir yang sungguh-sungguh, akan mendapat ketenangan batin sehingga dapat berpikir secara jernih dalam menghadapi permasalahan tanpa melampiaskan dengan marah

Tebakan Bodoh-bodohan

Tuesday, March 29th, 2005

Pertanyaan 1:
IKAN APA YANG KEPALANYA DARI BESI?

Jawab :
IKAN PINGGANG

Pertanyaan 2:
1 orang ketakutan,2 orang malah takut lagi.3 orang lebih takut lagi,orang banyak malah ketakutan.mengapa?

Jawab :
soalnya mereka lewat jembatan mau rubuh/putus

Pertanyaan 3:
binatang apa yang saling bersaudara?

Jawab :
“katak beradik”

Pertanyaan 4:
orang apa yang kalo ditampar gak sakit?

Jawab :
orang gak kenaaa yeiy…

Pertanyaan 5:
Hurup depannya “M” Hurup belakangnya ” K” di tengahnya ada kacangnya dan pinggirnya ada bibirnya

Jawab :
Martabak

Pertanyaan 6:
besi apa yg bisa di makan ?

Jawab :
besikuit

Pertanyaan 7:
BEDA ANTARA PACUAN KUDA DENGAN PERLOMBAAN BALAP SEPEDA

Jawab :
KALAU PACUAN KUDA ADA PARKIR SEPEDA, TAPI KALAU LOMBA BALAP SEPEDA TIDAK ADA PARKIR KUDA

Pertanyaan 8:
dari jauh 3 dari dekat 1

Jawab :
salah liat

Pertanyaan 9:
Apa beda Matahari sama Bulan ?

Jawab :
Matahri ada diskon, bulan nggak ada

Pertanyaan 10:
lele apa yg paling disukai anak kecil

Jawab :
leletubis

Pertanyaan 11:
ayam apa yg kaga ada takutnya sama macan??

Jawab :
ay’am (i’am) not affraid of tiger….

Pertanyaan 12:
KERA APA YANG SUCI?

Jawab :
keramat

Pertanyaan 13:
Kayu apa yang renyahh??

Jawab :
kayupuk

Pertanyaan 14:
di buka pertama kelihatan bulunya, di buka kedua kelihatan batangnya. apaan yooooo

Jawab :
jagung rebus