Israel - Negara yang didirikan di atas dusta dan kebohongan

December 12th, 2006 by fahla

Negara Israel merupakan negara yang didirikan di atas kebohongan untuk mendapatkan legitimasi sebagai suatu negara.

Holocaust, Fiksi Zionisme

Perang Dunia II di wilayah Eropa menimbulkan kerugian dan korban jiwa besar. Pada kurun waktu sejak tahun 1939 hingga tahun 1945, puluhan juta orang tewas dan cidera di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, banyak fasilitas ekonomi hancur akibat peperangan tersebut. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam perang dunia selalu menjadi topik pembahasan para sejarawan dan analis. Di antara peristiwa yang sangat kontroversial adalah Holocaust, yaitu klaim orang-orang Zionis mengenai aksi pembantaian terhadap enam juta Yahudi oleh pasukan Nazi. Mereka mengklaim bahwa jenazah orang-orang Yahudi tersebut oleh para serdadu Hitler.

Holocaust berarti pembunuhan massal dengan cara membakar. Masalah ini diangkat kembali setelah PD II. Rezim Zionis menggunakan tragedi holocaust sebagai trik untuk menarik perhatian masyarakat internasional dan menggelindingkan propaganda luas dalam hal ini. Berbagai film dan karya buku tentang holocaust diterbitkan. Saat ini, kamp-kamp penahanan dan penyiksaan orang-orang Yahudi khususnya kamp Auschwitz, menjadi museum untuk umum. Lebih dari 250 museum didirikan di berbagai negara guna mengenang korban Holocaust. Bahkan, di sekolahan di AS dan Eropa tragedi itu juga dijadikan pelajaran sejarah. Propaganda Rezim Zionis dalam kaitan Holocaust sedemikian gencar sehingga seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Rezim Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun.

Meski propaganda Holocaust gencar dilakukan, namun banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang  mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia II jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi. Korban paling banyak pada PD II adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada PD II telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.

Alasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia II tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Sebenarnya, Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi. Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust. Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era PD II khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juga orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asalah Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar. Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktot Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

Meskipun demikian, Rezim Zionis tetap bersikeras mempertahankan klaim mereka soal Holocaust. Rezim Zionis juga berupaya keras menginfiltrasi negara-negara Eropa untuk mencegah segala bentuk penelitian terhadap keotentikan peristiwa Holocaust.

***

Fenomena Holocaust begitu penting bagi Zionis karena bisa menciptakan opini kemazluman orang-orang Yahudi. Fiksi pembantaian enam juta warga Yahudi oleh Hitler merupakan permainan terpenting Zionis untuk menumbuhkan belas kasih masyarakat dunia kepada orang-orang Yahudi. Oleh karena itu, mereka tidak akan menerima kritik dalam kaitan tragedi tersebut.

Direktur Lembaga Kebebasan Beropini di Kanada mengatakan, “Holocaust telah berubah menjadi sebuah keyakinan. Sebuah keyakinan dirancang untuk orang-orang selain Yahudi, dan siapa pun yang mengingkari tragedi itu akan ditindak seperti seorang yang murtad. Hal ini merupakan langkah yang salah dan menipu menurut akal dan logika. Profesor Robert Farison juga mnyatakan bahwa Holocaust merupakan bom nuklir Zionis.

Hal yang menarik, melalui kekuatan lobinya di Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. Ketika AS dan Eropa melakukan propaganda dengan gencar dalam kaitan Holocaust, seorrang analis yang berasal dari Australia,  Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust. Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur  para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Pernacis yang disebut sebagai negara kebebasan juga tidak terlepas dari belenggu kekuatan lobi Zionis, sehingga harus menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. Sikap itu yang tidak selaras dengan  kebebasan berpendapat di negara-negara yang membela HAM dan kebebasan merupakan hal yang mengejutkan.

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja. Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Jika tragedi pambantaian enam juta warga Yahudi adalah sebuah realitas, tidak semestinya Zionis dan Barat khawatir dengan penelitian lebih lanjut atas tragedi Halocaust. Tentu saja, kekhawatiran mereka ini membuktikan  lemahnya argumentasi dan bukti atas tragedi Holocaust. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Oleh karena itu, para analis dan pemikir di Barat yang mengkritik Holocaust,sehingga menerima berbagai ancaman dan tekananan, yang setidaknya dihukum berdasarkan konstitusi miring mengenai Holocaust, menyandang sifat kesatria. Profesor Forison adalah wujud nyata yang berani bersikap kesatria untuk mempertanyakan tragedi Holocaust. Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison  diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.” Profesor Roger Garudi adalah sosok lain yang menolak kisah tentang Holocaust, sehingga diseret ke pengadilan. Karya besar Garudi yang berjudul “Mitos-mitos Pembangun Politik Israel” juga menghadapi penentangan keras dari kaun Zionis, karena buku tersebut mengungkap kebohongan tragedi Holocaust. Pada akhirnya, Garudi dijatuhi hukuman karena sikapnya menentang undang-undang Fabius-Gayssot. Lagi, kebebasan dan HAM menjadi korban kepentingan Zionis di Eropa.

Ernest Zundel, seorang peneliti asal Jerman masuk dalam daftar para penentang tragedi Holocaust. Sebelum hijrah ke AS, dia bermukim di Kanada. Akibat tekanan dan intimidasi kaum Zionis di Kanada, Zundel terpaksa meninggalkan negara itu. Di AS, kaum Zionis tetap mengejar Zundel, sehingga akhirnya dia ditangkap dan diekstradisi ke Jerman untuk diadili karena keyakinannya yang menentang mitos Holocaust. Tak cuma kalangan peneliti sejarah yang kebebasan pendapatnya terbelunggu. Para anggota parlemen di Eropa juga tak berhak untuk menyuarakan pendapatnya yang menentang kisah pembunuhan massal warga Yahudi pada perang dunia kedua. Bruno Gollnisch, anggota parlemen Eropa asal Prancis termasuk di antara mereka yang menentang kisah Holocaust. Katanya, “Seluruh kisah Holocaust adalah khanyalan otak kotor kaum Zionis.” Akibat pernyataannya itu, Gollnisch kehilangan kekebalan diplomatiknya sehingga memungkinkannya untuk diseret ke pengadilan.

Korban lain dari mitos Holocaust adalah David Irving. Ketenarannya sebagai sejarawan besar Inggris tidak mampu menelamatkannya  dari penganiayaan yang dialaminya di Inggris dan negara-negara lain. Ketika berkunjung ke Austria beberapa waktu lalu, Irving dijerat dengan pasal tahun 1989 tentang Holocaust. Irving hanyalah satu dari sederet ilmuan dan cendekiawan yang mengalami nasib buruk dan menyedihkan karena menentang mitos pembunuhan massal kaum Yahudi pada masa perang dunia kedua. Germar Rudolf kimiawan Jerman, Doktor Frederick Toben asal Australia, Louis Marshalko asal Hungaria penulis buku the World Conquerers, Norman G. Finkelstein dosen universitas DePaul Chicago penulis the Holocaust Industry adalah contoh dari puluhan ilmuan dan cendekiawan tersebut.

Mitos Holocaust dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mengejar kepentingannya di dunia, yang diantaranya adalah untuk membentuk sebuah rezim ilegal di tanah Palestina tahun 1948. Tak syak, tanpa mengumbar isu pembantaian massal umat Yahudi pada masa perang dunia kedua, kaum Zionis tak akan dengan mudah memaksa masyarakat dunia termasuk PBB untuk menerima kehadiran sebuah negara ilegal bernama Israel di negeri Palestina. 

Frederick Toben dalam hal ini mengatakan, “Negara Israel dibentuk atas dasar kisah Holocaust. Oleh karena Holocaust adalah kisah bohong, berarti Israel dibangun di atas kebohongan besar.” Kelestarian Israel sangat bergantung pada keyakinan masyarakat Barat akan kebenaran kisah pembunuhan 6 juta warga Yahudi di Eropa oleh Hitler. Berkat kisah ini pula, Israel berhasil meraup ganti rugi yang tidak sedikit dari negara-negara Eropa terutama Jerman.

Singkatnya, Holocaust adalah kisah dusta besar yang diciptakan oleh orang-orang Zionis. Segencar apa pun kaum Zionis mempropagandakan kisah ini untuk menunjukkan ketertindasannya di dunia, suatu hari kebohongan ini akan terungkap. Masyarakat dunia saat ini mulai sadar bahwa Holocaust yang sebenarnya bukan terjadi di Eropa pada masa perang dunia kedua dengan korbannya warga Yahudi, tetapi Holocaust sedang terjadi saat ini. Tempatnya adalah Palestina dan korbannya adalah bangsa Palestina. Pelakunya bukan Hitler, tetapi kaum Zionis.

Bookmark and Share

Israel - Mengungkap “Industri Kebohongan” bernama Holocaust

December 12th, 2006 by fahla

wooo….. betapa munafiknya negeri Israel ini. Semua demi harta semata……

Mengungkap “Industri Kebohongan” bernama Holocaust Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Senin, 02 Oktober 2006
Dari cerita sejarah, Holocaust kemudian lahir menjadi ‘indutri politik’ dan menjadi pemeras dolar.  Norman G. Finkelstein, membongkar faktanya dengan begitu bagus


Selain Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, belum pernah ada tokoh di dunia yang berani secara terang-terangan mengatakan keberadaan holocaust hanya sekedar mitos. Sebab, bagi banyak orang, khususnya di Barat dan Eropa, menolak keyakinan keberadaan Holoucaust bisa dianggap sebagai ‘anti semit’ dan sebuah pelanggaran tidak sepele.

Holocaust,  yang diklaim kaum Yahudi sebagai peristiwa pembantaian oleh Nazi Jerman di bawah Adof Hitler di masa Perang Dunia II –kaum Yahudi juga menyebutnya sebagai ‘the final solution— dan dianggap menyebabkan lebih dari enam juta kaum Yahudi ‘dibantai’ di ruang gas di kamp-kamp Auschwitz tak lain hanyalah ‘kebohongan’ tergoranisir dan tercanggih di abad ini.

Kecuali orang tak tidak waras, bagi kebanyakan orang normal, meyakini lebih dari enam juta kaum Yahudi disiksa dan dibantai adalah sulit dinalar. Bagi yang percaya propaganda murahan seperti ini, membantai jutaan orang –secara matematis membutuhkan 137 orang perjam-nya untuk dibantai—adalah omong kosong yang tak bermutu. Sebab, selama Perang Dunia II, hanya ada segelintir kamp-kamp di Jerman.  Selain itu, kota  Austchwitz adalah kota kecil. Seharusnya Jerman harus menyediakan ratusan kamp di kota kecil itu.

Bahkan selama 6 hari pada Oktober 1999, sebuah tim Australia yang dipimpin oleh Richard Krege –seorang insinyur elektronik terkemuka– melakukan pengujian terhadap tanah pada bekas kamp Treblinka II di Polandia, di mana para sejarawan Holocaust meyakini jutaan orang Yahudi dibunuh di kamar gas kemudian dikubur secara massal, tak mendapatkan bukti apapun, kecuali kebohongan.

Untuk yakin bahwa jumlah Yahudi di Eropa selama 60 tahun lalu melebih enam juta jiwa (sedangkan saat ini jumlah keseluruhan populasi hanya berkisar 20 juta jiwa) diperkirakan hanya bisa diwakili orang-orang yang ‘tidak sehat’ berfikir.

Lantas bagaimana bisa cerita lelucon ini bisa “menyihir” jutaan orang dan Negara-negara besar di Barat dan Eropa? Panjang ceritanya. Lagi-lagi, tak jauh dari ‘teori konspirasi’ (meski hal-hal seperti ini sering dianggap isapan jempol semata).

***


Sejak mendirikan negara tahun 1948 dengan merampas tanah Palestina, Israel tidak begiku dianggap penting di dunia. Bahkan ketika Israel ikut bersekutu dengan Perancis dan Inggris menyerang Mesir tahun 1956 yang membuat semenanjung Sinai jatuh, Israel tetap tak dianggap berarti.

Bahkan Amerika Serikat (AS) kala itu lebih memilih “Negara Arab” untuk menjaga hubungannya karena dianggap lebih menguntungkan secara politis di masa depan.

Yahudi –dalam hal ini Holocoust— tiba-tiba dianggap  begitu penting bagi pemerintahan Amerika khususnya, setelah ia berubah menjadi ‘industri politik’ yang digunakan untuk memeras dolar.

Sampai-sampai banyak warga Amerika yang lebih mengenal Holocaust dibanding sejarah penting mereka sendiri seperti peristiwa Pearl Harbor, di mana sejarah jatuhnya bom atom oleh Jepang. Bahkan hingga hari ini, tak ada penghargaan lebih tinggi melebihi Holocaust di Amerika Serikat (AS).

Begitu dahsyatnya “sihir” Holocaust, sampai-sampai bagi yang tak mengakui –termasuk yang menolak dan mengingkarinya—harus berhadapan dengan penjara. Tak kurang dari beberapa ilmuwan penting seperti; Robert Faurisson, Profesor Roger Garaudy (Perancis), David Irving (Inggris), Ernest Zandel (Kanada), Gatsom Amadeus (Swiss), George Ashley (AS), Dr. Joel Heyward (New Zealand), kesemuanya harus menjalani hukuman atas keberanian mereka menentang fakta adanya “kebohongan” Holocaust.

Buku ini merupakan salah satu buku laris di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Amerika. Penulisnya adalah Norman G. Finkelstein membuktikan sendiri kebenaran skandal bernama Holocaust. Sebuah fakta sejarah yang tiba-tiba berubah menjadi “industri politik” dan bisa memeras berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Termasuk pemerasan bank-bank Swiss. Sang penulis, Norman G. Finkelstein –yang mengalami sendiri peristiwa itu, karena berdarah Yahudi—membuktikan banyak kebohongan yang kini terus-menerus dipaksakan ke seluruh penjuru dunia. Setidaknya, buku ini teramat penting bagi yang silau oleh tipu daya Yahudi.

Sebagaimana kata koran The Times, “Buku ini meneriakkan skandal. Ini adalah sebuah polemik yang disuarakan dengan keras.” [cholis akbar/www.hidayatullah.com]

Bookmark and Share

Bara dari Buku Habibie

October 2nd, 2006 by fahla

Tujuh tahun menyepi ke Jerman, Baharuddin Jusuf Habibie pulang dengan satu kejutan besar. Dua pekan lalu mantan presiden itu meluncurkan buku berjudul Detik-detik yang Menentukan. Isinya bercerita tentang drama pergantian kekuasaan dari Presiden Soeharto ke Habibie pada 21 Mei 1998. Habibie juga berkisah tentang pasukan Komando Strategis Angkatan Darat, Kostrad, yang disebut-sebut bergerak di luar kendali Panglima ABRI—yang ketika itu dijabat Jenderal Wiranto

Inilah alasan Habibie mencopot Letnan Jenderal Prabowo Subianto dari posisi Panglima Kostrad—menurut versi buku itu. Habibie menguak kisah genting di lingkaran dalam Istana selama hari-hari pertama kekuasaannya.

Bara meletik ke udara begitu buku dilepas ke publik. Polemik muncul, ditayangkan oleh media massa dengan meriah. Prabowo mendesak Habibie segera merevisi buku itu. ”Saya panglima 34 batalion. Kalau saya punya niat (kudeta), mengapa tidak saya lakukan?” ujarnya di hadapan sejumlah wartawan di Jakarta, pekan lalu. Tapi Habibie menampiknya. Karena, ”Tulisan itu berdasarkan catatan yang saya miliki,” ujar mantan presiden itu dengan gagah. Sang penulis bahkan mempersilakan para jenderal lain bicara.

Tempo mengontak sejumlah jenderal meminta kesaksian mereka terhadap peristiwa 21 Mei. Ada yang terbuka. Ada yang tutup mulut. Letnan Jenderal (Purn.) Sintong Panjaitan, bekas ajudan Habibie, masuk kelompok terakhir. Dia bilang: ”Nantilah, saya tulis buku yang tidak bisa dibantah.”

Wiranto, satu tokoh sentral di latar politik Indonesia pasca-Soeharto, belum sudi berkomentar. Melalui kawan dekatnya, Letnan Jenderal Suady Marasabessy, dia menjawab Tempo begini: ”Saya tidak mau menyudutkan orang. Ini bulan puasa.”

u u u

”Catatan” yang disebut Habibie sebagai fondasi tulisannya berawal pada 21 Mei 1998. Hari itu dia naik ke kursi presiden menggantikan Soeharto.

Habibie bergerak cepat. Pada malam hari itu, dibantu enam orang dekatnya, dia menyusun kabinet. Semuanya lancar kecuali satu: mengisi kursi Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Sejumlah nama beredar di dalam rapat. Jenderal Subagyo Hadisiswoyo, yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Letnan Jenderal A.M. Hendropriyono, serta Letnan Jenderal Junus Yosfiah. Tapi Habibie tak kunjung memilih.

Sumber di lingkaran dalam Istana menuturkan kepada Tempo betapa Habibie terlihat bimbang. ”Pagi ada keputusan, siang diubah lagi dan malam diganti,” kata sumber ini. Hingga rapat ditutup pukul dua pagi, 22 Mei 1998, nama panglima belum putus.

Keputusan terbit esok paginya. Habibie menetapkan Jenderal Wiranto, Panglima ABRI dalam kabinet Soeharto, untuk mengisi pos penting itu. ”Kesan saya, Wiranto itu jujur dan memiliki nilai moral serta agama yang tinggi,” Habibie memberi alasan. Sekitar pukul enam pagi dia menyampaikan keputusan itu kepada Wiranto lewat telepon.

Habibie lega, walau suasana Jakarta masih tegang. Ribuan mahasiswa terus memadati gedung DPR RI di Senayan. Mereka terbelah antara mendukung Habibie dan menuntut sidang istimewa.

Habibie bersiap meluncur ke Istana Negara untuk mengumumkan susunan kabinet, ketika Sintong Panjaitan masuk ke ruang kerjanya pada pukul 07.30 WIB. Dia meminta Presiden menerima Komandan Kopassus Mayor Jenderal Muchdi Purwopranjono dan Mayor Jenderal Kivlan Zen. Dua orang ini membawa surat dari Letnan Jenderal Prabowo Subianto dan Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.

Habibie memerintahkan Sintong keluar untuk menerima surat-surat itu. Sesaat lewat, dia masuk lagi, dan menyarankan agar Habibie menerima sendiri surat-surat itu. Di depan pintu kantor, Habibie menampa surat itu, lalu membacanya. Surat Jenderal Besar Nasution menyarankan agar Subagyo diangkat menjadi Panglima ABRI dan Prabowo diangkat menjadi KSAD.

Kivlan Zen menuturkan kepada Tempo, surat itu dibikin pagi harinya. Sekitar pukul tiga pagi 22 Mei 1998, Prabowo memerintahkannya menghadap Nasution. Pesannya singkat: meminta Jenderal Besar menyurati Habibie. Isinya agar Subagyo dijadikan Panglima ABRI. Kivlan mengaku bahwa usulan Prabowo menjadi KSAD adalah inisiatifnya sendiri dan bukan dari Prabowo.

Setelah Habibie membaca surat itu, Muchdi dan Kivlan meminta petunjuk. Habibie menjawab singkat, ”Saya sudah baca.” Dua jenderal itu lagi-lagi berkata: ”Mohon petunjuk.” Jawaban Habibie tetap sama. ”Sudah saya baca,” lalu ia masuk ke ruang kerjanya.

Pukul sembilan pagi Presiden Habibie beranjak ke Istana. Terlihat pasukan tentara ada di mana-mana, lengkap dengan tank. Habibie masuk Istana dari pintu sebelah barat.

Dalam bukunya Habibie menuturkan, di depan tangga Istana, Wiranto sudah menunggu. Panglima ABRI minta bertemu empat mata. Habibie mempersilakan dia. Wiranto lalu melaporkan bahwa pasukan Kostrad dari luar Jakarta bergerak ke Ibu Kota. Ada konsentrasi pasukan di kediaman Habibie di Kuningan, Jakarta Selatan, dan di depan Istana Merdeka.

Habibie berkesimpulan bahwa Pangkostrad bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Panglima ABRI. Dia segera memberi perintah, ”Sebelum matahari terbenam, Pangkostrad sudah harus diganti. Semua pasukan di bawah komandonya kembali ke kesatuan masing-masing.” Wiranto terkejut dan bertanya siapa penggantinya. ”Terserah Pangab,” jawab Habibie.

Di Istana pagi itu sudah tumplek wartawan dalam dan luar negeri menantikan pengumuman kabinet, yang molor beberapa jam. Rumor seram pun berembus. Antara lain, Habibie dikabarkan gagal menyusun kabinet. Keraguan itu sirna begitu Habibie mengumumkan kabinetnya. Presiden langsung berkantor dan menerima sejumlah menteri.

Ketika ia tengah bersama beberapa menteri, Wiranto menelepon. Panglima ABRI mengusulkan Pangdam Siliwangi, Mayor Jenderal Djamari Chaniago, sebagai Pangkostrad. Tapi Djamari baru bisa dilantik esok harinya. Karena Prabowo sudah dicopot dan sebelum matahari terbenam Pangkostrad baru harus sudah terpilih, Wiranto mengusulkan Letnan Jenderal Johny Lumintang, Asisten Operasi Pangab, sebagai Pangkostrad sementara. Habibie setuju.

Menurut Subagyo, sesudah pengumuman kabinet itu Pangab memerintahkan mencopot Pangkostrad dan Komandan Kopassus hari itu juga. Serah-terima jabatan dilakukan pukul tiga sore. Repotnya, menjelang upacara serah-terima, Prabowo belum terlihat. Sejumlah informasi menyebutkan, kata Subagyo, Prabowo sedang di Istana. ”Saya tidak tahu apa yang ia lakukan di sana,” ujarnya kepada Tempo.

Sementara itu, seorang ajudan melaporkan kepada Presiden bahwa Prabowo Subianto mau bertemu. Habibie sempat bingung, apa perlu menerima Prabowo dalam situasi seperti itu. Dalam bukunya tergambar jelas bahwa Habibie bergelut cemas.

Tapi Habibie akhirnya memutuskan menerima Prabowo sesudah makan siang di ruang tamu Wisma Negara. Empat ajudan Habibie bersiaga di sudut ruangan. Thareq, putra Habibie, hadir dalam pertemuan itu. Melihat Prabowo tidak bersenjata, Habibie puas.

Habibie menulis, saat itu Prabowo berbicara dalam Inggris:

+ ”Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad.”

- Habibie menjawab, ”Anda tidak dipecat, tapi diganti.” Habibie menjelaskan alasan pergantian itu karena ada laporan dari Panglima ABRI soal pasukan Kostrad yang bergerak menuju Jakarta.

+ ”Saya bermaksud mengamankan Presiden,” jawab Prabowo.

- Habibie menukas, ”Itu tanggung jawab Pasukan Pengaman Presiden yang bertanggung jawab langsung ke Panglima ABRI, bukan tugas Anda.”

+ ”Presiden apa Anda ini? Anda naif,” jawab Prabowo dengan nada marah.

- ”Masa bodoh. Saya presiden dan harus membereskan keadaan bangsa,” jawab Habibie.

Atas nama ayah dan mertuanya, Prabowo meminta Habibie agar ia tetap menguasai pasukan selama tiga bulan. Habibie menolak. Prabowo menurunkan permintaannya menjadi tiga minggu, tapi Habibie berkukuh menampiknya.

Di tengah perdebatan sengit itu, Sintong Panjaitan masuk dan bilang:

+ ”Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak. Harap segera meninggalkan ruangan.”

- Habibie mencegahnya: ”Sebentar,” ujarnya.

Prabowo meminta tempo untuk bicara lewat telepon dengan Wiranto. Habibie setuju. Seorang ajudan menelepon Wiranto, tapi tak bersambung. Untuk kedua kalinya Sintong masuk mengingatkan soal kesibukan Presiden. Habibie memeluk Prabowo dan menitipkan salam untuk ayah dan mertuanya.

Pertemuan ditutup.

u u u

Kisah dari delapan tahun lampau itulah yang kini menjadi polemik. Prabowo tampil di sejumlah media membantah telah mengerahkan pasukan di luar kendali Panglima ABRI—seperti yang ditulis di buku Habibie. Kata Prabowo, saat itu semua pasukan di Jakarta dikendalikan Panglima Kodam Jaya Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin.

Sjafrie, yang kini menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan dan Keamanan, membenarkan hal itu. Tanggal 14 Mei 1998, kata Sjafrie, Panglima ABRI memberi mandat mengambil alih komando pasukan di Jakarta. Pasukan yang datang dari berbagai daerah juga datang atas permintaan dia. Jadi, ”Kalau ada pasukan yang tidak terkendali, dari mana datangnya?” dia menambahkan.

Beberapa jenderal dari lingkar dalam peristiwa 21 Mei telah membuka suara kepada Tempo. Dan mereka tidak sendirian. Jika tak ada aral, Selasa pekan ini sejumlah tokoh juga akan memberikan kesaksian versi mereka di Jakarta. Di antaranya Dien Syamsuddin, Fadli Zon, dan Muchdi.

Bara dari buku Habibie tampaknya akan membangunkan banyak saksi sejarah dari tidur panjang.

Wenseslaus Manggut, Kurie Suditomo, Wahyu Dyatmika, Edo Poernomo

16 Jam Sebelumnya…

Bukan Rabu biasa. Dalam beberapa jam, berbagai kejadian penting berlangsung pada 20 Mei 1998. Sebagian menteri menolak menjabat kembali. Soeharto menyatakan akan mundur sebagai presiden. Wakil Soeharto, Habibie, harus menjadi presiden. Inilah beberapa nukilan peristiwa sepanjang 16 jam sebelum pelantikan Habibie.

Sekitar Pukul 17.00
Ginandjar Kartasasmita menelepon. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri itu mengabarkan dia dan 14 menteri di bawahnya menolak duduk kembali dalam Kabinet Reformasi yang sedang digodok.

Sekitar Pukul 19.30
Habibie bertemu Soeharto di Cendana. Usai memutuskan nama para menteri Kabinet Reformasi, Soeharto membeber agendanya: Kamis, 21 Mei, susunan kabinet diumumkan; Jumat dilantik; Sabtu ia mengundurkan diri sebagai presiden; dan Habibie akan melanjutkan tugasnya.

Dalam perjalanan pulang, Habibie mengundang rapat empat menteri koordinator dan semua menteri di bawah koordinasi Ginandjar pada pukul 22.00 WIB.

Sekitar Pukul 21.45
Habibie mengungkapkan kepada para menteri bahwa Kabinet Reformasi sudah terbentuk. Ia juga mengabarkan rencana Soeharto untuk lengser pada Sabtu dan meminta beberapa menteri yang telah menyatakan mundur agar bertahan.

Sekitar Pukul 22.45
Habibie menghubungi Presiden di tengah rapat, namun ditolak. Melalui Menteri Sekretaris Negara Saadilah Mursyid, Presiden justru menyampaikan keputusan bahwa ia akan mundur lebih cepat: besok, pukul 10.00 pagi.

Sekitar Pukul 01.00
Habibie mencoba tidur, namun memutuskan kembali ke kamar kerja hingga pukul 04.00. ”Saya menutup bantal dan guling dengan selimut, untuk memberi kesan (kepada istri) seakan-akan saya berbaring di bawah selimut tersebut.”

Sekitar Pukul 06.50
Habibie bertemu Panglima ABRI Jenderal Wiranto. Pada pertemuan yang berlangsung hingga pukul 07.25, Wiranto menyatakan telah menerima instruksi presiden yang ditandatangani Soeharto untuk bertindak demi keamanan dan stabilitas negara jika keadaan tak terkendali.

Sekitar Pukul 08.30
Habibie berangkat ke Istana Merdeka. Niat untuk bertemu lebih dulu dengan Soeharto di Cendana gagal karena Soeharto menolak.

Pukul 09.10
Habibie dilantik menjadi presiden.

Sumber: Detik-detik yang Menentukan. Dan Tempo Interaktif

hayo…. mana yang jujur???

Apa kita mesti mengakui bahwa sejarah dibuat oleh yang JUARA???

Bookmark and Share

I Want to Break Free

March 7th, 2006 by fahla

I want to break free
I want to break free from your lies
. . . . .
I’ve got to break free
God knows God knows I want to break free
. . . . .
I’ve fallen in love for the first time
And this time I know it’s for real
. . . . .
God knows God knows I’ve fallen in love
It’s strange but it’s true
. . . . .
But I have to be sure
When I walk out that door
. . . . .
Oh how I want to be free
Oh how I want to break free
. . . . .
I can’t get used to living without living without
Living without you by my side
. . . . .
God knows got to make it on my own
So baby can’t you see
. . . . .
I’ve got to break free
I want to break free yeah

Bookmark and Share

Johanka in Rainy March

February 28th, 2006 by fahla

Johanka, gila lu ye, dah tau rumah itu ber-anjing masih aja elu ngintip-ngintip. so pasti elu digonggoin donk… meski gonggongan itu dah merdu di telinga elu. itu karena saking seringnya elo digonggongin. elu jadi kebal jadinya.

mending khan elu duduk aja di rumah elu sendiri. rumah yang dah elu susun dari sekian lama. yang dah banyak hal yang elu lakuin tuk ngerasa bahwa elu masih manusia normal. elu masih mampu punya tempat bernaung. pundak yang hangat. dada yang padat tuk elo susuri.

tuh khan…. elu mulai ngerasain kegamangan di pikiran elo. maju enggak. mundur dah ngeri duluan. mending elo balik ke anjing elo sendiri aja. yang giginya dah sering ber-gemeretak ama gigi elo. so elo dah ngerti anjing elo khan??

menikmati itu dalam mata hati. bukan dari mata kaki.

Bookmark and Share

21 Oktober 2005

October 21st, 2005 by fahla

Buka pUasa kemaren emang bener-bener heboh.
gak peduli tuh dah tuwir pa masih daun muda.
semua sama.
sama-sama puas mencela dan dicela
hehehehe………

Semoga aye bisa konsisten
tUk menjadi tim rEPot en perot-perot.

Keluarga ini memang sungguh unik
sungguh-sungguh unik
lama gak pengen ketemu, sebel, jenuh…..
eh… gak taunya kangen banget dah lama gak saling cela.
nikmat juga pas ada kebersamaan

satu yang bagus bwat aku
dengnan kumpul-kumpul kayak semalem
membuat aku sedikit berani bermimpi
membayangkan, berharap dan sedikit berani menyusun hitungan langkah

aku bermimpi
bisa selalu berguna bwat sapa aja
gak jadi sampah (lagi)

aku bermimpi mampu berharap
aku bermimpi mampu menapak kembali
aku bermimpi langkahku lebar-lebar kembali
dan…..
aku bermimpi bisa terbang kembali

semoga semua baik-baik selalu
aku mampu menjalani ujian hidupku
aku mampu menjalani hukuman hidupku
aku mampu menjalani rintangan hidupku
aku juga mampu tuk terus tersenyum dan kaya hati dalam setiap langkah kaki dan desahan jiwa

follower is the worst…..
follower is no brain
follower is a fuckin’ idiot
follower is a damn creature…

be a leader, guys…..
be a better better human being……
day by day
one breath to the next breath……….
’til the last breath….

Amin

Bookmark and Share

20 Oktober 2005

October 20th, 2005 by fahla

Hari ini……….

Hari Kamis
Hari keenam belas puasa ramadhan
Hari ini genap setahun pemerintahan SBY (Susilo/Saya Bawahannya YusufKalla)
Sore Hari Insya Allah mo ngikut buka puasa bareng temen2 STAPALA

Hari KAmis…..
Berarti Besok adalah hari Jumat.
N hari jumat adalah the last work day for every week.
Berarti besoknya lagi 2 hari libur…… duh senengnya…..
N hari Sabtu-Minggu adalah hari keluarga nasional (menurutku seh…)
Berarti Sabtu Besok Insya Allah aku n Juli’s family mo nganter Juli’s mom tuk ke Bekasi
Nganter mom ke kakak tuk nungguin dia ngelahirin.
Sabtu Insya Allah jalan ke Jonggol trus baru ke Bekasi
Nyampe Bekasi istirahat, chat-chat dikit, n ketawa sekedarnya (puasa bo…. jaga kondisi donk…)
Trus Buka Puasa, malemnya ngobrol lagi n semoga sempet sholat taraweh jamaah.
Minggunya baru sahur n pulang deh….
N minggu sore ngaji di rumah mbak Is.
Buka puasa bareng lagi donk….. hehehhe……. ngirit euy.

Hari ini genap setahun pemerintahan SBY.
NO COMMENT
TERSERAH KALIAN MAU KALIAN BAWA KEMANA NEGERI INI
TOH KALIAN YANG AKAN DIMINTAKAN PERTANGGUNGJAWABAN ATAS AMANAH YANG ADA DI PUNDAK KALIAN DI HADAPAN ALLAH.

SAKIT, CAPEK TUK NGERASAIN DAN NGOMONGINNYA.
APA KALIAN GAK PERNAH NAIK BIS?
APA KALIAN TIDAK PERNAH MAKAN DI WARUNG?
APA KALIAN TIDAK PERNAH BELI BENSIN?
APA KALIAN TIDAK MIKIR EFEK DOMINO DARI YANG KALIAN PERBUAT????

WALLAHU A’LAM BISSHAWAB….
ALLAH MAHA MENGETAHUI….
ALLAH MAHA SABAR
ALLAH MAHA KAYA.

KALAU LAPAR, HANYA PERUTKU YANG KURANG ISI
KALAU HAUS, HANYA KERONGKONGANKU YANG TAK TERALIRI AIR

YANG PASTI, HATIKU KAYA.
KAYA DENGAN KEYAKINAN BAHWA ALLAH TAK AKAN MEMBERIKAN SESUATU YANG MELEBIHI DARI YANG AKU MAMPU.

ALLAH……
SUBHANALLAH…..
ALHAMDULILLAH….
ALLAHU AKBAR….
LA ILAHA ILLALLAH….

Sore hari ini,
Insya Allah akan ada buka puasa bersama teman-teman STAPALA
teman-teman yang merangkap sebagai keluargaku.
keluarga yang memberi penuh kehangatan
namun, kehangatan itu tlah lama aku tinggal pergi.
aku mulai berpikir bahwa aku tidak butuh mereka.
aku muak dengan mereka.
aku jijik dengan mereka.

ternyata……..
kesendirian membuatku dingin.
dingin membuatku persolan kecil menjadi penyumbat otakku.
dan kesendirian pula yang membuat aku melampiaskan sesak dan beratnya kepalaku dengan MENGGUNDULI KEPALAKU. Allahu Akbar….

semoga…..
Allah meridloi….

Inna Sholati wa nusuki, wamahya wamamati. Lillahi robbil alamiin……

Bookmark and Share

cermin hari ini

May 27th, 2005 by fahla

kalo merasakan apa yang terjadi dan kuhadapi selama ini, aku harus memahaminya sebagai suatu perjalanan hidup beserta kembang-kembang yang mesti aku petik dan nikmati. go on and go on. never say GIVE UP. dan seyakin-yakinnya aku harus memahami :
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala yang diusahakannya dan ia mendapat siksa yang dikerjakannya. : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Al Baqarah 286).

At the end words….. in my soul i have to invest that this is the good condition to make me getting better.
Amin

Bookmark and Share

Secret Of Kisses

May 19th, 2005 by fahla

Under_love_effect
Saat Anda berdua saling menatap, lalu merasakan detak jantung berpacu cepat, selanjutnya si dia merengkuh Anda ke dalam pelukannya. Bibir Anda saling berpagut, namun tiba-tiba… si dia menghentikan ciumannya. What’s wrong? Is it my breath? Say it ain’t so. Yang pasti, sikap si dia membuat Anda bertanya-tanya? “Apakah saya terlalu agresif? Atau justru sebaliknya? Lalu kenapa dia tiba-tiba ingin berhenti?

Menurut sebuah riset yang pernah dilakukan oleh sebuah website di Amerika, kemampuan seseorang mencium, dapat membuat pasangan mau berlama-lama berciuman, bahkan membuat terlena dan bersedia bercinta. Tapi jika Anda dan pasangan tidak merasakan hal ini, tentu ada yang salah. Bukan tidak mungkin, Anda atau pasangan bukan kategori a good kisser, atau bisa jadi pasangan memang tidak terlalu suka berciuman. Mana yang benar? Agar Anda tak penasaran, cek fakta berikut ini untuk menemukan jawaban yang benar.

1. Dia menghentikan ciuman ’panas’ Anda
Jika tiba-tiba si dia menghentikan ciuman Anda yang penuh gairah, dan enggan untuk melanjutkannya, maka ini adalah pertanda bahwa Anda terlalu bernafsu melakukannya. Cara ini membuat pasangan tak bisa bernafas. Solusi yang dapat Anda lakukan adalah, mencium pasangan secara lebih santai, penuh kelembutan.

2. Pasangan berhenti bernafas saat Anda menghembuskan nafas
Jangan terlalu percaya diri dan menganggap nafas Anda sesegar udara pagi. Bagamana kalau ternyata sebaliknya? Cara terbaik menyiasati agar hal ini tidak terjadi, adalah memastikan kesegaran napas sesaat sebelum berciuman. Caranya dapat bermacam-macam, Anda dapat menggunakan semprotan penyegar mulut, mengulum permen, dan selalu menjaga kebersihan oral (sikat gigi dan berkumur dengan cairan antiseptik).

3. Pasangan menjauhi bibir Anda
Setiap kali akan berciuman, pasangan seakan menghindari. Dia bahkan memilih memanjakan bagian tubuh Anda yang lain. Tak heran jika Anda bertanya-tanya tentang perilakunya ini. Jika hal ini yang terjadi, maka dapat disimpulkan bahwa teknik Anda saat berciuman memang kurang ok. Namun kondisi ini memberi keuntungan di lain sisi, karena pasangan cenderung menciumi bagian tubuh Anda yang lain

4. Si dia enggan mengawali ciuman

Berciuman dengan orang yang dicintai, dapat membuat seseorang tak memperdulikan lagi rasa malunya. Biasanya pasangan yang sangat pemalu sekalipun, dengan senang hati akan berinisiatif berciuman. Namun jika pasangan Anda tak pernah berinisiatif untuk memulai ciuman, itu artinya dia agak malas meladani ciuman Anda yang belum terasah tekniknya. Kalau begitu, mulai sekarang berpikirlah untuk memperbaiki cara Anda menciumnya. Jika perlu, bertanyalah padanya, ciuman seperti apa dan bagaimana yang ia inginkan. Dengan begitu Anda tak perlu menebak-nebak lagi kan?

5. Anda mengunyah, bukan menggigit bibirnya!
Tak peduli pria atau wanita, dia pasti suka jika sesekali saat berciuman pasangan menggigit bibirnya. Namun kadang tanpa disadari, Anda malah mengunyah bibir pasangan layaknya mengunyah permen. Keterampilan yang tidak prima ini, tentunya membuat pasangan enggan menerima ciuman Anda lagi.

6. Pasangan Anda berciuman dengan orang lain!
Selain memang si dia tak setia pada Anda, bisa jadi memang dia juga tak puas dengan ciuman Anda. Kalau begitu, segera sempurnakan teknik ciuman Anda dan buat dia menyesal telah mencium orang lain yang membuatnya tampak konyol di depan Anda.

Bookmark and Share

Rajah di Punggung Dewi Hughes

May 19th, 2005 by fahla

Hughes_si_penjahat_rumah_tangga
Akhirnya, ya akhirnya Hughes, kamu bermasalah juga dengan lelaki (itu).
Maaf kalimat di atas merupakan permintaan maaf dari sang komentator photography kepada Hughes atas kalimat yang pernah sang komentator photography tulis tentang hughes empat tahun lalu.
“Akhirnya, ya akhirnya Hughes. Kamu menikah juga dengan lelaki itu. Karena kamu tahu manusia lebih sempurna bila berdua. Makanya ada yin ada yang, ada lingga ada yoni. Agar manusia tidak selalu main pedang atau selalu adu mulut. Tapi juga siap untuk bersatu dan berpadu kasih…”
(majalah EYE Indonesia, November 2001)
Kata-kata itu sang komentator photography buat untuk melengkapi foto-foto indah Hughes yang dibuat oleh fotografer Darwis Triadi. Sang komentator photography itu ingat sebelum bertemu dengan Hughes sang komentator photography mendapat gambaran dari Mas Darwis tentang bagaimana optimistiknya manusia Desak Made Hughesia Dewi ini. “Anak ini punya something different.” Memang dengan badannya yang gemuk, Hughes tak ragu berpose dengan pundak dan punggung terbuka, lengkap dengan rajah di punggungnya.
Tato
Nyatanya Hughes memang jenis orang yang mampu menunjukkan kelebihannya dengan menceritakan cara ia keluar dari setiap masalah. Bagaimana ia diremehkan dipecat dari pekerjaan karena urusan berat badan. Makanya saat itu sang komentator photographymenulis,”Sekali lagi kesempurnaan manusia adalah pada kesadaran diri atas kekurangannya…”
Kekaguman empat tahun lalu ini masih terbawa saat sang komentator photography dalam menyikapi urusan permasalahan Hughes dengan suaminya, Achmad Hestiafin Arifin alias Avin. Sejak Hughes menangis, diputus cerai hingga banding karena urusan harta gono gini ini. Betapa malangnya manusia Hughes ini.
Sampai suatu saat sang komentator photography bertemu seorang teman dari masa lampau. Teman yang berasal dari masa di mana ketika kami menganggap laki-laki adalah kunci pembuat dan penyelesai masalah di dunia ini. Seperti yang diajarkan guru dan bruder kami. Masa di mana kami menertawakan setiap rekan (pria) yang seperti kehilangan gairah hidup karena urusan hubungan dengan kaum perempuan.
“Lu harusnya jangan menghilangkan samasekali pemikiran seperti ketika kita SMA dulu. Memang ada jenisnya cewek yang merasa dirinya super dan menganggap laki-laki hanya sebagai bagian dari kelengkapan hdiupnya. Kalau sudah begini, apa pun yang dilakukan si laki pasti salah,” kata teman ini.
Ia kemudian memberi contoh beberapa kasus yang dialami teman-teman lama kami. “Lu tahu si X? Isterinya direktur. Dia diminta berhenti kerja dan mengurus anak saja di rumah. Katanya gaji dari kantor akan diganti oleh isterinya,” katanya. Ia kemudian memberi beberapa contoh lagi, namun sang komentator photography tidak pasti berapa banyak yang fiktif karena sejak dulu sang komentator photography mengenal sosoknya sebagai seseorang yang suka melebihkan sesuatu.
Masak sih Hughes bisa dikategorikan perempuan seperti yang dikatakan teman sang komentator photography itu? Ia memang lebih berhasil dari segi karir dan finansial daripada suaminya. Namun ia ikut atau membawakan berbagai acara yang menebarkan kebaikan, selalu tampak optimistis seperti dulu dan tidak pernah terlihat putus asa dan yakin dengan pilihan hidup yang dijalaninya.
Apa hubungannya ya? Ah, tak tahulah. Bagaimana pun manusia adalah mahluk dinamis yang selalu mencari perubahan untuk perbaikan. Hughes sekarang tentunya bukanlah seperti masa empat tahun lalu saat berfoto dengan rajah di punggungnya.

Bookmark and Share